Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 13 Juli 2012

Melayu Indonesia VS Malaysia


BAHASA MELAYU: INDONESIA VS MALAYSIA

Oleh: Muhammad Baran.

Sebenarnya kalau mau jejur, bahasa Malaysia lebih kaya dalam perbendaharaan kata. Mereka kebanyakan berusaha menggunakan bahasa yang asli melayu. Beda dengan indonesia yang kekurangan perbendaharaan kata sehingga suka menjiplak istilah bahasa asing. Bahkan banyak bahasa Indonesia akhirnya tergusur dari pemakainya sehari-hari. Kata “hapus” misalnya sudah diganti dengan kata “Delete”, kata “Salin” diganti dengan kata “copy”, kata “Tempel/lampirkan” di ganti dengan kata “Paste”, kata “Batal” diganti dengan kata “cansel, kata “tetikus” yang dipakai dalam istilah komputer untuk menggerakkan kursor, diganti dengan “Mouse”. Padahal masing-masing istilah teknis di atas ada padanan dalam bahasa Indonesia. 

Masih banyak kata-kata bahasa Indonesia kemudian dilupakan dalam bahasa percakapan dan bahasa tulis, dan diganti dengan istilah asing yang katanya kedengaran lebih modern dan keren. Kita orang Indonesia memang sering merasa rendah diri bila berhadapan dengan bangsa lain, baik dalam hal pergaulan maupun dalam hal berbahasa dan gaya (life stile) juga dalam hal tradisi dan budaya, apalagi budaya dan bahasa daera yang terancam punah.

Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia jurnalistik, yang sehari-hari bergaul dengan penggunaan kata dan bahasa, saya memberikan beberapa contoh, betapa bahasa Indonesia tak lagi menjadi bahasa pergaulan dan bahasa tulis sehari-hari. Generasi kita cenderung mengagumi bahasa dan istilah asing yang sok kebarat-baratan. Berikut contoh penggunaan bahasa melayu Malaysia yang saya coba komparasikan dengan Bahasa melayu Indonesia yang lebih banyak meminjam istilah asing. 

Pendekatan yang saya lakukan adalah komparasi logika berbahasa dan sejarah pemaknaan bahasa terkhusus bahasa melayu yang sama-sama digunakan beberapa negara rumpun melayu. Maaf sebelumnya, sebagai orang indonesia yang mengunakan bahasa melayu indonesia tak bermaksud membanding-bandingkan dalam perspektif hebat atau tak hebat, tapi semata-mata membuka cakrawala pengetahuan bersama.

Berikut ini beberapa contoh:

*INDO* : Beli 2 gratis 1
*MALAY* : Beli 2 percume 1
kata percuma, itu kata melayu asli (memberi dengan cuma-cuma/gratis)
sedangkan Kata Gratis itu istila asing dari bahasa belanda yg di adopsi dari bahasa latin Gratein.

*INDO* : Kementerian Agama,
*MALAY* : Kementerian Tak Berdosa (heloo \=D/?!!)
Kata “agama” berasal dari bahasa sangsekerta yaitu “A gama/ageman” artinya Baju/jubah kebesaran. Juga berarti tidak kacau. Mana bahasa Indonesia yang asli? Nyatanya tak ada. Lagian Kementerian agama di Indonesia tak cukup menjalankan visi-misi sebagaimana mestinya.Masih mending bahasa Malaysia “Kementerian Tak Berdosa”. Lebi mendekati maksud dan tujuan agar Derpartemen tersebut lebih menjalankan visi-misi suci sebagai penjaga akidah masyarakat. 

* INDO * : Angkatan Darat,
* MALAY * : Laskar Hentak-Hentak Bumi (ga asik bgt ya :s)
Kalau yang ini, sama. Angkatan Darat itu bisa berarti mengangkat daratan. Meski kata angkatan juga berarti sekumpulan/kompi atau kelompok pasukan. Tapi tetap saja berasal dari kata “mengangkat/angkat”. Apa yang mau diangkat? Daratan yang mau diangkat? Kalau laskar/askar, lebih mendekati makna pasukan bersenjata. Meski kata ‘hentak-hentak bumi’ asing ditelinga orang Indonesia yang memang bercitarasa barat.
____________________________
*INDO* : Angkatan Udara,
* MALAY * : Laskar Angin-Angin 
Sama dengan Angkatan dan Laskar di atas. Tak ada juga beda signifikan antara Udara dengan angin. Kalaupun beda, “Udara” digunakan untuk menyatakan zat oksigen yang dibutuhkan dalam proses bernapas. Sedangkan “angin” mempunyai makna yg lebih umum, yaitu udara bebas. Jadi penggunaan kata angin sedikit lebih logis dari pada kata udara dalam angkatan udara yang berarti mengangkat udara.
______
*INDO* : Pasukaaan bubar jalan !!
* MALAY * : Pasukaaan cerai berai !!
Penggunaan kata “bubar” sebenarnya sama dengan cerai berai. Malah kata cerai berai lebih menegaskan keterpisahan individu dari kelompoknya. Kata cerai berai punya makna yang berbeda dengan kata “cerai”. “cerai” hanyalah keterpisahan antara individu dengan individu (seperti suami-istri bercerai). Sedangkan kata “bubar” artinya berhenti dari aktifitas. Misalnya sementara latihan dan kemudian berhenti. Berhenti bukan berarti STOP. Berhenti artinya tidak beraktifitas sementara waktu. Beda dengan Kata “bubar”apalagi digabung dengan kata “jalan”. Mana ada jalan bisa dibubarkan?
______________________________
*INDO* : Merayap
* MALAY * : Bersetubuh dengan bumi 
Kata merayap sama maknanya dengan bersetubuh. Hanya orang Indonesia yang menggunakannnya untuk pengertian berhubungan kelamin antar lawan jenis. Kata setubuh sebenarnya memiliki makna yang netral, sama dengan kata gaul/menggauli. Hanya –sekali lagi-kebiasaan kita orang Indonesia yang suka memelesetkan bahasa yang santun menjadi bermakna tak santun.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*INDO* : Rumah sakit bersalin,
* MALAY * : Hospital korban lelaki
Penamaan ini lebih realistis, lebih nyata dengan menyebut Hospital Korban Laki-laki (karena ibu-ibu yang melahirkan maupun gadis yang melahirkan akibat kasus perkosaan dan hamil di luar nikah)memang adalah korban keperkasaan laki-laki yg entah bertanggungjawab atau tidak. Jika di bandingkan dengan Rumah Sakit Bersalin (Mana ada Rumah Sakit Bisa bersalin/melahirkan anak?) Kata "Bersalin" itu makna sebenarnya adalah menyalin kembali/Foto copy.
____________________________
*INDO* : Departemen Pertanian
* MALAY * : Departemen Cucuk Tanam 
Kata Departemen Cucuk Tanam memang lebih terasa melayu (indonesianya, cocok Tanam) jika dibandingkan Departemen Pertanian, Karena kata Pertanian asal katanya dari Hutani (membuka hutan yang dilakukan oleh pembuka ladang untuk bercocok tanam, para pekerja ladang kemudian disebut petani/perhutani) jadi kalau mau konsisten Indonesia harus menggunakan Departemen Perhutani, bukan pertanian.
______________________________
*INDO* : Gratis bicara 30 menit,
* MALAY * : Percuma berbual 30 minit.
sama seperti kata "Gratis" di atas, indonesia hanya menjiplak bahasa orang. Kata' Bual" memang asli bahasa melayu asli yg maksudnya, bercakap-cakap/ngobrol santai. Saudara-saudara kita di Sumatra dan Kalimantan yang masih kental rasa melayunya, tak menganggap kata bual sebagai makna cerita bohong (membual-bual). Orang Indonesia saja yang menghinakan bahasanya sendiri. Lihat kamus juga.
______________________________
*INDO* : Tank
* MALAY * : Kereta Kebal
ini lebih kentara, kalau indonesia memang ahlinya menyadur bahasa orang karena keterbatasan/kekurangan perbendaharaan kata asli. "Tank" itu bukan bahasa indonesia tapi bahasa inggris. Dulu orang indonesia menyebutnya, "kendaraan lapis baja" tapi enta karena merasa rendah diri kalau pakai bahasa sendiri, makanya tak lagi dipakai. Bandingkan dengan bahasa malaysia, "Kereta/kendaraan kebal' lebih melayu dan pas, juga sesuai dengan fungsi/guna dari kendaraan tersebut yang anti peluruh/kebal peluruh.
_____________________________
*INDO* : Kedatangan,
* MALAY * : Ketibaan.
kata Tiba artinya sampai/kembali ke tempat asalnya (Tiba saatnya: sampai saatnya).Bandingkan dengan Datang artinya juga kembali. Tapi malaysia memang lebih terasa melayu tulen, dan lebih logis.
______________________________
*INDO* : Rumah sakit jiwa,
* MALAY * : Gubuk gila
Nah kalau yang ini, sama saja. Sama-sama sakit dan gila. Mana ada rumah mengidap sakit jiwa? dan mana ada gubuk yang gila? Tapi Malaysia tetap dengan “Gubuk” yang artinya hunian tempat berteduh dari terik dan dingin. Makna yang puitis.
______________________________
*INDO* : Dokter ahli jiwa,
* MALAY * : Dokter gila
Nah.. kalau yang ini, indonesia sedikit lebih waras, karena ada terselip kata “ahli” di antara kata dokter dan jiwa... Coba kalau lupa menyelip kata “ahli”, pasti sama2 tak waras…indonesia baru menang satu poin.
_____________________________
*INDO* : Hantu pocong,
* MALAY * : Hantu Bungkus
kata pocong itu dari bahasa jawa, yang artinya di bungkus kafan. lalu apa bedanya? Lagi2 malaysia lebih melayu.
_____________________________
*INDO* : Toilet,
* MALAY *: Bilik Merenung
lagi-lagi indonesia tak punya bahasa sendiri untuk menamakan tempat buang kotoran. makanya comot-sana sini. Toilet bukan bahasa asli indonesia. Masih mending kata "bilik merenung". lalu apa yg bisa dibanggakan orang indonesia?
_____________________
*INDO* : Traktor,
* MALAY * : Setrika Bumi.
ini juga sama, indonesia Tidak punya bahasa sendiri. Masih mending bahasa malaysia yang konsisten menggunakan bahasa melayu. Meski kedengarannya asing ditelinga orang indonesia yang sok kebarat-baratan dengan menggunakan istilah asing, Traktor.
*INDO* : Joystick,
* MALAY * : Batang senang.
ini juga sama, indonesia tidak punya perbendaharaan kata dalam bahasa melayu, bisanya jiplak bahasa orang. Masih mending "Batang Senang" yang rasa melayu banget. Meski kedengarannya porno bagi orang indonesia yang umumnya berpikiran porno.
______________________________
*INDO* : Tidur siang,
* MALAY * : Petang telentang
kalau yang ini, sama saja. cuman malayisia tetap kental rasa melayunya.
______________________________
*INDO* : push up
* MALAY * : perkosa bumi(waaah.nafsu amet)
Malaysia tetap lebih unggul dalam perbendaharaan bahasa melayu sebagai bahasa ibu. Bandingkan dengan kata "Push Up" yang bukan bahasa melayu indonesia. Meski kata perkosa sebenarnya berasal dari kata "Perkasa/Gagah" yang kemudian oleh orang indonesia di pelesetkan dengan "Perkosa/menggagahi" yang sangat porno.

Demikianlah beberapa contoh, dan masih banyak contoh lain yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Betapa bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan, perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan oleh penuturnya. Saya pun tak bisa membayangkan jika hal yang sama juga menimpa pada para penutur bahasa daerah. Bahkan ada penelitian yang membeberkan fakta bahwa banyak bahasa daerah yang telah punah lantaran tak lagi ada penuturnya. Semoga sebaga generasi muda negeri ini kita masih punya kepedulian untuk tetap melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Juga tetap melestarikan bahasa dan tradisi daerah yang terancam musnah.

Makassar, 13 Juli 2012...........

Selasa, 10 Juli 2012

puisi Pelangi


Warni Pelangi 

Oleh : Muhammad Baran

Pelangi 1

Ada rasa yang ingin kuungkap
Ada rindu yang ingin kubagi
Pun ada cinta yang ingin kudekap mesra

Engkau tahu…
Getar rasa, bersit rindu, pun luap cinta
Kutata apik dan kusimpan untukmu
Aku memujamu

 aku rindu senyum itu
Senyum yang kau rekat di hatiku
Membuat jantung yang rapuh
Tak cukup kuat menahan debar
Oh…tetaplah senyummu seperti itu

Rinai hujan kini tak jua henti
Masikah engkau di sana?
jangan buat aku resah

Dan kini malampun merayap gelisah
Di tepi sunyi relung
Berharap hadirmu
Menyapa serta senyum itu

Pelangi 2

Kenangan bersamamu
Kujadikan karib
dikala sepi datang menggoda
mengingatkan aku akan dirimu
engkau kupuja….

Kuberharap warnimu tak luntur
Meski musim kejam membuat pudar
Disini dihatiku…

Yakinkan hatimu
Tak akan ada tambatan lain
Di dermaga hatiku
Karena bagiku engkau berarti

Jadilah mozaik indah
 Meski Di antara himpitan dunia.
 aku bahagia memujamu

Pelangi 3

Hadirmu tak pernah alpa
Karena senyum itu selalu terbayang
Kala hujan menyisakan rintik
Oh…warnimu menawanku

Tahukah engkau?
Langit iri
meski dalam mimpi ia ingin memelukmu
Bumi meronta
meski tak sanggup, dalam nyata ia ingin membelaimu
Semesta memendam kecewa yang teramat
 meski hanya dari kejauhan, ia ingin memandangmu

Mereka berlomba melukis indahmu
Meski sadar tak cukup sempurna.
Semua mencoba menafsir warnimu
Meski sadar kehabisan kata

Ah warnimu indah….
Merah, hijau, kuning, biru, ungu
Berpadu mesra di atas kanvas kemahaan
Mewakili setiap selera keindahan
Juga segenap deret ukur harmoni semesta

Duta Tuhan

Mari Merenung Sejenak
Kiata adalah Duta Tuhan

Oleh : Muhammad Baran

Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
 Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya….

Saya teringat dengan hikayat Zu al- Nun , seorang sufi kenamaan dari persia.  Suatu hari berlayarlah Zu al-Nun  dengan serombongan muridnya dengan  sebuah kapal di sungai Nil. Tak lama sebuah perahu mendekat, dipenuhi dengan  orang-orang yang sedang berpesta dan mabuk-mabukan. Perbuatan mereka membuat risih murid murid Sang Sufi. Mereka meminta Zu al-Nun untuk berdo’a kepada Tuhan agar kapal penuh maksiat itu ditenggelamkan saja. Zu-al Nun pun menyetujui permintaan murid-murudnya dengan  menadahkan tangan seraya berdo’a: “Ya Tuhan, karena Engkau memberi  orang-orang ini kesenangan hidup di dunia ini, maka berikan juga  mereka  kesenamgan hidup di akhirat kelak,” Murid murid itu seketika terkejut mendengar doa guru agung mereka. Mestinya doa  kutukan yang diserukan, tapi malahan do’a keselamatan. Suasana hati murid murid sang sufi  bercampur aduk  atas apa yang baru saja dilakukan  guru agung mereka.
Ketika kapal tersebut semakin dekat dan para pemabuk dan tukang maksiat  itu melihat Zul al-Nun, tiba tiba saja mereka menangis  dan merintihkan penyesalan atas kekhilafannya, dan membuang barang barang hasil rampasannya dan bertaubat kepada Allah. Zul al-Nun menengok kepada murid muridnya yang belum sepenuhnya bisa  menghapus kebingungannya dan berkata: “Kehidupan yang nikmat di akhirat kelak  adalah pertaubatan di dunia ini. Kalian dan mereka  semuanya puas dengan tanpa  menyakiti siapa pun”
Demikian  sang sufi berbuat dengan landasan  belas kasih yang amat mendalam  kepada sesama, mengikuti  teladan Nabi yang meskipun mendapat perlakuan buruk dari orang-orang Qurais, beliau tak pernah berhenti  untuk mengatakan: “Ya Tuhan berilah petunjuk kepada kaumku. Mereka memperlakukanku seperti ini hanya disebabkan karena mereka belum tahu.”
Sungguh luar biasa kearifan  Zu al-Nun. Kita yang kerap mengaku sebagai orang yang beriman mestinya berusaha sekuat-kuatnya  agar bisa berbuat arif sepertinya. Kearifan yang tidak hanya didasarkan atas rasa takwa kepada Tuhan, tapi juga berusaha membumikan pesan suci Ilahi dengan menebar benih kasih sayang agar menjadi rahamat semesta alam. Manusialah yang mengemban amanat suci sebagai duta besar (khaifah) Tuhan di muka bumi ini.
Sebagai Duta Besar , manusia sejatinya menjadikan para Nabi dan orang-orang saleh sebagai suri teladan yang agung di tengah pemahaman keagamaan segelintir kita yang cenderung terdegradasi. Dimana agama terkadang hanya dijadika alat bedah untuk melegitimasi malpraktik  klaim kebenaran ekslusif segelintir umat. Kebenaran kini dianggap menjadi hak preoregatif agama tertentu dan memandang agama lain hanyalah sekte sempalan yang tidak hanya sesat, tapi juga-katanya-menyesatkan. Sebuah ironi di tengah upaya menumbuhkan rasa saling percaya dan menghargai perbedaan. Sikap arogan inilah yang kerap  menjadikan wajah agama yang  teduh dengan kedamaian  berlumur  noda.
Agaknya sebagai aktor  dalam drama kehidupan ini, kita mesti kembali memperbaiki akting  keberagamaan kita yang terlanjur terpuruk citranya di mata pemirsa-yang mungkin semakin muak dengan adegan kekerasan yang  selama ini ditontonnya. Dampak dari arogansi dan pengklaiman kebenaran -apalagi dilakukan dengan cara intoleran- menjadikan  kehidupan damai yang dicita citakan semakin jauh dari kenyataan. Kerukunan antar umat beragama kini berada pada titik yang teramat nadir. Tidak hanya skala nasional tapi juga skala internasional.
Manusia sebagai hamba Tuhan, sejatinya memahami bahwa eksistensi keberadaan mereka  adalah hanya berbakti kepada- Nya, termasuk menjalin ukhuwa dalam menciptakan kebersamaan demi sepotong kedamaian yang terancam punah itu. Satu hal yang perlu dicatat adalah sebuah ungkapan bijak yang mengatakan: “Jangan pernah kamu merasa diri  yang paling benar dan suci, karena Tuhan maha tahu siapa kamu sebenarnya.”
Sebagai bahan refleksi atas sepak terjang kehidupan kita di dunia ini, saya mengajak pembaca untuk  sejenak merenungi, sudah sejauh mana sikap tulus menerima perbedaan bermasyarakat di tengah gelombang ujian yang kerap menerpa masyarakat bangsa ini? Bangsa yang dikaruniai Tuhan dengan kemajemukan tradisi dan budaya masyarakatnya. Kemajemukan ini sejatinya dijadikan aset berharga untuk belajar dewasa dan saling menghargai-sepelik apapun perbedaan itu. Bukankah pelangi akan nampak elok bila aneka warna bersanding mesra?
Akhirnya mari coba kita maknai sebuah puisi indah karya  salah seorang budayawan negeri ini, Emha Ainun Najib yang akrab dikenal dengan Cak Nun. Puisi ini kiranya mewakili perasaan kebersamaan  kita sebagai bangsa yang merindukan kedamaian yang menjadi cita-cita hidup segenap masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Tahajjud Cintaku

 Mahaanggun Tuhan  yang menciptakan hanya kebaikan
 Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
 Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
 Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
 Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
 Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya  tak dipelihara
 Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
 Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
 Ke  mana  pun memandang  yang tampak ialah kebenaran
 Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
 Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
 Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
 Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya
Emha Ainun Najib
1988

Minggu, 17 Juni 2012

Puasa, Mudik, Balik Hode Lima


Puasa, Mudik, Balik Hode Lima


Oleh: Muhammad Baran Ata Labala 

Ina-ama, kaka-ari, weka kae. Puasa one pi daheka. Rencana tanggal 20 wulan Juni tuun pi. Tite ata watane (muslim) puasa leron 30. Sampe lera lodo, tekan tenu dihala. Hide malu mara, ake koda medon, ake hi-gewai ata. Sembe’e terus, mengaji diaja, tai tadarus Quran sampe rema tukan. 

Lera bauk, magrib, Go peten rae lewo titen-labala, buka puasa rame-rame: tenu es tapo arin, kolak,kebose, hura bedalik, tekan tenu masam-masam.

Kame Pelajar ne Mahasiswa pia Makassar, kalau puasa dahek pe kame rindu balik lewo. Peten nolo puasa rae lewo tanah pe. Tekan tenu sampe taik dibelara te peduli hala. Puasa pia Makassar Sulawesi Selatan... ina-ama, mura-rame. Lera Bauk, dahe magrib, kame temian ne keniki-wai buka puasa. Leron gette sare-sare: Ike kenoren, dagi manu, ewang nawung, teluk, wulu masam-masam. Pokonya aja-aja .

Kalau puasa ono, Kame pelilem televisi Makassar, naranen Makassar TV, tede oras buka puasa. Pas bang magrib, rame-rame ata renu wai gula, es buah ne kue. Hmmm.... onena sare-sena. "Alhamdu...lillah, puasa pi daheka. Minggu waike tite balike lewo, mudik. Hahaha," go reuk marin nempe. 

Pia Makassarl-Bugis lewun pe ata watane omu. Kiwane tou rua hena. Mo bisa bayangkan, puasa pia pe mura rame: Lerra apuka sampe bauka, rema, rema tukan, imsak... tite denga atadiken sembeang.Nei Koda kiring (ceramah), basa kitab Quran (Mengaji)....

Reuk go hae ata kiwan, puasa hala. Rae puasa hala ra, dore buka rame-rame ne kame yang watane hehehe.... Go peten reun goe tou naran Ronal, nae ata Balikpapan-Kalimantan. Kame hama-hama turu mian di secret kampus. Kame mian pe kaje aja-aja. Mahasiswa omu di Universitas Negeri Makassar (UNM). Kebanyakan pe rae ata Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Balikpapan-kalimantan, ne Jawa. Hanya goe mehak hena ata Labala-Lembata NTT. Teman goen mayan goe, “Baran orang Flores”.

Eke dahe, Ronal (agama naen protestan) nowe hogo dore sahur rame-rame. Lerra apuka hojo buka puasa, Ronal yang sibuk, nai hope awe-kue, es buah,-untuk buka puasa. Nae juga dore buka puasa. Padahal leron pe nempe ise tebako, poara-poara.Goe pernah marin nae, “ Ama Ronal e, Tite tekan tenun biasa ara ake sembarang. Ake tenu rokok te bis oto, tempat umum. Tite hormat ata watanen puasa.” Go marin nae juga, kalo di lewo kamen di lembata pe ata watane uhe hena, tapi rae ne kiwane pe rabe tonga-sadan wekiha mela sare.

Ina-ama, opu-maki, kaka-ari, puasa ono pi daheka. Pai tite siap diri sambut Ramadhan. Agama marin, Ramadhan pe wulan senaren, wulan berkah. Ramadhan pe kesempatan tite tula amal melan, ibadah senaren. Supaja iman tite te agama pe nabe belaka, nabe kuata. Nene-Belen tenna naot marin, agama belaka pe lewotanah titen aek nabe breaka, nabe beretana.

Ina-ama, kaka-ari, opu-maki weka kae, Koda goen nempe kia. Mue ikara be tode holo koda bali. Ara go leta, pai tite sambo wulan Ramadhan pi te onek mela sare. Ake une-geni, bekke wekik bei. Toi-tonga wekik maan sare-sare, ti hogo bahe ara rua, ana opu titen murin benure ben tawa gere pe, rae dore ro mela-mela. Tite lewuk tou, labala. Tite ata kaka no ari, tai soba wekik taan dike-dike.
Go nete lima, kai leta maaf mio wekka pe lewo tanah. Doa mio go harap, koda-kiri mio go pile pepa, ti go kette kaan pana laran, ti go pehen kaan gawe ewan. Ia ata lewotanah. Me seba kerja balik geleka lewotanah.

SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN. MINAL A’IZIN WAL FAIZHIN. MAAF LAHIR-BATHIN…

Sabtu, 16 Juni 2012

Puisi


I'am sory TUHAN 

Maaf TUHAN, kami terlalu sibuk

tak sempat mengingat-Mu 

Maaf TUHAN, terlalu banyak kerja yang mesti kami selesaikan
kami tak cukup waktu memenuhi undangan-Mu 

I'am sory TUHAN, musik kehidupan terlalu merdu
untuk kami tinggalkan guna menyahut panggilan-MU

Maaf TUHAN,
sekali lagi maaf
kami terlalu sibuk
tak ada waktu untukmu

Mohon tanggapan-Mu Tuhan,
tapi secepatnya
kami tak punya waktu untuk menunggu

Maaf, kami terlalu sibuk TUHAN

by Hambamoe Azzacadabra...

Bahasa Lamaholot- Labala

BELAJAR BAHASA LAMAHOLOT-LABALA:
TENTANG B
ILANGAN


Sekarang tite belajar bahasa labala-lamaholot. buat mio yang mie di ata lewun lela-lela kaepe, supaya mio bai gelupam bahasa titen hala, goe ingin berbagi pengetahuan tentang bahasa lewotanah. 

Pertama, tite belajar kata bilangan menurut bahasa lamaholot-labala. kata bilangan dalam bahasa Lamaholot hampir semuanya sama meski berbeda dialeg, termasuk flores timur, adonara, solor atau versi Ile Ape. Kalau kita perhatikan, beberapa bilangan dalam bahasa Lamaholot punya kesamaan dengan bahasa-bahasa lain di Nusantara. Ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya bahasa-bahasa yang ada di tanah air masih punya "kedekatan" meskipun tetap berbeda dan unik.

1 = tou
2 = rua
3 = telo
4 = pa (pat)
5 = lima (lema)
6 = nem (nemu)
7 = pito
8 = buto
9 = hiwa
10 = pulo

11 = pulo nong tou = pulo tou
12 = pulo nong rua = pulo rua
18 = pulo nong buto = pulo buto

[Keterangan: kata NONG/NE sama dengan DAN atau DENGAN dalam bahasa Indonesia]

20 = puluh rua
21 = puluh rua ne tou
25 = puluh rua  ne  lema
28 = puluh rua  ne  buto
30 = puluh telo
40 = puluh pa
70 = puluh pito
80 = puluh buto
80,5 = puluh buto  ne  papa
94 = puluh hiwa  ne  pa

100 = ratu tou = teratu
101 = teratu nong tou = ratu tou  ne  tou
200 = ratu rua
300 = ratu telo
500 = ratu lema
563 = ratu lema puluh nemu  ne  telo

589 = ratu lema puluh buto  ne  hiwa
700 = ratu pito
900 = ratu hiwa
964 = ratu hiwa puluh nemu  ne  pa

1.000 = ribu tou
2.000 = ribu rua
14.000 = ribu pulo  ne  pa
50.000 = ribu puluh lema
15.000 = ribu pulo  ne   lema

60.234 = ribu puluh nemu ratu rua puluh telo  ne  pa
100.000 = ribu teratu
200.000 = ribu ratu rua
250.000 = ribu ratu rua puluh lema
258.000 = ribu ratu rua puluh lema  ne  buto

1.000.000 = juta tou
2.000.000 = juta rua
5.000.000 = juta lema
5.500.000 = juta lema ribu ratu lema
5.550.000 = juta lema ribu ratu lema puluh lema
5.555.000 = juta lema ribu ratu lema puluh lema  ne  lema

6.000.000 = juta nemu
10.000.000 = juta pulo
11.000.000 = juta pulo tou

CONTOH KALIMAT

Go arik (ata) telo.
Adik saya tiga orang.

Muhammad Baran he (ata) hiwa, anaken (ata)  pulon buto .
Muhammad Baran istrinya sembilan, anaknya delapan belas.

Kabupeten pi sulawesi selatan puluh rua ne rua.
Kabupaten di sulawesi selatan ada 22.

Ata diken pi Sulawesi Selatan juta puluh rua reine/raingen.
Penduduk Sulawesi Selatan 20 juta lebih.

Nolo propinsi pi Indonesia puluh rua nong pito.
Dulu provinsi di Indonesia ada 27.

Presiden Soeharto prentah tite tun puluh telo nong rua.
Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun.






Di sesuaikan dengan bahasa labala
Sumber:

http://hurek.blogspot.com

Onem Ake Kuran


Ina, Moe Onem Ake Kuran

Oleh: Muhammad Baran


ibu beri aku cinta mu

biar tak penuh utuh

sebelum senja menuju

tetap kusetia menunggu 


ibu, mungkin baktiku tak penuh utuh

sebelum maut merenggut

beri aku restumu


ibu, kini kutahu

bahwa di setiap doamu

namaku kau sebut selalu



Ibu,masa kecil masih kukenang selalu. Kau menuntun tangan kecilku, mengajariku berjalan dan berlari di pantai, juga di jalanan kampung kita, Labala.


Aku teringat suatu hari kau memarahiku. Ketika menjelang magrib, aku masih asyik bermain bersama teman di Pantai Wailolon. Kebetulan sore itu laut lagi surut dan pantai berpasir. Banyak anak-anak kampung yang asyik bermain. Anak-anak yang remaja asyik bermain bola. Sedangkan saya dan teman-teman yang masih kecil bermain londos (berselancar) dengan menggunakan keleppa tapo (pelepa kelapa yang sudah dipotong bagian atas untuk kau-atap rumah).


Sebagai ibu yang baik, kau mencariku ke mana-mana, bertanya kepada keluarga dan tetangga di sebelah rumah. "Ina-ama, mio moi ana goen hala?," tanyamu kepada setiap tetangga yang kau temui. kau mencariku keliling kampung Luki-Pantai Harapan.


Hingga akhirnya kau mendapatiku lagi asyik bermain londos bersama teman di Pantai Wailolon yang indah itu. Kau memanggil dan menggendongku pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, dari kejauhan suara azan berkumandang dari mesjid as-Shamad Luki (sekarang sudah diganti namanya menjadi al-Hijrah, dekat kantor desa yang baru di bangun itu)


"Ana goen, puken aku rema pi bauk kae pe mo peten balik lango dihala?,” demikian suara lembutmu mengingatkan kelalaianku. Ah waktu itu aku masih kecil Ibu, masih kelas II SD Inpres Luki, sehingga kata-katamu tak kuhiraukan. Sesampainya di rumah, kau mengganti pakaianku yang basah dan mengeringkan badanku dengan nowing (sarung tenun daerah).


“Ana goen, moe amam pe nai doan, lau Sabah. He goe mehak hena jadi gerie mio. Mai irem pe, pete seru lampu hoto lango,” demikian kudengar kata-katamu begitu lirih, begitu lembut. Di antara cahaya temaran lampu pelita malam itu, kulihat matamu berair. Satu-satu bulir airmatamu jatuh ke tanah. 


Ibu, waktu itu aku masih kecil. Tak tahu pedih-perih hati seorang wanita yang ditinggal pergi suami. Seorang diri mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Seorang diri ibu. Tanpa suami yang lama pergi jauh merantau tanpa kabar dan berita.
 


Ibu, masih banyak kenakalan masa kecilku yang kerap membuatmu menangis. Bahkan kau pernah bersitegang dengan salah seorang warga kampung yang marah-marah karena kenakalanku. Masih ingatkah ibu? Karena ulahku, pernah ada warga kampung yang datang ke rumah dan marah-marah lantaran saya dan teman-teman serampangan saja menebang au (bambu) di kebunnya. Kata warga kampung itu, au puke yang susah payah ditanam di kebunnya, di pinggir wai belehe, kutebang ramai-ramai bersama teman.
 


Waktu itu aku juga masih kecil ibu, kelas IV SD. Di satu sore, sebagaimana kebiasaan anak-anak kebanyakan di Labala, saya mengajak teman-teman di kampung untuk pergi mencari wuru witi (pakan ternak) di kebae. Karena waktu itu nue lerrehe (kemarau) ,  tak ada daun hijau yang kami dapati untuk wuru witi. Tiba-tiba ada seorang teman yang mendapati serumpun bambu yang hijau di pinggir wai belehe. Rumpun bambu itu pun kami tebang ramai-ramai. Daunnya kami bagi sama rata untuk wuru witi, batangnya juga kami bagi untuk dibawa pulang.
 


Betapa nakalku waktu itu ibu. Tapi kau tak memarahiku. Malah kau mati-matian membelaku di hadapan warga kampung yang marah-marah itu. Bukan berarti kau merestuiku melakukan perbuatan tercela itu. Sama sekali bukan.  Semua pembelaan itu kau lakukan  karena menurutmu, aku masih kecil dan belum tahu apa-apa.
 


“Maaf ama, ana goen pe masih kre-kre wa. Nae watik sama noi alus ne daten wa. Ana goen balik be go kode tena naoso,” demikian kata-kata pembelaanmu untukku di hadapan warga kampung itu. Aku yang melihat warga kampung itu datang marah-marah, hanya bisa bersembunyi di balik pohon pisang yang gelap di samping rumah.


 
“Ana goen e,  puken aku ge mo pana mai ata duli-pali ? Duli titen take,pali titen kuran, ara goe bai huda  mo mai tebajak hala,” ujarmu kepadaku setelah tetangga itu pergi. Aku hanya bisa menangis, sejenak menyesali kenakalanku. 


Ah… kasih sayangmu Ibu begitu tulus. Untukku, buah hatimu. Tapi apa yang bisa kubalas? Hanya airmata. Maafkanlah anakmu ini. maafkanlah.
 


Satu pesanmu yang tak pernah kulupakan hingga kini ibu, “Ana, mo pana doan pe jaga leim-limam. Ake ne lekkot, ake ne bolaka.” Pesan ini yang selalu terngiang, ti go kette kaan pana laran, ti go pehen kaan gawe ewan. Lau sina, lali jawa.

Terima kasih ibu, terima kasih atas segala pengorbanan untukku. Budi moen go balas kewan hala, jasa moe go pate bisa hala. (**)

(pengalaman masa kecil dulu…
nun di kamponge…
Labala-Luki Pantai Harapan)

Labala,
Tanah bala matan
lewo wutun te pelate,
tanah watan te gelara
peten go gelupak hala
sudi go kelobot kuran.