Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 17 Mei 2013

Relatifitas Kebenaran

Relatifitas Kebenaran

Oleh Hamba Moehammad

kita sering  membincangkan kebenaran. bahkan kita kerap mengampanyekan penting dan perlunya kebenaran. karena sebagai jamaknya, kebenaran  yang dalam istilah agama dikenal dengan al-haq, dianggap memiliki nilai luhur atau kemuliaan.

lawan atau musuh dari kebenaran adalah kebatilan. di sini kita menganggap kebatilan mengandung nilai-nilai destruktif. daya yang merusak. dengan demikian  dia harus dijauhi, bila perlu dienyahkan.

tapi  apakah mungkin kebatilan bisa dienyahkan? lebih tepatnya, bisakah kebenaran diceraikan dari kebatilan?

untuk mengetahui atau mengenal sesuatu, apalagi  sesuatu  yang normatif, kita juga harus berlaku adil. maksudnya, kita juga sepantasnya memperlakukan dua hal yang kontradiksi untuk diperbandingkan. termasuk menjadikan kebatilan sebagai pembanding  sesuatu yang kita anggap benar. bukankah untuk mengetahui terang, kita juga harus mengenal gelap?

semua pahaman dan keyakinan kita akan kebenaran hanyalah upaya maksimal kita dalam menemukan kesempurnaan. termasuk pahaman dan keyakinan kita akan kebenaran yang bersumber dari  Tuhan sendiri.

kita hanya bisa menemukan kebenaran itu, manakala segenap kemampuan dan wawasan kita memenuhi standar kualifikasi kelayakan. itu pun tak menjamin pencarian kita  sampai pada tahap final menemukan kebenaran yang utuh, yang sejati.

upaya kita dalam memahami dan meyakini dalam mencari kesempurnaan barangkali tak sepenuhnya utuh dan tuntas. karena kebenaran  itu bersifat relatif. apa pun bentuk dan jenis kebenaran itu. termasuk, sekali lagi, kebenaran dari tuhan sendiri.

satu-satunya kebenaran sejati, kebenaran yang mutlak adalah tuhan. karena dia, sebagai mana bahasa kitab suci, adalah hakikat kebenaran. tapi bila kebenaran itu keluar dan terpisah dari hakikat tuhan, maka kebenaran menjadi relatif. dengan sendirinya kebenaran memiliki ruang untuk di perdebatkan.

akhirnya, meyakini kebenaran, berarti pula menyadari setiap jengkal kemungkinan kesalahan sebagai perbandingan.  ketika kita tak menjadikan kesalahan sebagai pembanding dari kebenaran, bohong belaka jika kita mengklaim mampu  menemukan hakikat kebenaran itu.

kita (manusia) memang selalu diperhadapkan dua hal yang paradoks untuk menemukan dan kemudian menentukan pilihan. termasuk menemukan dan menentukan kebenaran akan kebenaran itu sendiri. kebenaran yang relatif, kebenaran yang nisbih itu. (HM)

Rasa Peduli Telah Pergi

Ketika Rasa Peduli Telah Pergi

Oleh Hamba Moehammad

Kata Albert Enstein, dunia adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak peduli.

Enstein mungkin benar. bagaimana pun juga, maraknya kejahatan yang meraja lela di dunia ini karena kita kehilangan kepedulian. kepada sesama, kepada lingkungan, bahkan dengan Tuhan sekali pun kita tak lagi peduli dengan perintah dan larangannya.

kepedulian kita perlahan anjlok hingga ke titik yang teramat nadir. kesibukan berburu di medan persaingan membuat kita kehilangan rasa peduli. tak ada waktu untuk sekadar jedah, tak ada batas untuk selesai. kita berpacu bak roda gila. menggilas semua kesempatan kita untuk peduli.

Kesibukan inilah barang kali  yang menjadi salah satu pemicu betapa kita tak lagi saling peduli. yang ada di pikiran kita hanyalah bagaimana cara menyingkirkan, menghalau,  dan mengusir paksa orang-orang yang disinyalir berpotensi menjadi pesaing kita. di arena tikai dan seteru. lain tidak.

serta merta pikiran kita pun tersita. tenaga kita tersita.  bahkan cinta kita pun tersita. nyaris tak  ada lagi ruang kepedulian. habis hanya untuk memenuhi dan memuaskan keinginan dan ambisi. tapi apakah ambisi dan keinginan  bisa dipuaskan?

kepedulian kini menjadi barang langka. nyaris punah dari hati dan pikiran kita. kalau pun masih ada, keberadaannya disertai pamrih, mencari untung semata.

yang tulus, yang lurus, dan yang mulus, hanya menjadi hiasan kata kala berkhutbah. selebihnya menjadi catatan dalam kitab yang tertata apik daam arsip museum sejarah. tertutup debu zaman yang semakin kelabu. (HM)

Lupa Ingatan

Lupa Ingatan

Oleh Hamba Moehammad

ketika saya menyebut kata "lupa"  dan "ingat", apa yang terbayang dalam benak anda? 


lupa dan ingat; dua kata yang sering kita salah kapra ketika berusaha memahaminya. kita kesulitan menempatkannya dalam konteks. malah sering memelesetkannya.

pemelesetan yang paling terkenal dan sering kita dengar bahkan kita sebut adalah "lupa ingatan". apa sebenarnya makna dari kalimat ini? dua kata yang sebenarnya bertentangan nakna, namun dipaksakan bersanding mesra  untuk sebuah makna yang sama sekali berbeda.

jangan bilang kalau kita adalah orang-orang yang berbaik hati menciptakan perdamaian termasuk mendamaikan  kata "lupa dan ingat menjadi "lupa ingatan" itu. ah betapa absurdnya.

sampai hari ini saya masih kebingungan mencerna kalimat "lupa ingatan" ini. mungkin maksud awalnya adalah  terjadinya kepikunan yang disebabkan umur yang sudah sangat uzur atau penyakit tua.

tapi entah mengapa kalimat ini kemudian berkembang maknanya untuk menggambarkan seseorang yang tak lagi waras. jangan-jangan kita memang sudah tak lagi waras sebagaimana maksud kalimat itu. hanya Tuhan yang tahu.

ingat artinya berada dalam pikiran atau tidak lupa. ingat juga berarti timbul lagi dalam pikiran. ingat juga berarti sadar  dan memikirkan sesuatu.

sedangkan lupa artinya lepas dari ingatan atau tidak dalam pikiran. lupa juga berarti  tidak teringat atau tidak sadar, tidak sadar akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya. lupa juga berarti lalai.

pada intinya, ingat artinya tidak lupa, dan lupa artinya tidak ingat. luar biasa. begitu mudanya kita mempermainkan makna kata-kata dengan hanya membolak-baliknya, kita sudah mendapat pahaman terhadap kedua kata ini.

terlepas dari pengertian secara harfiah kedua kata di atas, ingat dan lupa tidak bisa diartikan atau ditafsirkan secara parsial. pengertian dan pemaknaannya harus sesuai konteks.

meski pada kenyataanya , kita sering memahami kata ingat selalu berhubungan dengan hal-hal yang positif. sedangkan kata lupa selalu dihubungkan dengan hal-hal yang negatif.

dalam konteks sosial, ingat artinya peduli. memikirkan atau punya kepekaan sosial yang tinggi kepada sesama. bentuk kepedulian ini bisa berupa memberikan pertolongan atau bantuan kepada sesama yang membutuhkan.

sedang lupa justru sebaliknya. kata ini sering diasosiasikan dengan perilaku  tak membalas budi atau jasa baik. orang mengenal istilah, kacang lupa kulit, artinya, perbuatan seseorang yang tidak tahu berterima kasih. dan masih banyak lagi ungkapan yang cenderung menganaktirikan kata lupa dalam kamus berbahasa kita.

di sini ada kebajikan yang di semai dari pemaknaan kedua kata ini; lupa dan ingat. dengan sendirinya ada kenangan dan nostalgia, buah dari ingat dan lupa dalam konteks manusia dan kemanusiaan . bukan malah memelesetkannya sehingga membuat kita menjadi orang yang "lupa ingatan" kepada segenap kebajikan kata; termasuk lupa dan ingat-yang dikaruniakan kepada kita. (HM)

Matahari, Bulan, dan Kau

Matahari, Bulan, dan Kau

Oleh Hamba Moehammad

Malam yang dingin. Hanya suara ombak yang pecah gelisah di pinggir talut pantai. Juga bising kendaraan di jalan kota yang sibuk.  Sementara kita hanya diam di atas coran  beton talut Pantai Losari. Masing-masing kita coba mereka kata yang pas untuk memulai pembicaraan. Hujan masih saja gerimis, dan kita masih di sana.

"Kau tahu? Aku mencintai tiga hal di dunia ini," aku coba memecah kesunyian. Kulihat kau terkejut. Dan coba mencerna kata-kataku barusan.

"O ya? apa itu?" kau bertanya dengan suara gemetar dan wajah yang bersemu merah.

"Aku mencintai Matahari, Bulan, dan Kau," kataku dengan suara mantap. Kali ini lebih berani seperti tanpa beban. Belum habis rasa penasaranmu, aku melanjutkan, "Matahari untuk siang, Bulan untuk malam, dan Kau untuk selamanya."

Kau hanya tersenyum menatapku. Menurutmu, sebagai lelaki pendiam, aku terlalu pandai merayu. Atau aku memang tipe lelaki yang selalu menyenangkan orang lain, termasuk kau. Atau jangan-jangan.... Ah untuk saa ini aku tak peduli seperti apa penilaianmu.  Aku hanya ingin melihat kau tersenyum. Menurutku, kau wanita yang memiliki senyum paling manis. aku tak dusta. sungguh.

Tapi itu dulu. Saat kita masih bersama. Waktu itu malam minggu. Kau masih ingat kan? Pantai Losari adalah tempat vaforit kita. Di sana kita saling bertukar kisah. Menceritakan apa saja yang ingin kita ceritakan.

Entah mengapa, kita tiba-tiba saling bertanya:  Akankah gerimis ini segera berlalu dan memberi jedah untuk kita  menyulam tangkai-tangkai kebersamaan, merangkainya menjadi bebunga kerinduan?

Aku tak tahu.

Tapi itu tak masalah.

Sejenak kita saling bersitatap. Meletakkan pandangan dalam perasaan masing masing.

Hujan masih saja merintik. Di seberang jalan, gemerlap lampu masih setia. Ditambah lanskap kota: Gedung gedung yang menjulang, jejeran gerobak para penjual pisang epe,  lapak-lapak pedangang kaki lima yang remang,  penjaja buah-buahan,  restoran dengan  taburan lampu kelap-kelip,  pasangan muda-mudi  berjalan lambat sambil bergandeng tangan, bocah-bocah pengamen menenteng gitar menjajakan beberapa judul lagu romantis kepada pasangan muda-mudi yang memadati anjungan pantai, juga tukang parkir yang tengah sibuk menagih ongkos parkir.

Dan kau mulai bercerita soal bulan purnama itu. (yah bulan purnama yang kemudian merenggut kebahagiaan itu).

Bahwasannya pada suatu malam minggu yang ceriah,  kalian pernah duduk berdua di halaman rumah di kampung. Zaky,  suamimu yang katamu pria blasteran Arab-Makassar. ( aku membayangkan bentuk wajah blasterannya itu. Barangkali dia mirip Reza Rahadian, sang pemeran BJ Habibie dalam film "Habibie & Ainun" ). Dan katamu kemudian,  bulan purnama muncul dari rerimbunan pohon akasia di depan rumah kalian.

Katamu, Zaky terpesona melihatnya. Katanya, dia baru pertama kali melihat  bulan purnama. Apalagi bulan purnama yang indah seperti malam itu.

"Sayang, itu bulan purnama kan? Indah sekali rupanya. Aku baru pertama kali melihatnya."

"Iya, itu bulan purnama sayang. Memangnya kamu belum pernah melihat sebelum ini?"

"Belum sayang.  Aku kan dari kecil  tinggal di ibu kota. di sana siang dan malam sama sibuknya. Mana sempat merlihat bulan?"

Dan kamu tahu? Zaky memandang dengan penuh takjub, tak henti-henti sehingga seluruh sinar bulan menggenang di air mukanya. Dan tak kusangka memang, ternyata ia baru pertama kali melihat yang namanya bulan purnama. Dan dia bertanya lagi, "Apa yang kamu rasakan bila bulan purnama seindah ini sayang?" Aku sempat bingung dengan pertanyaannya. Dan kujawab saja,  aku merasa lebih tenang dan tentu saja bahagia, apa lagi bersama suami sepertimu di sampingku. (Ah cerita kemesraan seperti ini yang paling kubenci.  Cerita yang tak sudi kusimak barang sepatah kata pun). Kami diam. Untung ada penjual kue putu yang lewat di depan rumah. Kata Zaky,  ia suka kue putu. Kue kesukaan yang sering dibuat neneknya yang asli makassar. Dan tak ada lagi pertanyaan Zaky yang kerap membuatku kelabakan menjawabnya.

Permisi. Aku ingin minta ijin padamu untuk turut bergembira, mengucapkan selamat atas kebahagiaan kalian dan aku ingin mengatakan bahwa suamimu itu benar-benar lelaki yang sungguh perhatian dan romantis tentunya. Dia memang pantas menjai pendamping hidupmu.

(Meski sebenarnya aku muak dengan kebahagiaan kalian dan benci mengatakan pujian palsu ini).

Kuingat semua ceritamu: Tentang seorang pengusaha muda ibu kota yang baik hati dan tentu saja ganteng karena memiliki darah blasteran. Berlatar belakang keluarga  "Karaeng" dari garis keturunan ibu. Katamu,  dia masih punya hubungan keluarga  denganmu.

Dia masih muda dan punya daya pikat yang luar biasa. Apa lagi bagi perempuan yang menginginkan pasangan hidup yang muda, sukses, dan tentu saja ganteng. (Barangkali kriteria itu juga yang kau inginkan).

Aku menambahkan, "Meski demikian, sebenarnya ia selalu merindukan cintanya yang hilang. Menulis sajak yang drahasiakannya, dan  menyusun surat cinta yang tak pernah dikirimkan."

Kau tersenyum dengan mimik meledek.

"Lalu ia mencoba pulang, entah dengan alasan apa," katamu

(Ah kau  ini memang paling bisa membuat kupingku panas)

Dia pulang untuk sesuatu yang masih dirahasiakannya, aku menambahkan lagi.

kemuian dia bertemu dengan cintanya yang membuat penderitaan itu. Dia telah memiliki suami dan rajin bercerita tentang suaminya itu. Mulai dari awal perkenalan dengan calon mertua, hari-hari bahagia pra dan pascapernikahannya, sampai  soal bulan purnama yang tiba-tiba muncul di balik rerimbunan pohon akasia di depan rumahnya. Mereka berusaha berbagi kebahagiaan seolah tak pernah terjadi apa-apa, tak pernah mengenal satu sama lain,  tak pernah menyentuh satu sama lain.

"Apakah pertemuan itu suatu kebetulan?" itu salah satu pertanyaanmu.

"Kebetulan? Apakah itu kebetulan?" Jawabku sekenanya. "Apakah seperti koin undian yang dihempaskan ke udara oleh wasit saat pertandingan sepak bola akan dimulai, atau saat dimana kita seperti hantu jelangkung yang datang tak diundang, pulang tanpa pamit?"

"Ironis. Barangkali sudah tiada lagi tempat untukmu menyimpan  segenap kenangan dengan bait-bait puisi paling pilu. sepertinya dunia sudah sesak, sudah penuh."

"Dan tahukah kau, nestapa apakah yang paling menyakitkan dari seorang wanita sepertimu?  Adalah dilupakan. Dari hati juga pikiran.  Bahkan dihapus  dari kalimat cinta ter-absurd yang ditulis paling terakhir sekalipun."

Dan kita bungkam.  Masing-masing sibuk dengan tanya yang berkecamuk, berseliweran seperti rintik hujan yang belum juga mau reda hingga saat ini.

Dendam membara dalam tungku pembakaran salah seorang penjual pisang epe.

Aku duduk menyandarkan punggung di tiang listrik malam ini.  Masih di tempat yang sama  seperti saat kita bersama di pantai ini.  Coba menghirup angin laut  selat makassar  malam ini tanpamu.

Dan kita memang sudah lama tak menyenangkan lagi. Cahaya-cahaya lampu kapal yang datang dan pergi dari pelabuhan peti kemas Soekarno-Hatta Makassar saling berpapasan.  Sementara jalanan kota hingga larut ini masih gaduh.  Dan kita seperti melaju bersama rembesan air laut dalam pori-pori  talut beton Pantai Losari.  Lagu-lagu cinta dinyanyikan bocah-bocah pengamen semakin membuat pasangan muda mudi yang duduk berjejer sepanjang  anjungan pantai Losari, tenggelam dalam bahagia.  Bahagia yang bisa terbaca  dari senyum mesra mereka. Dan kita pun hanya bisa menahan tawa saat lirik lagu dari Naff seperti sengaja dilemparkan  oleh dua bocah pengamen kepada kita: "Seluruh cinta telah kudatangi, hanya cintamu yang kupilih. Seluruh hati telah kuselami, hanya hatimu yang kucari..."

Kita, pada hari  yang telah jadi lampau, sebenarnya pernah seperti saat ini. Bedanya, waktu itu kau bersandar di bahuku, dan kadang kau diam-diam mencuri kesempatan untuk mencium pipiku dan mengatakan: "Senyummu terlalu manis untuk seorang lelaki pendiam yang berlagak serius." (Ah tatapanmu itu memang selalu menggoda).

Dan kita mengisi kebersamaan malam minggu waktu itu dengan menebak apa-apa saja yang terjadi di antara pasangan muda-mudi lain yang tengah berbahagia.

Seorang bocah pengamen berambut pirang mendekat.  Dengan gitar butut yang ditempeli stiker bergambar seorang penyanyi Regge berambut gimbal mengenakan kuplik di kepalanya.  Dia menawarkan judul lagu yang barangkali kuinginkan untuk dinyanyikannya. Dengan tersenyum aku meminta lagu dari grup musik Ungu. Seakan   menangkap kesepian diwajahku, dia pun melantunkan sebuah lagu: "Tahukah apa yang kau lakukan itu,  tahukah kau siksa diriku..." Aku hanya bisa tersenyum menengar suaranya yang serak itu. Tapi  dengan penuh semangat ia tetap mempersembahkan lagu itu untukku.  Aku berusaha menikmati setiap syair dan tarikan melodi dari gitar butut si bocah pengamen.

(ah Cinta memang gila. Tapi hidup ini juga memang benar-benar gila. Dan kita yang menjalaninya, berusaha menyesuaikan diri dengan cinta dan kehidupan ini).

Lampu-lampu jalanan kota masih setia. Sementara malam semakin melela. Dan jam terus berjalan. (**)

Sabtu, 06 April 2013

Tuhan: Mana Ibadahmu Untukku?

Tuhan: Mana Ibadahmu Untukku?

Oleh : Muhammad Baran

 
Selamanya mungkin kita tak sepenuhnya memahami keinginan Tuhan. Dan mungkin selamanya pula kita akan khilaf menjalankan perintah-Nya. Maka untuk menutup khilaf itu-entah disengaja-kita kerap berlindung di balik slogan “Tak ada manusia yang sempurna”. Kita seakan menyalahkan Tuhan yang tak total menciptakan kita.

Kita seakan protes kepada Tuhan karena menganggap tak diciptakan sempurna. Padahal, dunia dan segala isinya memang tak ada yang benar-benar total dan benar-benar sempurna. Dunia hanyalah ujian. Ujian atas klaim kita yang kadang dengan pongah merasa berhak dan sudah pasti memiliki surga dengan amal yang mungkin tak cukup dihitung dengan sepuluh jari tangan.

Sayangnya ketika Tuhan menagih  kita “Mana ibadahmu untukku?” kita pun gelagapan. Disini, tak jarang persepsi kita tentang ibadah hanyalah sebatas menggugurkan kewajiban. Ibadah bagi kita tak lebih hanya usaha legowo  menjalankan doktrin-suka atau terpaksa. Hingga pada titik tertentu ada prasangka, Tuhan memang butuh disembah.

Saya teringat sebuah kisah  Tuhan bertanya kepada Nabi Musa:

Tuhan: “Wahai Musa, mana ibadahmu untukku?”

Musa: “Bukankah aku selama ini  sudah sembahyang dan berpuasa untuk-Mu?”

Tuhan: “Bukan!. Itu adalah ibadah untuk dirimu sendiri (mendapat pahala). Ibadahmu untukku sebenarnya adalah ketika engkau menolong orang lain.”

Yang kerap luput dari kita adalah kebanggaan atas”prestasi” ibadah dan “prestise” iman individual kita. Sembahyang dan puasa misalnya, dianggap sudah cukup membuat Tuhan “tersenyum”, bangga akan ketaatan kita-ketaatan yang mungkin tak sepenuhnya tulus. Selebihnya kita berharap,  Dia mengganjar kita dengan surga-taman firdaus yang kita khayalkan itu.

Jika demikian, manakah makna ibadah yang sesuai ingin-Nya-ibadah yang dengannya kita menemukan cinta, dan membaginya kepada sesama? Ternyata-sebagaimana isi dialog di atas-ibadah yang sesungguhnya untuk Dia adalah ketika kita rela berbagi kepada sesama yang kekurangan dan tulus menolong yang lemah.

Itulah ibadah untuk Tuhan. Bukan sembahyang yang hanya menggugurkan kewajiban itu. Bukan puasa yang kadang diiringi pamrih itu, bukan pula haji yang berkali-kali hanya untuk mengejar titel “H” itu. Bukan, sama sekali bukan. Kata Tuhan, itu ibadah personal, sekadar mencari untung pribadi, semata mencari selamat sendiri.

Tuhan mengajarkan kita bagaimana mengaktualisasikan pesan moral ibadah dalam kehidupan nyata kita. Hidup yang kadang membuat kita alpa bahwa membahagiakan sesama, itulah ibadah yang sebenar-benarnya untuk Dia. Memang, tak jarang dugaan kita menempati ruang jawaban yang salah. Tapi walaupun demikian, kebenaran memang harus terucap, meski pahit terdengar. (**)

Terima kasih...

Terima kasih...

Namaku Hamba Moehammad...
tapi kau panggil aku; cintaku!
ah betapa banggaku dan tentu saja senang.
dengan kesenangan yang tak cukup terucap ranting
kepada arus sungai yang menghanyutkannya ke laut

aku Hamba Moehammad...
tapi kau sapa aku; kekasihku!
amboi.. ! bukan buatan bahagiaku
aku tersipu dengan segenap kenikmatan terindah
yang tak kuasa ditulis para penyair
dengan merangkainya menjadi puisi cinta terindah..

ah terima kasih... terima kasih...

Jumat, 05 April 2013

Kau Bukan Tuhan Kan?

Kau Bukan Tuhan Kan?

Aku kata kau hina. tapi kau acuh. aku sebut kau perempuan laknat. malah kau tak peduli . aku anggap kau najis. pun kau tak ambil pusing.

sama sekali kau tak hirau . kau anggap itu sekadar suara sumbang yang merasa diri paling suci.

"kau bukan tuhan kan? Kau bukan tuhan yang berhak menjatuhkan vonis. lebih tahu tuhan siapa aku," katamu.

dan ini malam minggu. kulihat kau begitu rapi . siap dengan dandanan menor. tapi bukan ke pesta kawin atau acara sukuran.

katamu malam ini kau ada janji. ketemu seorang  pelanggan di hotel berbintang . dengan bayaran yang pantas.

"inilah hidupku bung. inilah duniaku. dunia malam. sibuk dengan hiruk pikuk. tugasku melayani dan aku dibayar," katamu padaku

"tapi ini kerja dosa. agama melarang itu . apalagi kau perempuan . tak patut,"aku coba beri kau pahaman.

dosa? apa itu dosa? siapa yang dosa? suami yang mencampakan istri, apa itu bukan dosa? ayah yang  menelantarkan anak, apa itu bukan dosa? pemimpin yang membuat rakyatnya menganggur, apa itu bukan dosa? lalu pejabat yang korup, apa itu juga bukan dosa? lalu dimana bapa imam dan pendeta? mereka hanya gemar berkhotbah tanpa solusi," kau berondong aku dengan amunisi pertanyaanmu.

kau bantah aku dengan sengit. dan mulutku rapat terkatup. kau menikam ulu hatiku dengan pisau  argumentasimu. ah tak bisa kutangkis.

kau robohkan dinding kokoh imanku, yang selama ini merasa yang paling benar, yang paling suci . aku seperti petinju amatir yang kalah tarung. terkapar tak berdaya.

melihatku hanya membisu, kau pun berlalu dengan senyum sinis. penuh kemenangan tentunya. (HM)