Cerita Dari Surga
di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 16 Maret 2014
Tidak Perlu Sekolah
Selalu Begitu
"Jangan kau cium masa laluku karena waktu akan semakin menjeratmu," katamu.
Selalu begitu. Aku ke barat dan kau ke timur...
Bosan Mengingatmu
Aku bosan mengingatmu di kepalaku.
Sekali waktu tak mengapa
aku menghapusmu dari ingatanku kan?Minggu, 02 Maret 2014
Agama Kita Adalah Sepak Bola
Oleh Hamba Moehammad
Ketika kita mendengar sepak bola, apa yang terlintas dibenak kita? Bagi para penggemar fanatik olahraga ini, sepak bola adalah dua kesebelasan yang saling berjuang memperebutkan sebutir bola. Sepak bola adalah olahraga yang paling terkenal dan paling banyak memiliki penggemar di dunia, termasuk di indonesia. Di negeri ini, pelosok mana yang tak kenal sepak bola?
Saya bukanlah orang yang punya hobi bermain sepak bola, namun hobi menonton sepak bola. Terutama memelototi siaran langsung sepak bola liga-liga di eropa. Salah satu klub vaforit saya adalah FC Barcelona.
Untuk menyaksikan klub kesayangan berlaga, saya tak hanya menghimpun jadwal pertandingan dan mengikuti perkembangan berita sepak bola, saya bahkan rela tidak tidur semalaman alias begadang hingga dinihari demi menyaksikan Lionel Messi Cs beraksi. Apa dan siapa pun klub yang akan dihadapi, menang atau kalah, tidak peduli.
Berbicara sepak bola, kita mungkin punya rupa-rupa pengalaman yang mengasyikkan, juga pengalaman yang memprihatinkan. Pengalaman yang mengasyikkan adalah ketika tim atau klub kesayangan memenangi sebuah pertandingan. Ada kepuasan batin tersendiri dan tentu saja kita punya bahan untuk membanggakan klub kesayangan kepada pendukung klub lawan. Namun bila sebaliknya, maka kita akan siap mental untuk menerima celaan dan hinaan dari pendukung klub lawan.
Begitu besarnya magnet sepak bola ini sehingga banyak hal yang rela kita korbankan. Ketika Timnas Indonesia berlaga, sejenak kita tinggalkan aneka permusuhan dan pertikaian kepentingan. Terlepas dari sisi negatifnya, dalam banyak hal, sepak bola justru mengajarkan kita persatuan dan kerjasama.
Sepak bola bisa mempersatukan kita dari aneka perbedaan, entah perbedaan keyakinan, pandangan politik, perbedaan ras, dan aneka perbedaan yang kerap dijadikan alasan untuk menyulut konflik.
Sepak bola pada tataran tertentu mampu merangkul perbedaan dalam bingkai kebersamaan, hal yang belum tentu dilakukan oleh sistem kepercayaan atau agama yang mapan sekalipun. Bukankah dalam kenyataan hidup di negari ini, agama justru sering gagal mempersatukan perbedaan, malah kerap menjadi pemicu konflik?
Dengan sepak bola, para penggemarnya justru menjadi dekat dengan sesamanya. Dengan perhelatan sepak bola, manusia setara. Dalam sepak bola tak ada yang lebih unggul, lebih permanen. Sepak bola juga mengajarkan kita bagaimana berdemokrasi yang benar. Semangat sportifitas atau fair play dijunjung tinggi. Dan bagi pihak yang kalah akan legowo menerima kekalahan.
Dengan menilik betapa besar kontribusi positif sepak bola, tak berlebihan kiranya bila ada yang mengatakan, agama kita adalah sepak bola. Penyair Jorge Luis pernah mengatakan, jatuh cinta adalah penciptaan sebuah agama dengan dewa yang bisa salah. Sepak bola adalah sebuah upacara pemujaan dengan dewa yang bisa kalah.
Hidup , kata Goenawan Moehammad, bisa menembus ketidakmurnian dan keruntuhan yang lain, ketika kita sanggup menyambut apa yang asyik, dengan cara yang bersahaja tanpa merasa dibebani dosa.
Mungkin itu sebabnya manusia terutama yang menggemari sepak bola rela melakukan apa saja untuk ikut serta dalam sebua upacara dan pemujaan bersama tanpa Neraka dan kutukan yang mengancam. Juga tampa yang lain yang dibenci. Dan itu bisa kita temukan dan saksikan lewar permainan sepak bola. (**)
Kamis, 27 Februari 2014
Siapakah Kita Sebenarnya?
Pertanyaan dari judul di atas, "Siapakah Kita Sebenarnya?" kiranya menjadi refleksi bagi siapa pun. Kerap dalam keseharian, kita begitu lalai mempertanyakan bahakan sejenak merenungi siapa diri kita, apa tujuan-tujuan hidup kita dan kepada siapa tujuan-tujuan itu kita haturkan.
Kesibukan kita mengejar materi yang kita kira bisa mengekalkan harapan dan impian kita, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kelalaian kita merenungi pertanyaan di atas. Tak heran bila kemudian kita kadang merasa hampa meski hidup bergelimang materi, keseharian kita berlalu terasa tanpa makna meski banyak sekali hal yang telah kita perbuat.
Ada hal yang terlewati dari hidup kita, ada sesuatu yang selama ini terabaikan karena kita menganggapnya tak terlalu penting atau malah kita menganggapnya sama sekali tak penting yaitu mengenal diri kita sendiri.
Bukankah ada dikatakan: siapa yang tak mengenal dirinya, maka tak kenal pula Ia akan Tuhannya? Artinya, siapa yang tak mengenal dirinya, maka bohong belaka bila dia mengaku-ngaku telah mengenal dengan baik Tuhannya.
Jadi, Siapakah kita sebenarnya? Banyak definisi dan teori yang telah dicoba untuk mengetahui dan mengenal siapa kita sebagai manusia, makhluk multi dimensi ini.
Bagi mereka yang mengagungkan dimensi spiritualitas akan memaknai manusia dengan idiom-idiom khas ketuhanan atau agama. Bagi mereka yang memuja humanisme barangkali akan memaknai menusia dengan diksi-diksi kemanusiaan. Bagi mereka yang beraliran materialis akan memaknai manusia dengan slogan-slogan kebendaan dengan menafikan Tuhan dan lebih ekstrim, menafikan semesta hati dan jiwa atau hal-hal yang bersifat rohaniyah.
Kita percaya, bahwa manusia tidaklah semata makhluk spiritual, humanistik, ataupun materialsitik. Manusia adalah sesuatu kompleksitas yang tak cukup tuntas untuk didefinisikan dan dipahami sebab selalu ada dimensi yang terlewatkan setiap kita bertutur tentang manusia.
Ketika kita hanya menempatkan manusia sebagai makhluk religius saja, nyatanya kita sebagai manusia butuh makan, uang, rumah, teman dan tatanan sosial. Ketika kita menilai manusia sebagai makhlik sosial-humanistik saja, nyatanya kita butuh Tuhan dan wahyu kitab suci untuk menjawab keliaran imajinasi-imajinasi kita tentang kehidupan yang tak terfisikkan. Juga memahami manusia sebagai makhluk material belaka, faktanya kita tak bisa menghindar dari rasa kecewa, sedih, marah saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita.
Begitu juga kita sangat yakin, agama atau kebajikan spiritual apapun diturunkan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sebagai manusia. Intinya adalah manusia dan sudah pasti bukan Tuhan. Sebab Tuhan tanpa perlu kita tuhankan tetaplah Tuhan dengan segenap kebesaran dan keesaan-Nya. Maka agama, kebajikan spiritual, atau kultus-kultus religi apapun yang tidak menempatkan manusia sebagai tema utama hanyalah kepalsuan belaka alias omong kosong saja.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah berbicara tentang renik-renik yang meliputi kehidupan manusia otomatis meliputi pemahaman tentang Tuhan, jiwa, emosi, sosial, dan materi sekaligus. Mulai dari soal dilema rasa, obsesi, pilihan hidup, cinta, materi, omong kosong, ego, makna kehadiran, hingga kematian.
Jadi, siapakah kita sebenarnya? Jawabannya lebih tuntasnya kembali kepada pengalaman kita merenungi tujuan penciptaan kita, eksistensi keberadaan kita, dan lebih daripada itu, sedapat mungkin kita bisa memaknai hidup yang dijatahkan Tuhan kepada kita ini.
Selebihnya, kita mesti melarung diri dalam pergulatan kehidupan ini untuk menggali lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya. Dan bila itu juga tak bisa, maka benarlah seperti yang dikatakan oleh orang bijak, bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah tuntas dipahami. (**)
Makassar (Pondok Hijau), 21 Januari 2014
saat matahari tinggal sepenggalan di ufuk barat sana.
Kita dan Hal-hal Kecil
"Tiada impian yang terlalu besar, dan tiada pemimpi yang terlalu kecil."
Terkadang, dalam hidup kita sering kali terkecoh. Kadang kita menggunakan standar yang tidak adil ketika memberi nilai. Dan salah satu standar yang sering kita gunakan adalah "besar" atau "kecil".
Namun besar atau kecil nilai sesuatu tidak diukur berdasarkan volume atau berat tapi seberapa besar manfaat atau maslahat sesuatu itu bagi diri dan sesama kita.
Lalu apa itu "Besar" sesungguhnya dan apa itu "Kecil" sebenarnya?
Ini pertanyaan yang harus kita cari jawaban yang semestinya sebelum kita terlanjur salah kaprah memberi tafsir dan dengan pede membesar-besarkan kesalahan itu.
Menyingkirkan duri dari tengah jalan adalah hal kecil. Memberi salam dan membalas salam kepada sesama itu hal remeh. Memberi nasehat itu hal gampang. Dan masih banyak hal remeh yang sering luput dari perhatian kita karena kita menganggap, ia terlalu "kecil".
Kita memang sering terlalu sibuk atau sengaja menyibukkan diri dengan sesuatu yang kita anggap besar yang hasilnya belum tentu sebanding dan lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya berharga.
Kita memang harus berterimakasih kepada hal-hal kecil yang remeh temeh itu. Karena suatu hari, dunia melihat betapa hal-hal yang kecil itu bisa memberi makna yang berarti bagi hidup dan kehidupan kita.
Lalu apa sebenarnya itu "Besar" dan apa itu "Kecil"?
Ternyata bila kita merenung sedikit lebih khusuk, berpikir sedikit lebih mendalam, sebenarnya kita dapati bahwa yang "besar" sesungguhnya adalah keserakahan dan kesombongan kita yang nyaris tanpa batas, sedangkan yang "kecil" sebenarnya adalah rasa syukur dan puas terhadap limpahan anugerah-Nya.
Ah betapa selama ini kita benar-benar terkecoh dengan standar nilai yang menipu. Standar nilai yang bahkan kita sendiri tak kuasa memberinya definisi yang tepat. Atau jangan-jangan, kita benar-benar terkecoh dengan pikiran kita sendiri. Jika iya, betapa ironisnya kalau begitu. (**)
Makassar, 28 Desember 2013
Ketika pergantian tahun baru 2014 tinggal menghitung hari.














