Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 27 Februari 2014

Siapakah Kita Sebenarnya?

Oleh Muhammad Baran

Pertanyaan dari judul di atas, "Siapakah Kita Sebenarnya?" kiranya menjadi refleksi bagi siapa pun. Kerap dalam keseharian, kita begitu lalai mempertanyakan bahakan sejenak merenungi siapa diri kita, apa tujuan-tujuan hidup kita dan kepada siapa tujuan-tujuan itu kita haturkan.

Kesibukan kita mengejar materi yang kita kira bisa mengekalkan harapan dan impian kita, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kelalaian kita merenungi pertanyaan di atas. Tak heran bila kemudian kita kadang merasa hampa meski hidup bergelimang materi, keseharian kita berlalu terasa tanpa makna meski banyak sekali hal yang telah kita perbuat.

Ada hal yang terlewati dari hidup kita, ada sesuatu yang selama ini terabaikan karena kita menganggapnya tak terlalu penting atau malah kita menganggapnya sama sekali tak penting  yaitu mengenal diri kita sendiri.

Bukankah ada dikatakan: siapa yang tak mengenal dirinya, maka tak kenal pula Ia akan Tuhannya? Artinya, siapa yang tak mengenal dirinya, maka bohong belaka bila dia mengaku-ngaku telah mengenal dengan baik Tuhannya.

Jadi, Siapakah kita sebenarnya? Banyak definisi  dan teori yang telah dicoba untuk mengetahui dan mengenal siapa kita sebagai manusia, makhluk multi dimensi ini.

Bagi  mereka yang mengagungkan dimensi spiritualitas akan memaknai manusia dengan idiom-idiom  khas ketuhanan atau agama. Bagi mereka yang memuja humanisme barangkali akan memaknai menusia dengan diksi-diksi kemanusiaan. Bagi mereka yang beraliran materialis akan memaknai manusia dengan slogan-slogan kebendaan dengan menafikan Tuhan dan lebih ekstrim, menafikan semesta hati dan jiwa atau hal-hal yang bersifat rohaniyah.

Kita percaya, bahwa manusia tidaklah semata makhluk spiritual, humanistik, ataupun materialsitik. Manusia adalah sesuatu kompleksitas yang tak cukup tuntas untuk didefinisikan dan dipahami sebab selalu ada dimensi yang terlewatkan setiap kita bertutur tentang manusia.

Ketika kita hanya menempatkan manusia sebagai makhluk religius saja, nyatanya kita sebagai manusia butuh makan, uang, rumah, teman dan tatanan sosial. Ketika kita menilai manusia sebagai makhlik sosial-humanistik saja, nyatanya kita butuh Tuhan dan wahyu kitab suci untuk menjawab keliaran imajinasi-imajinasi kita tentang kehidupan yang tak terfisikkan. Juga memahami manusia sebagai makhluk material belaka, faktanya kita tak bisa menghindar dari rasa kecewa, sedih, marah saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita.

Begitu juga kita sangat yakin, agama atau kebajikan spiritual apapun diturunkan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sebagai manusia. Intinya adalah manusia dan sudah pasti bukan Tuhan. Sebab Tuhan tanpa perlu kita tuhankan tetaplah Tuhan dengan segenap kebesaran dan keesaan-Nya. Maka agama, kebajikan spiritual, atau kultus-kultus religi apapun yang tidak menempatkan manusia sebagai tema utama hanyalah kepalsuan belaka alias omong kosong saja.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah berbicara tentang renik-renik yang meliputi kehidupan manusia otomatis meliputi pemahaman tentang Tuhan, jiwa, emosi, sosial, dan materi sekaligus. Mulai dari soal dilema rasa, obsesi, pilihan hidup, cinta, materi, omong kosong, ego, makna kehadiran, hingga kematian.

Jadi, siapakah kita sebenarnya? Jawabannya lebih tuntasnya kembali kepada pengalaman kita merenungi tujuan penciptaan kita, eksistensi keberadaan kita, dan lebih daripada itu, sedapat mungkin kita bisa memaknai hidup yang dijatahkan Tuhan kepada kita ini.

Selebihnya, kita mesti melarung diri dalam pergulatan kehidupan ini untuk menggali lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya. Dan bila itu juga tak bisa, maka benarlah seperti yang dikatakan oleh orang bijak, bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah tuntas dipahami. (**)

Makassar (Pondok Hijau), 21 Januari 2014
saat matahari tinggal sepenggalan di ufuk barat sana.

Kita dan Hal-hal Kecil

Oleh Hamba Moehammad

"Tiada impian yang terlalu besar, dan tiada pemimpi yang terlalu kecil."

Terkadang, dalam hidup kita sering kali terkecoh. Kadang kita menggunakan standar yang tidak adil ketika memberi nilai. Dan salah satu standar yang sering kita gunakan adalah "besar" atau "kecil".

Namun besar atau kecil nilai sesuatu tidak diukur berdasarkan volume atau berat tapi seberapa besar manfaat atau maslahat sesuatu itu bagi diri dan sesama kita.

Lalu apa itu "Besar" sesungguhnya dan apa itu "Kecil" sebenarnya?

Ini pertanyaan yang harus kita cari jawaban yang semestinya sebelum kita terlanjur salah kaprah memberi tafsir dan dengan pede membesar-besarkan kesalahan itu.

Menyingkirkan duri dari tengah jalan adalah hal kecil. Memberi salam dan membalas salam kepada sesama itu hal remeh. Memberi nasehat itu hal gampang. Dan masih banyak hal remeh yang sering luput dari perhatian kita karena kita menganggap, ia terlalu "kecil".

Kita memang sering terlalu sibuk atau sengaja menyibukkan diri dengan sesuatu yang kita anggap besar yang hasilnya belum tentu sebanding dan lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya berharga.

Kita memang harus berterimakasih kepada hal-hal kecil yang remeh temeh itu. Karena suatu hari, dunia melihat betapa hal-hal yang kecil itu bisa memberi makna yang berarti bagi hidup dan kehidupan kita.

Lalu apa sebenarnya itu "Besar" dan apa itu "Kecil"?

Ternyata bila kita merenung sedikit lebih khusuk, berpikir sedikit lebih mendalam, sebenarnya kita dapati bahwa yang "besar" sesungguhnya adalah keserakahan dan kesombongan kita yang nyaris tanpa batas, sedangkan yang "kecil" sebenarnya adalah rasa syukur dan puas terhadap limpahan anugerah-Nya.

Ah betapa selama ini kita benar-benar terkecoh dengan standar nilai yang menipu. Standar nilai yang bahkan kita sendiri tak kuasa memberinya definisi yang tepat. Atau jangan-jangan, kita benar-benar terkecoh dengan pikiran kita sendiri. Jika iya, betapa ironisnya kalau begitu. (**)

Makassar, 28 Desember 2013
Ketika pergantian tahun baru 2014 tinggal menghitung hari.

Sabtu, 18 Januari 2014

Tuhan Bagiku Adalah...

Oleh Hamba Moehammad

Menurutmu, Tuhan itu seperti siapa? Maksud saya seperti siapa gerangan, bukan seperti apa gerangan.

Apakah Tuhan seperti seorang raja yang duduk ongkang-ongkang kaki dengan angkuh di atas singgahsana, yang bila hendak bertemu dengannya, mesti melewati birokrasi yang berbelit-belit?

Atau Tuhan itu seperti algojo yang selau siap menghukum dengan sewenang-wenang bila sedikit saja ada kesalahan?

Ataukah sebaliknya, Tuhan itu seperti seorang bijak yang mendapati kita yang selalu melakukan kenakalan-kenakalan dan menjewer telinga kita agar kita menyadari kesalahan?

Atau Tuhan itu seperti seseorang yang selalu tersenyum bahkan tertawa hingga kelihatan gigi-giginya ketika melihat dan mengawasi kelucuan dan keluguan kita hamba-hamba pongah yang kadang tidak tahu diri dan tak menyadari kehadiran-Nya?"

Masing-masing kita mungkin punya gambaran berbeda tentang seperti siapa Tuhan itu .Tuhan (dengan segenap kemahaan-Nya) yang kupikirkan, yang kupahami barangkali berbeda seratus persen dengan Tuhan yang kau pikirkan dan yang kau pahami. Meski mungkin kita sama berdoa dan beribadah pada-Nya di mesjid yang sama, membaca-Nya dalam kitab suci yang sama dan menelaahnya dalam ajaran hadis dan sunnah yang juga sama.

Pada kesempatan ini izinkan saya mengungkapkan persepsi dan gambaran saya tentang Tuhan meski mungkin terlalu subjektif dan sangat jauh dari kata sempurna untuk memahami-Nya.

Dan kupersilahkan kau untuk menilai persepsiku atau gambaranku tentang Tuhan yang barangkali sama denganmu, atau malah memang benar-benar berbeda sama sekali denganmu.

Tuhan bagiku, adalah sahabat terkasih. Yang selalu ada untuk menyapa dan menanyakan kabar. Yang selalu hadir untuk menghibur saat lara, dan memberi semangat untuk memanjati ketinggian mimpi-mimpi yang nyaris mustahil untuk digapai.

Tuhan bagiku, adalah kawan yang paling baik, teman bermain yang menyenangkan, karib yang selalu peduli. Tuhan bagiku, adalah kenalan terbaik, yang selalu tersenyum ramah, yang mengucap selamat ulang tahun dan tak lupa memberi kejutan hadiah.

Lebih dari itu, Tuhan bagiku adalah segalanya, semuanya, seluruhnya. Tuhan bagiku adalah yang melingkupi, yang mencakup, yang menjangkau segenap. Tuhan bagiku adalah kucuran rahmat yang tak pernah sudah, limpahan cahaya yang tak memilih-milih kepada siapa ia ingin mencurahkan kasih. Dan Tuhan bagiku adalah...

Ah tak bisa lagi kuucapkan dengan kata-kata yang kehabisan makna, mulut yang gagu, lidah yang keluh dan terbata, juga ingatan yang sudah semakin ringsek dan jasad yang payah diberangus usia.

Lagi pula, kalau tak ada Tuhan, semesta ini apa? Dan kalau tanpa Dia, aku ini siapa?

Makassar, 29 Desember 2013

Selasa, 10 Desember 2013

Surga yang Tersembunyi

Add caption

Oleh Hamba Moehammad

Kita sering mendengar, istilah "Surga yang tersembunyi" (hidden Paradise). Sesuatu yang sebenarnya ada namun belum sempat didapatkan atau ditemukan dan dikecap nikmatnya.

Meski surga kita kenal dalam literatur agama sebagai tempat dan keadaaan terbaik yang disediakan Tuhan di akhirat sebagai balasan atas kebajikan hamba-hamba-Nya di dunia, namun terkadang kata surga sering di gunakan sebagai perumpamaan akan keadaan atau tempat di bumi yang kira-kira menurut kita cukup mewakili keindahan surga yang sesungguhnya itu.

Ketika berbicara surga, erat kaitannya berbicara tentang kebahagiaan yang diperoleh kini di sini, di dunia ini. Kekal atau sementara, itu persoalan lain.

Bila hidup kita tenang, negeri kita bebas dari perilaku koruptif dan kesewenangan para pejabat, lingkungan kita aman dan damai, dengan tetangga kita akur-akur saja, membiasakan bersikap ramah dan suka menolong sesama. Maka inilah surga itu, surga yang mungkin selama ini kita abaikan karena sibuk memburu dan menyikut. Meski sekali lagi, surga ini barangkali tak sepadan dengan surga yang dijanjikan Tuhan dalam kitab suci.

Kita biasa mendengar dan membaca ungkapan, "Rumahku adalah surgaku". Surga dimana keluarga kecil hidup menabur dan menebar cinta, berbagi kasih sayang. Bila rumah tangga hidup dengan tujuan mulia, tujuan sebagaimana janji pernikahan pernah diikat, maka sebenarnya kita telah menciptakan surga kecil di dunia ini. Surga yang setiap penghuni memainkan perannya dan membangun kebahagiaanya. istri adalah bidadari keluarga, anak-anak adalah malaikat kecil yang mewarnai semarak keluarga, dan suami adalah tuan yang bijak.

Alangkah indahnya kehidupan seperti ini. Dan jika ada kehidupan seperti ini, maka untuk apa kita mencari seurga lain di luar sana yang belum tentu kualitasnya sama dengan surga yang ada dalam rumah sendiri?

Jika benar 'Rumahku adalah surgaku", jangan-jangan inilah surga yang dimaksudkan Tuhan itu. Surga yang dijanjikan-Nya kepada mereka, yang hidupnya diisi dengan hanya menabur cinta dan berbagi kasih kepada keluarga dan sesama.

Kalau begitu, cukuplah kita ciptakan kebahagiaan di rumah, di lingkungan dimanapun kita pergi, maka sejatinya kita telah menghadirkan surga yang hilang itu, surga yang tersembunyi selama ini. (**)

Makassar, 10 Desember 2013

Senin, 09 Desember 2013

Mulutmu adalah Kambingmu (Bukan Harimaumu)

blog-venus-venus.blogspot.com 

Oleh Hamba Moehammad

Ketika menjelang suksesi Pemilihan Umum (Pemilu), kita melihat di berbagai media baik cetak, online, maupun media televisi, Partai Politik (Parpol) peserta Pemilu berlomba-lomba membangun citra diri dengan memperkenalkan diri melalui tayangan iklan. Aneka jargon atau slogan yang apik siap memikat hati kita para penonton atau pembaca berita di media yang bakal menjadi pemilih.

Masih lekat dalam ingatan kita ada slogan "Katakan Tidak Pada Korupsi". Ini jargon iklan salah satu Partpol pemenang Pemilu. Bila tidak ditelisik secara mendalam, kita bisa tertipu dengan jargon politik di atas. Kata-kata terkadang diramu sedemikian rupa sehingga terdengar manis, meski dalam kenyataan, yang ada hanya kepahitan demi kepahitan.

Jargon politik di atas sebenarnya tak memiliki pengertian yang gamblang dan jelas. Maknanya kemunginan sengaja disamarkan untuk menutupi maksud terselubung. Namanya juga juga jargon politik. Orang awam mungkin memahaminya bahwa jargon di atas ingin mengajak kita untuk tidak berkompromi dengan aneka perilaku dan tindakan yang menjurus pada korupsi. Sayang realitanya, begitu banyak kasus korupsi justru dilakukan oleh kader Parpol.

Padahal mungkin saja makna sejati jargon di atas adalah katakan saja "tidak" ketika anda diduga korupsi, padahal anda memang melakukan korupsi. Atau yang lebih gamblang, jargon di atas bisa diubah menjadi, "Katakan saja tidak padahal korupsi" atau anda punya pendapat lain.

Ada lagi jargon "Suara Partai Suara Rakyat" atau "Suara Rakyat Suara Tuhan". Meski mungkin maksud dari jargon ini adalah ingin menjadi pionir dalam upaya menjembatani aspirasi rakyat dan berharap rakyat memberikan mereka kepercayaan untuk memperjuangkan nasib mereka. Rakyat adalah representasi dari keinginan Tuhan untuk memilih pemimpin yang amanah dan bisa membawa kesejahteraan. Sayangnya lagi-lagi, realitanya malah berkebalikan. Hingga saat ini rakyat yang katanya suara Tuhan, kepentingannya malah diabaikan, dianaktirikan, bahkan malah dieksploitasi untuk kemakmuran partai dan pemilik partai.

Tapi kini rakyat sudah semakin melek politik. Mereka sudah belajar dari pengalaman pahit bertahun-tahun bahwa Parpol bukan lagi sarana yang ideal untuk dipercaya memperjuangkan aspirasinya. Kini mereka lebih menjatuhkan pilihan pada sosok atau tokoh atau person yang mereka nilai bisa memperjuangkan aspirasi mereka, tak peduli dari mana asal partainya, sukunya, agamanya atau latar pribadi lainnya.

Jika para pengurus Parpol tak jelih membaca fenomena ini, maka sehebat apapun sihir jargon, tak lagi mempan bagi rakyat yang bosan dikibuli. Rakyat sudah imun dengan serbuan virus-virus jargon politik kotor.

Mereka, para pengurus Parpol harus mencari cara lain untuk merayu hati rakyat yang terlanjur putus cinta dan pengharapan terhadap rekam jejak Parpol. Jika tidak, jargon-jargon malah menjadi bumerang dan menjadi bahan lelucon semata. Kita bisa mengatakan hal ini dengan ungkapan baru, "Mulutmu adalah Kambingmu" dan bukan lagi "Mulutmu adalah harimaumu" karena terkadang "kambing" jauh lebih rewel ketika lapar ketimbang "harimau". (**)

Makassar, 9 Desember 2013

Perlukah Saya Mengucapkan Selamat Hari Anti Korupsi?

www.padangmedia.com

Oleh Hamba Moehammad

Apakah dengan mengucapkan demikian, simsalabim persoalan korupusi di negeri ini akan enyah dari hiruk pikuk keseharian kita di negeri ini? Oalah terlalu banyak perayaan dan seremoni di negeri ini. Yang kita butuhkan adalah aksi, bukan sekadar basa-basi slogan dan jargon.


Lebih baik saya mengucapkan "terima kasih" kepada mereka yang tak melakukan bahkan tak berniat korupsi, karena mereka tidak menambah pekerjaan berat untuk KPK.

Saya juga menghaturkan terima kasih kepada mereka yang telah bertobat dan berjanji untuk tidak lagi melakukan tindakan koruptif, karena selain berdosa, perbuatan koruptif juga tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga.

Lebih dari itu,saya berterima kasihkepada Tuhan Yang Mahaesa, yang hingga saat ini masih berkenan memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, keluarga dan bangsa ini, sembari berharap, semoga semua persoalan yang sedang terjadi di negeri ini, hanyalah cobaan dari-Nya, bukan azab. Amin. (**)

Makassar, 9 Desember 2013
Selamat buat anda yang merayakan Hari Anti Korupsi

Terima Kasih Kuhaturkan

dewasadewa.wordpress.com 

Oleh Hamba Moehammad

Terima kasih merupakan ungkapan rasa syukur atas segenap karunia. Terima kasih merupakan ungkapan tulus, lahir dari hati yang dipenuhi cinta. Terima kasih merupakan ungkapan balas budi meski tak setimpal.

Terima kasih adalah pengakuan keterbatasan hamba kepada Tuhan yang begitu melimpah mengaruniakan, begitu mudah memberi, begitu murah memaafkan danmelupakan kesalahan.

Terima kasih merupakan bentuk lain dari membalas budi yang mungkin tak sepadan dengan cinta yang diberikan. Terima kasih juga merupakan pengakuan atas segenap keterbatasan dan kelemahan namun tahu diri.

Terima kasih ingin kuhaturkan:

Kepada Allah yang hingga kini masih kuterima sebagai Tuhan, yang masih kupercaya sebagai tempat muara segala hajat

Kepada Muhammad Sang Nabi, tokoh favoritku yang hingga kini belum kudapati pengganti yang sepadan.

Kepada orang-orang yang menjunjung nurani dan kewarasan berpikir di tengah kegilaan yang akut, orang-orang shaleh dan sederhana yang menjadi teladan hidup manusia, yang membakar semangat untuk senantiasa mendamaikan, yang menjadi pencerah di tengah kesemrawutan, yang menjadi inspirator lahirnya kreasi kebajikan di tengah kejumudan laku dan pikiran.

Kepada kedua orangtuaku, ibu, yang menjadi wanita pertama dan cinta pertama dalam hidupku. Bapak, dengan segenap rasa cinta dan penghormatan atas jasa-jasanya. Kepada saudara (kakak dan adik) yang selalu menjadi telaga inspirasi. Juga segenap cinta ikhlas dari keluarga besarku yang tak bisa kusapa satu-satu. Hanya kepada-Nya segenap cinta dan kebajikan dibalas setimpal.

Tak lupa kepada semua yang pernah mengenalku, kepada segenap yang pernah singgah dalam hidupku. Terima kasih berlimpah kuhaturkan. Semua kenangan itu tetap terpatri dan selalu abadi di hati ini. Hanya ini yang bisa kuhaturkan dari lubuk terdalam hati. Tak lebih, dan mungkin banyak kurangnya. (**)

Makassar, 8 Desember 2013