Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 17 November 2013

Tuhan Dalam Khayalan Kita*



rasifirdani.blogspot.com
Oleh Hamba Moehammad

Terkadang saya tersenyum geli bila mendengar perdebatan teman-teman mahasiswa  atau membaca aneka tulisan yang memperdebatkan dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Dan mungkin seperti saya, Tuhan  pun tersenyum sumringah bahkan tertawa lebar akan tingkah konyol kita para  hamba-Nya yang ribut memperdebatkan-Nya dan sibuk menulis tentang eksistensi-Nya.

Meski secara pribadi saya bukanlah termasuk hamba-Nya yang taat dan penganut agama-Nya yang fanatik (saya bersyukur meski kerap lalai menjalankan perintah-Nya, tapi saya masih percaya pada-Nya hingga saat ini. hehehe), namun terkadang saya miris hati bila ada pertanyaan-pertanyaan konyol dalam perdebatan yang saya anggap cederung menghina dan melecehkan wibawa Tuhan. 

Para pendebat ini seakan-akan menggugat Tuhan yang mengklaim diri sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahasegala, Mahasempurna dan Maha-maha yang lainnya. Menurut mereka, Tuhan justru sebaliknya. Hal itu diperkuat dengan argumen dari pertanyaan-pertanyaan mereka yang terkesan logis dan ilmiah.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering saya dapatkan di antaranya: Jika Tuhan memang Mahaperkasa, bisakah Tuhan menciptakan batu yang sangat besar dan berat sehingga Tuhan sendiri  pun tak sanggup mengangkatnya? Atau pertanyaan, ika memang Tuhan itu Mahakuasa, sanggupkah Tuhan menciptakan sebuah tombak yang paling tajam yang bisa menembus perisai yang paling ampuh, dan sanggupkah Tuhan menciptakan sebuah perisai yang paling ampuh yang tidak bisa ditembus oleh mata tombak yang paling tajam sekalipun? Dan masih banyak pertanyaan dilematis lainnya

Sepintas, pertanyaan-pertanyaan di atas terkesan cerdas dan logis. Bagi mereka yang berpikir dengan hanya  mengandalkan logika semata, mereka akan tertumbuk pada pertanyaan itu sendiri dan mesti merenung dalam-dalam untuk mencari dan menemukan jawabannya.

Saya tak tahu motif dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apakah pertanyaan-pertanyaan murni dengan niat untuk melatih berpikir kritis dalam berdialektika, atau hanya sekadar menguji kadar intelektual lawan debat atau sekadar ingin terlihat intelek di mata sesama teman debat atau memang dengan niat benar-benaar ingin menggugat eksistensi Tuhan. 

Saya teringat salah seorang junior saya di kampus yang saya kenal taat beribadah pernah tersungut-sungut datang menemui saya. Dia marah-mara, dan jengkel karena merasa disesatkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas oleh para seniornya di salah satu kegiatan organisasi kemahasiswaan yang diikutinya. Cukup prihatin dan kasihan juga juga saya melihat ekspresi junior saya yang masih polos dan rada-rada lugu ini. Maklum, selain masih mahasiswa baru (maba), dia juga orang baru, baru dari kampung dan masih botak-botak pula.

Sepertinya junior saya ini (mungkin karena baru dari kampung) tak sudi Tuhan yang diimani dan ditaatinya selama ini, dihina dan dilecehkan. Makanya dia ingin mencari jawaban untuk mematahkan argumentasi konyol para seniornya itu. Namun saya hanya mengatakan, barangkali maksud dari pertanyaan-pertanyaan itu hanya untuk memancing nalar kritis kita agar senantiasa berpikir kritis, tidak menerima mentah-mentah setiap argumen dan pendapat.

Tapi jika pertanyaan-pertanyaan di atas, motifnya menggugat eksistensi Tuhan, maka perlu bahkan harus diluruskan. Pertama yanng mesti diluruskan adalah pemaknaan kita akan kata "maha" yang dilekatkan pada Tuhan. Dalam berbagai literatur keagamaan, kata "maha" memiliki beberapa sebutan di antarannya, "Sang" (Sang Hyang Widhi-dalam bahasa hindi/urdhu-Hindu), "al" (al-Malik-dalam bahasa arab-Islam), "the" (The Lord-dalam bahasa inggris-Kristen) d.l.l. 

Semua kata "maha" dalam contoh di atas memiliki makna yang sama yaitu yang paling, yang super, yang ter-dan entah apa lagi standar kata dan bahasa yang bisa kita gunakan untuk mendefinisikan kemahaan-Nya. Maha-menjadi kata yang paling tidak, bisa mewakili segenap penggambaran kita terhadap kuasa-Nya. Karena tak ada yang setara atau serupa (dalam hal apapun) dengan Dia. Tuhanlah tempat bergantung segala asa dan  hajat makhluk, tempat berharap pertolongan, muara segala tujuan. Demikian simpulan yang termaktub dalam kitab suci-Nya.

Dalam ilmu matematika, kata "maha"  bisa disebut dengan sesuatu yang  "tak terhingga". Dengan demikian Tuhan itu tak terdefinisikan. Dia tak terpermanai. Dia tak sanggup dijangkau oleh akal yang butut dan logika material yang buntu. Karena Tuhan tak menempati ruang dan waktu, pula tak tercipta dari materi (apa pun bentuk dan unsur dari materi itu). Dia tak terdiri dari unsur, senyawa, campuran dan entah apalah itu. Intinya Tuhan tak tercipta dari materi, ruang dan waktu yang terbaras ini. 

Pola Pikir yang Masih Manual

Kedua, kita harus meluruskan kembali cara atau pola berpikir kita, terutama cara berpikir kita tentang Tuhan. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang menjadi bahan perdebatan di atas, muncul lantaran pola pikir kita yang masih manual. Kita menganggap (lebih tepatnya menghayal) bahwa mekanisme atau cara kerja Tuhan sama seperti mekanisme atau tata kerja makhluk, khususnya cara kerja manusia. Dan ironisnya, kita membayangkan cara kerja Tuhan itu seperti cara kerja bapak-bapak kita di rumah. Bahkan mungkin kita berpikir, Tuhan pun berperilaku layaknya bapak-bapak kita berperilaku  sehari-hari di rumah. Mungkin dalam pikiran kita, Tuhan itu memiliki otot-otot kekar dan liat yang bisa mengangkat beban yang berat seperti batu dan pekerjaan manusiawi lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas selain sia-sia, juga bila ditelisik lebih mendalam tidaklah sepenuhnya logis. Pertanyaan pertama tentang sanggupkan tuhan menciptakan batu yang Dia sendiri tak sanggup mengangkatnya, bisa dipatahkan dengan memahami kembali definisi dari kata "maha". Jika Tuhan itu "maha" maka perbuatan menciptakan batu yang tidak bisa diangkatnya sendiri adalah perbuatan sia-sia, konyol dan menghina Tuhan. Jika hanya menciptakan sesuatu yang tak bisa dipikulnya, manusia pun bisa menciptakan bangunan atau lemari yang dia sendiri tidak bisa memikulnya atau menggotongnya seorang diri. 

Pertanyaan kedua tentang tombak dan perisai bisa dijawab dengan rumus matematika sederhana yang pernah saya perlajari waktu kecil dulu di Sekolah Dasar Inpres Luki (di kampung saya, Labala-Lembata NTT) yaitu menyelesaikan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif (+) dan bilangan bulat negatif (-). Misalnya, bila kita mengurangi jumlah bilangan yang sama misalnya 5 maka hasil pengurangannya akan kembali menjadi nol (0). Sama saja kita menyuruh seseorang maju 5  langka ke depan kemudian menyuruhnya mundur lima langkah ke belakang, maka dia akan kembali ke posisinya semula. Sama saja anda menyuruh orang itu tidak melangkah, tidak bergerak kemana-mana, tetap ditemnpat. Hal yang sama juga terjadi pada pertanyaan-pertanyaan yang diperdebatkan di atas. 

Jadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bukan sanggup atau tidaknya Tuhan menciptakan batu, perisai dan tombak itu. Tapi jawabannya adalah "tidak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas" alias pertanyaan-pertanyaan di atas tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah omong kosong, bodoh. dan hanya mempermain-mainkan Tuhan. 

Ketiga, saran saya, bila kita ingin menggambarkan atau melogika eksistensi Tuhan, maka kita harus keluar dari kungkungan materi, ruang dan waktu yang fana ini. Maksud saya kita  harus berada di alam lain. Karena selama kita masih terkungkung materi, ruang dan waktu, maka selamanya kita mempersepsikan Tuhan itu seperti materi, seperti makhluk yang memang terdiri dari materi, ruang dan waktu. Tidak bisa tidak.

Menurut saya, manusia yang hanya semata berpikir logis dengan logikanya (apa lagi ingin melogika Tuhan yang tak bisa terlogikakan),  adalah manusia primitif, yaitu manusia yang belum mencapai taraf kematangan psikologis dan spiritual sebagai insan. Insan yang saya maksudkan adalah manusia yang berpikir atau berlogika tidak hanya mengandalkan potensi akal jasmaninya saja, tapi juga melibatkan semua potensi yang ada pada dirinya, baik jasmani maupun rohani.

Manusia yang hanya berpikir dengan mengandalkan logika atau akal semata sebenarnya mereka  baru mencapai  taraf perkembangan evolusi berpikir sebagai homosapiens (manusia cerdas dengan semata mengandalkan  logika). Jika demikian, pada taraf ini kita  baru dikatakan binatang yang berpikir. Kita masih butuh waktu yang lama untuk mencapai taraf puncak berpikir sebagai insan kamil yaitu tingkatan berpikir yang sudah memiliki taraf perkembangan psikologis dan spiritual yang matang.

Akal dan segala kemampuan yang kita miliki tak cukup memberikan penggambaran tentang  Tuhan secara holistic. Maka sekadar membayangkan, apa lagi menganggap Tuhan berperilaku atau berbuat seperti layaknya makhluk, itu merupakan pola pikir yang teramat absurd dan sebuah konsep yang teramat konyol. Kita bukannya memuji Tuhan atas segenap kebesaran dan kuasanya, tapi kita malah menghina dan merendahkan-Nya. Siapa sih kita ini, sehingga begitu berani dan lancangnya kepada Tuhan Sang penguasa dan pencipta semesta, termasuk kita manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu adab dan sopan santun ini? Yah siapasih kita?

Mungkin satu-satunya pintu masuk menuju pemahaman kita akan kemahaan-Nya hanyalah dengan pendekatan iman. Iman yang senantiasa mencari dan menemukan eksistensi-Nya sampai ke batas yang tak kita sanggupi lagi. Memang, selalu ada yang tak sempurna di semesta jagad raya ini, kecuali Dia. Yah Dia.(**)

Makassar , 18 November 2013 

*Tulisan ini hanyalah persepsi penulis sendiri. Tidak harus diikuti.

Tulisan terkait: http://www.catatan-hambamoe.blogspot.com/2012/03/maha-oleh-muhammad-baran-tuhan-adalah.html 

Kau Bilang, Jadilah Pantai Yang Setia

www.indonesia.travel

Kau Bilang, Jadilah Pantai Yang Setia

Oleh Hamba Moehammad

Ingatanku kini kembali ke masa lalu. Di siang yang getir itu. Kau masih ingat Purnama?

"Apa yang mesti kulakukan bila kita dipisahkan jarak dan waktu?" Itu pertanyaanku di atas jembatan yang menjadi saksi jumpa kita terakhir kali.

"Jadilah pantai yang setia pada deburan ombak." jawabmu dengan berurai airmata. Dan semenjak itu kita tak lagi jumpa. Entah sampai kapan.

Langit muram. Dan angin berembus gelisah. 

Makassar, 17 November 2013

Sabtu, 16 November 2013

Negeri Para Maniak Gosip

delbloggolo.blogspot.com
Oleh Hamba Moehammad

Anda pernah menggosip, atau paling tidak anda pernah menonton tayangan gosip di tv-tv itu kan? Ah anda jangan coba-coba mengatakan tidak. Anda akan dianggap manusia primitif alias manusia prasejarah yang nyasar di zaman kini. Anda bahkan akan ditertawai karena dianggap manusia yang tidak up to date dengan perkembangan gosip terkini di republik ini.

Yah kita adalah makhluk unik di negeri yang diperintah oleh pemimpin-pemimpin yang juga unik. Di negeri yang dihuni spesies manusia langka yang nyaris punah. Manusia penggosip dan penikmat gosip yang andal. lebih tepatnya maniak gosip.

Tidak usa malu-malu. Akui sajalah. dari pejabat negara, sampai rakyat yang paling miskin di pelosok dusun, hampir semuanya punya kebiasaan dan kelihaian menggosip. Untuk yang satu ini sepertinya kita memang dikaruniai bakat alami oleh Tuhan.

"Hari gini, tidak kenal apa itu gosip? tTdak tahu perkembangan gosip terkini? Apa kata nenek?" begitulah barangkali nada meremehkan spesies manusia unik di negeri yang terlanjur menjadikan acara gosip sebagai menu favorit sarapan pagi dan mengidolakan para pelaku gosip sebagai panutan hidupnya ini.

Tapi biar bagai manapun gosip tetaplah gosip. Terkadang meski tanpa menggunakan menu bumbu dan resep andalan, dia selalu punya penggemar sendiri. Memang selalu ada segmentasi penikmat terhadap apa-apa yang bisa dinikmati . Misalnya, ada penikmat olahraga, ada penikmat film. ada juga penikmat rokok, penikmat narkoba, atau penikmat seks.

Anda tidak perlu malu-malu bila termasuk salah satu diantara kategori maniak. apa lagi sampai marah-marah, berunjuk rasa ke kantor DPR atau lapor polisi dengan alasan pencemaran nama baik. Lagian di negeri ini masikah tersisa nama baik?

Begitu juga dengan para maniak gosip. Ada yang menyukai rasa yang pedas bombastis. Ada juga rasa melankoli dengan drama isak tangis. ada juga yang menyukai aneka rasa; manis, asam, asin. Yang terakhir ini mungkin terpengaruh iklan permen di tv. Katanya, biar lebih rame rasanya.

Ada rupa-rupa merek gosip. Ada gosip politik. gosip kehidupan selebriti yang katanya lagi musim kawin-cerai. Ada juga gosip rumah tangga dan masih banyak lagi ragam gosip

Mereka yang punya tv dan punya uang, membuat acara sarapan gosip. Kita hanyalah penonton. Menonton geratis di layar tv. Itu pun kalau kita punya tv. Tapi dengan bakat alami yang dikaruniai Tuhan, kita bisa meniru mereka membuat acara gosip. Kadang rasa gosip kita bahkan bisa bersaing dengan para pemilik acara gosip di tv itu.

Tapi apakah menjadi maniak gosip alias pehobi gosip itu hal yang tercela? Untuk menjawab "ya" atau "tidak", mari kita harus kompromi dulu kawan. Kita harus duduk bersama untuk berembuk guna menyepakati jawabannya.

Di negeri ini (silahkan anda menghitung) jumlah maniak gosip barangkali jauh lebih banyak dari pada maniak narkoba, atau maniak seks. Artinya, prospek masa depan maniak gosip sangat cerah. Anda mungkin bisa mempertimbangkan untuk beralih profesi menjadi tukang gosip.

Berbeda dengan para maniak narkoba atau maniak seks yang cenderung mendapat stigma negatif dari masyarakat yang sok suci di negeri ini, maniak gosip praktis tak menuai kecaman berarti. Bahkan fatwa MUI yang mengharamkan tayangan gosip dan sejenisnya, kalah telak. Fatwa ini ditentang habis-habisan oleh para maniak gosip. Siapa yang bisa mengalahkan selera yang terjajah? Sispa yang mampu membungkam kekuasaan uang dan media?

Persoalan gosip, selain soal life stile atau gaya hidup, gosip juga menyangkut bisnis. Ketika berbicara bisnis, erat kaitannya dengan kebutuhan hidup. Dengan gencarnya bisnis gosip, nilai komersialisasi dari gosip bahkan menyamai (kalau enggan mengatakan melampaui) kebutuhan pokok sehari-hari.

Kadang kita rela atap rumah dibiarkan bocor atau baju sekolah anak dibiarkan sobek asal tidak ketinggalan gosip. Uang deposito di bank nyaris terkuras habis demi mengikuti perkembangan gosip terkini.

Anda tidak percaya? Itu urusan anda. Tapi ini beritanya: ada ibu rumah tangga yang kedapatan selingkuh oleh suaminya setelah menonton gosip selebriti yang lagi kawin cerai. Ada seorang pemudi yang rela lari rumah orangtuanya setelah mendapat ole-ole gosip dari kekasihnya. Ada pemuda di kampung yang rela merantau ke kota tanpa bekal skill memadai, setelah menerima kiriman paket gosip dari kenalannya.

Cukup? Ternyata tidak. ada juga pejabat pemerintah yang kepicut menilep anggaran negara hanya untuk mencari sensasi biar menjadi objek gosip. Katanya, untuk menaikkan popularitasnya.

Ah jadi maniak gosip memang punya sensasi rasa tersendiri. Masih banyak fakta lain yang membuktikan, gosip merupakan menu pokok setiap pagi masyarakat di negeri ini.

Bagi anda yang merasa bukan maniak gosip (saya ragu kalau ada yang mengaku bukan maniak gosip), jangan protes dulu. Saya hanya mau menunjukkan fakta supaya anda tidak asal menuduh, saya atau para maniak gosip ini sudah gila atau rada-rada aneh dan nyeleneh.

Ketika anda yang merasa bukan maniak gosip menemukan terlalu banyak penganan gosip yang dijajakan di warung atau pasar-pasar di dusun dan kampung, atau yang berseliwerang di super market di kota-kota besar, anda tak perlu berteriak, apa lagi marah-marah. Nanti anda dikira stres atau gila.

Cukuplah kalau tak suka gosip dan tak mau jadi objek gosip, anda cukup melarang keluarga, agar tidak berlangganan menu gosip setiap pagi. Atau jangan memberikan anak anda uang, untuk jajan gosip di sekolah atau di kampus. Begitu juga ingatkan istri anda, untuk tidak menghambur uang hanya untuk berbelanja gosip.

Tapi bila anda tak sanggup melarang keluarga anda, mungkin sebaiknya anda harus legawa dengan keadaan. Jalan kompromi barangkali menjadi pilihan yang lebih bijak untuk melihat realita bahwa, gosip telahmenjadi bagian penting bagi masyarakat di negeri ini. Hidup memeng tak nikmat rasanya tanpa bumbu-bumbu gosip.

Kita juga harus menerima kenyataan, bahwa hidup kita sudah digempur dengan aneka jajanan gosip yang memikat mata dan mengundang selera rasa. Harganya pun sudah semakin terjangkau. Tak perlu anda capek-capek mencarinya. Dia akan datang menawarkan diri. Langsung ke rumah anda, ke kantor, atau dimanapun tempat anda singgah.

Ah mungkin kita memang harus lebih keras berteriak. Atau barangkali diam mungkin menjadi pilihan yang lebih realistis, ketika sudah tak lagi ada kewarasan. tapi antara teriak dan diam, terkadang terselip juga banyak ketakwarasan yang samar. apa lagi hanya memilih untuk berteriak atau sebaliknya hanya diam. seperti buah simalakama. serba dilematis memang. (**)

Kamis, 07 November 2013

Memaafkanmu bukan berarti....

Memaafkanmu bukan berarti melupakan kesalahanmu.
Keadilan hanya mungkin bila kesalahan tidak hanya dimaafkan.


catat itu sayang...!

Kuterima nikahmu dengan...

kuterima nikahmu
dengan dengan seperangkat cinta
sebungkus kesetiaan
sekarung rindu
dan sekeranjang cemburu.

semuanya dibayar di muka.. (HM)

Kenapa diam sayang?

kenapa diam sayang?
kau tahu sunyi adalah cermin?
disini kita bugil dan berpihak

kenapa diam sayang?
kata memenjara makna
bunyi membelenggu arti

kenapa diam sayang? (HM)

purnama (3)

PURNAMA...

Oleh Hamba Moehammad

purnama, mungkin seminggu, sebulan (sambil menatap bulan) kita berpagut di antara kebun anggur yang rimbun. juga bunga yang rimbun.

purnama, kulambaikan segenap kenangan tentang kita, ketika lagu perpisahan hampir selesai kau nyanyikan.

purnama, haruskah kubawa harapan di antara debu terbang di jalanan, yg hampir terang oleh fajar?

purnama, tak ada saputangan untuk sekadar menyapu airmata karena karena tangis sudah percuma.

purnama, setelah mengarungi sejuta kota, mungkin aku akan sekarat, lalu membuat surat untuk sekadar kau ingat.

purnama, kini aku makin basah dalam deras yang kian menjadi, dan berharap sua denganmu di laut yg mungkin telah menjadi pemisah.

purnama, ingin benar aku menjadi ombak yg mengarungi pepantai, sembari mencatat kisah kita di lembar diari.

purnama, masihkah merah pipimu dan lembut jemarimu seperti terakhir kita bertemu?

purnama, aku rindu. sungguh.(HM)