Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 02 Maret 2013

Rosa dan Kisah cinta Terlarang

Oleh Hamba Moehammad

Kau dipanggil Rosa. Aku baru tahu kalau nama aslimu, Ije Ayu Rosalona. Ah nama yang cantik bukan?

Mulanya aku tak tahu, bahkan tak percaya jika pemiliki nama sekeren itu adalah kau, Rosa. Sungguh. Nama yang bahkan aku kira hanya monopoli para artis berparas menggoda yang sering nongol tivi, melalui tayangan gosip dan sinetron-sinetron itu..

Belakangan Aku baru tahu kalau kau adalah seekor bayi gajah betina yang lahir di Conservation Response Unit (CRU) Flora Fauna International. Kampung Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.

Aku juga baru tahu tentang dirimu setelah kubaca riwayat kelahiranmu di harian nasional kompas beberapa waktu yang lalu. Harian itu menuliskan kisah proses kelahiranmu. Juga tentang jalan kisah cinta terlarang kedua orangtuamu.

Dan sekarang, setelah membaca riwayatmu, aku ingin menuliskannya kembali. Aku ingin menceritakan kisahmu yang menarik itu kepada khalayak. Aku ingin membagi kisah hidupmu kepada mereka. Biar mereka tahu, bahwa kehadiran dan keberadaanmu adalah hal yang sangat dinantikan dan juga membahagiakan.

Bagaimana tidak, kehadiranmu menghadirkan setitik asa akan eksistensi kehidupan gajah sumatra di kawasan hutan Ulu Masen di Aceh, yang kabarnya hingga kini menjadi kawasan hidup bagi populasi 300 ekor gajah sumatra.

Sebagaimana informasi yang berhasil kuhimpun dari harian nasional tersebut, keberadaan populasi kaummu, yaitu gajah sumatra terancam punah lantaran hutan yang menjadi tempat hidupmu tersebut dibabat oleh manusia untuk lahan perkebunan, pemukiman dan pertanian.

Inilah kisahnya :

Rosa.. Kau tak pernah berhenti bergerak. Jalanmu sempoyongan seperti bocah yang baru belajar berjalan. Penuh penasaran. Terkadang kau menubrukkan tubuhmu dan terus saja merangsek seperti sengaja pamer kekuatan.

Meskipun usiamu belum genap enam bulan, bobot tubuhmu sudah dua ton. Tenagamu luar biasa. Belum lagi kaki-kakimu yang besar dengan nakal menyepak. Bahkan kau sengaja hendak menginjak-injak. Belalaimu yang imut itu, menggemaskan.. tak berhenti mengendus.

Kau tahu rosa? Keberadaanmu adalah hal yang istimewa dalam upaya konservasi gajah sumatra (elephas maximus sumatranus). Di tengah kabar diharmonisasi. Kerap terjadi konflik antara kawananmu dengan manusia dimana banyak induk gajah yang diracun, bayi gajah yang tewas. Maka kelahiranmu, menjadi setitik harapan.

Menurut cerita Ono Yuniardo (30) yang bekerja sebagai pawang gajah di CRU Ie Jeureungeh, belum pernah ada bayi gajah lahir di penangkaran dari induk gajah jinak yang dibuahi gajah liar.

Nah sekarang kau sudah sedikit tahu kan? Ternyata orangtuamu adalah seekor induk gajah jinak yang menjalin asmara terlarang dengan seekor gajah jantan liar.
Wah.. Sepertinya jalan liku cinta orangtuamu asyik juga untuk ditelusuri.

Riwayat kelahiranmu memang unik (kalau enggan mengatakan sungguh unik). Ternyata, Indukmu, Suci, adalah gajah patroli yang didatangkan dari Pusat Pelatihan Gajah di Saree, Aceh Besar.

Kau tahu rosa? Indukmu itu telah menghuni pusat pelatihan gajah lebih dari separuh usia hidupnya. Dan ternyata dia ditangkap di kawasan Ulee Glee, kabupaten pidie, tahun 1993 pada usia 12 tahun karena kerap masuk permukiman warga.

Indukmu,  kemudian dilatih menjadi gajah patroli untuk mengusir gerombolan gajah liar yang kerap mengunjungi perkampungan dan perkebunan di aceh.

Pada awal 2009, dia kemudian ke sompoiniet untuk mengatasi serbuan gajah liar di kawasan aceh barat. Dia bergabung dengan empat gajah dewasa lainnya.

Maka disinilah kisah cinta orangtuamu dimulai, Rosa....

Konon, salah seekor gajah yang kerap mengganggu warga sampoiniet adalah seekor gajah pejantan soliter. Pejantan yang kalah bersaing dengan pejantan lain dan terusir dari kawanannya.

Dia kemudian bergerak seekor diri. Dia kerap nekat, menyerbu rumah warga dan perkebunan, yang dulu merupakan wilayah kekuasaannya.
 Namun pada 3 Desember 2010, pejantan yang kesepian ini tiba-tiba menyambangi CRU Ie Jeureungeh, markas indukmu, dan kawan-kawan.

Gayung pun bersambut, Rosa.. sepertinya kisah cinta orangtuamu sangat menarik. Jika dibuatkan tayangan sinetron, penontonnya pasti banyak. Dan ratingnya pasti naik. Dengan demikian akan banyak tawaran iklan berdatangan. Hitung-hitung, honor iklan bisa digunakan untuk membiayai CRU Flora Fauna International di Kampung Ie Jeureungeh, tempat dimana kau tinggal. Ah kau pasti suka itu...

Apakah kau tak penasaran Rosa? Pejantan liar yang kesepian itu rupanya jatuh cinta pada indukmu. Cinta pun berbalas. Dan pada malam-malam berikutnya, sang pejantan liar ini pun kembali datang.

Bahkan, pada suatu malam, pejantan itu memutuskan rantai besi yang mengikat indukmu lalu membawanya kabur ke hutan. Esok harinya, polisi hutan dan pawang mengejar ke hutan. Indukmu akhirnya berhasil dibujuk dan digiring pulang ke kandang.

Tapi mungkin kau tak menyangka rosa... Ternyata indukmu pulang dalam keadaan bunting. Sementara si pejantan kabur ke hutan.

Maka sekitar 21 bulan kemudian, tepatnya 18 September 2012 malam, lahirlah bayi gajah betina yang diberi nama Ije Ayu Rosalona. Itulah nama lengkapmu Rosa....

Saat kau lahir berat tubuhmu 82,6 kilogran, tinggi 81cm. Enam bulan kemudian, berat dan ukuran tubuhmu sudah dua kali lipat.

Kau tumbuh cepat di tengah ancaman kepunahan spesiesmu. Padahal menurut penuturan, Badrul, salah seorang petugas polisi hutan mengatakan, sepanjang 2012, telah ditemukan empat gajah liar tewas di sekitar pantai barat aceh.

Inilah kisah cinta indukmu dengan gajah pejantan liar itu. Kisah cinta  yang kemudian membuahkan hasil. Kau terlahir  ke dunia sebagai satu-satunya spesies gajah betina yang berasal dari kombinasi gaja betina jinak dengan gajah jantan liar. Wow keren bukan?

Aku berharap, kelahiranmu ini bisa membuka mata manusia agar sadar, betapa eksistensimu dan kaummu hanya bisa dilestarikan, manakala manusia sadar betapa berarti kehadiranmu dan kaummu.

Kiranya manusia sudi menanggalkan kepentingan dan keserakahan pribadinya untuk tidak membabat hutan yang menjadi habitat gajah sumatra di kawasan hutan Ulu Masen di Aceh. Semoga. (**)

Neutrino; Kekasih Imajinerku

Neutrino..  
(Kekasih imajinerku.. Kekasih masa depanku)

Dengan teropong elektronku, kuingin mengetahui bintang terjauh dan terluar di jagat raya. Namun tak bisa. Aku berharap dengan keberadaanmu, aku biasa menemukan batas semesta. Yah semesta

Kau tahu? Aku sementara menyelesaikan penelitian partikel keberadaanmu yang jauh lebih kecil dari elektron. Partikel penyusun dirimu ini nyaris tak bermassa, tapi kecepatanya mendekati kecepatan cahaya. Aku masih terus melakukan penelitian sekarang.

Neutrino kekasihku. Aku sadar, bahwa  dirimu merupakan salah satu jenis partikel elementer yang memiliki massa yang sangat kecil. Karena kolaborasi gabungan tiga jenis  bagian dirimu yang kuberi nama neutrino elektron, neutrino muon, dan neutrino tao. Kau tahu? Massa masing-masing bagian dirimu ini  kurang dari 0,28 eV. Bandingkan dengan massa elekton yang besar 105,6 MeV.

Jujur, aku ingin mengatakan sesuatu sayangku. Sebenarnya, massa  dirimu belum dapat kuukur secara akurat dengan teknologi instrumentasi yang ada.

Oh Maafkan aku. Aku terkendala partikel subatom dirimu yang ternyata tidak bermuatan listrik sehingga tidak berinteraksi dengan partikel lain.

Itulah sebabnya dirimu dengan mudah melewati materi apapun di jagat raya, termasuk bumi tempat aku menelusuri dirimu. Tempat aku meneliti dirimu

Sayangku, kau sungguh sulit kutangkap. Kau sangat sulit kudeteksi meskipun kau tersebar di muka bumi. Tunggu dulu sayangku!  Kau jangan dulu menyalahkanku.

Bukan karena aku tak sepenuh hati mencari dan mengenalmu, neutrino. Karena aku ingin menjelaskan duduk persoalannya. Kau tahu apa penyebabnya? Itu karena kemunculanmu menyertai paparan sinar matahari kebumi.

Bahkan tak tanggung-tanggung, setiap detik, ada sekitar 60 miliar  partikel dirimu dari matahari melewati areal seluas satu sentimeter persegi di muka bumi.

Wahai neutrino sayangku. Hingga kini aku tak putus asa mencarimu. Aku mencarimu hingga ke kutub paling selatan bumi ini.

Hanya satu harapan dari perjalanan pencarianku menemukanmu. Semoga pada suatu masa.  Masa dimana  aku dapat menggunakan sifat partikel subatom yang kekal dan tembus materi dalam dirimu sebagai teropong untuk mencapai batas alam semesta.

Nautrino.. Kekasih imajinerku..Aku berharap kemampuanmu suatu saat nanti lebih baik dari telesko elektron sehingga aku dapat menyelami dan menjelajahi angkasa terluar maupun angkasa terdalam jagat kehidupan ini.

Teori big bang telah kumintai keterangan. Dan dia mengatakan,  alam semesta berawal dari sebuah obyek yang sangat panas dan terus berekspansi hingga saat ini. Yah hingga saat ini cintaku...

Bahkan Sisa-sisa radiasi kosmis akibat dentuman dalam bentuk gelombang mikro itu pernah di temukan oleh fisikawan Arno Panzias dan robert wilson pada tahun 1964 lalu.

Neutrino cintaku...  Kuberharap penemuanku tentang  dirimu suatu saat nanti bisa mendukung lebih lanjut fenomena semesta. Sebab dalam jumlah yang amat sangat banyak, engkau akan bisa memengaruhi ekspansi alam semesta.

Ah neutrino kekasihku. Engkau sungguh menjadi kunci. Yah kunci menuju batas semesta. Menemukan jawaban aneka teka-teki dan misteri yang hingga kini menjadi kabut bagiku untuk menyelami segenap kosmos yang terus berekspansi. Dan entah sampai kapan dia akan menemukan batasnya...

18 februari 2013...
Di atas bongkahan es antartika yang setiap detik meleleh karena pemanasan global bumi. (**)

Raja Labala; Mayeli atau Lamarongan?

Raja Labala; Mayeli atau Lamarongan?

(Menguak Serak Sejarah Kerajaan Labala)

Jujur sejak lama juga sebenarnya goe ingin cari tahu terkait ini. Bukan bermaksud membela yang satu dan menghakimi yang lain, namun murni menelusuri kemurnian (kalau enggan mengatakan kebenaran) sejarah kerajaan labala.

Sebenarnya kita punya banyak bukti sejarah yang bisa dijadikan rujukan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, ketakpedulian generasi labala untuk menghimpun bukti-bukti tersebut sangat minim, bahkan boleh dikata, tidak ada. Makanya kita hanya mengandalkan cerita lisan yang hanya berdasarkan ingatan. Padahal, yang namanya cerita, bila diceritakan lisan dari mulut ke mulut dan diwariskan turun temurun, bisa saja terjadi distorsi (salah tafsir). Ujung-ujungnya, cerita kemudian menjadi kabur atau malah ditambahkan tanpa dasar yang sahih.

Makanya sewaktu saya masih kecil, meski selalu diceritakan asal usul suku-suku yang ada di labala dan sejarah pelarian raja dari lepan batan pasca peristiwa huru hara, n
amun sayangnya semua cerita yang dikisahkan orangtua ketika saya kecil ini, saya malah menganggapnya hanya dongeng pengantar tidur belaka. Bukan fakta sejarah.

Sedikit refleksi

Kedatangan raja beserta pemangku dan ribu ratunya dengan menggunakan perahu yang kemudian mendarat di tanjung leworaja. Di tanjung leworaja ini raja dan ribu ratunya bertemu dengan dua orang kelompok penduduk asli yang berdiam di tanjung leworaja yaitu Dewa Kaka no Dewa Ari. Kedua bersaudara ini merupakan cikal bakal penduduk asli suku labala.

Dalam perkembangan selanjutnya, dewa kaka ini memiliki keturunan orang-orang yang bermarga labala (resiona, kroiona, duaona, enga daiona) yang bergabung dengan beberapa kle yang juga adalah penduduk asli labala (lerek, soap,kelobon,kahawolor lewokro,mudaj, lebao, bakiona dan beberapa kle lain)

Sedangkan dewa ari kemudian memiliki keturunan yang sekarang menjadi penduduk asli di desa mulankera (nama asli sebenarnya, Ata Kera). Disini tak bisa di nafikan, mulankera meski berpenduduk mayoritas kristen, mereka juga adalah orang labala asli sebelum datangnya pengaruh agama islam-kristen. 
Karena toleransi masyarakat labala yang sangat tinggi akan keberadaan kedua agama ini, maka diputuskan, dewa ari dan keturunannya memilih memeluk agama kristen, sedangkan Dewa kaka memilih memeluk agama islam. Selanjutnya dalam pranata adat, masyarakat mulankera sering disebut lewo ari (kampung adik) sedangkan leworaja sering disebut lewo kaka (kampung kakak). Maka tak heran ketika misi kristen membangun sekolah pertama di labala yaitu SDK Labala, dan bukan SDK mulankera. Ini karena fakta sejarahnya, masyarakat Mulankera merasa, bahwa mereka juga adalah orang labala.

Saya bersyukur karena saya dilahirkan dari keluarga asli labala yaitu campuran empat suku besar di labala, yaitu dari garis keturunan bapak, saya bermarga Labala enga daiona (suku asli orang labala) pemilik rumah adat senera (taran wanan) dan dari garis keturunan ibu (suku mayeli atulangun) nenek (suku lamarongan) moyang (suku teron). Maaf saya tak bermaksud membangga-banggakan keturunan, tapi sebagai contoh betapa meski saya adalah asli putra labala, namun kerap kebingungan ketika ditanya tentang sejarah labala, termasuk pertanyaan seperti judul tulisan diatas.
Siapakah Ata Geha (Kiwan Mayeli)?

Persoalan yang sama juga, terkait klaim kedua suku ini (mayeli vs lamarongan) yang masing2 mengatakan paling berhak mewarisi tahta kerajaan labala. Istilah raja kre dan raja nela juga masih menjadi kontroversi.

Info yang bisa goe bagi disini, dalam silsilah keturunan raja labala adalah, sebelum raja Ata Geha (kiwan Mayeli) dinobatkan menjadi raja, keturunan raja labala adalah suku mayeli. Namun ada terputus silsilah raja, lantaran tidak ada laki-laki dari suku mayeli yang melanjutkan/mewarisi tahta.

Maka karena suku lamarongan juga merupakan kerabat raja, maka dipanggil salah seorang kebele lamarongan yang namanya Ata geha untuk meneruskan tahta kerajaan. Kalau goe tidak salah, Ata geha (orang lain) berasal dari klan lamarongan reta pukan. Yang keturunannya sekarang adalah cucu-cicitnya nene heku-anahae. Istri Nene heku yaitu bela anahae berasal dari suku mayeli atulolon.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan masing-masing pulang ke lewotanah dan silahkan mencari/menelusuri jejak sejarah labala.
Bangga aku jadi orang Labala. Satu-satunya kerajaan otonom di kabupaten Lepan Batan (lembata). Kalau anda? (**)

Peten Lewo, Sudi Tanah

Peten Lewo, Sudi Tanah 
(Cerita Pengalaman Masa Kecil)

Entah kenapa... sore ini saya pulang kerja lebih cepat dan ingin bersantai. Duduk istirahat ditemani segelas susu coklat plus pisang goreng...

ah terkadang hidup yang dijalani dengan suka cita, bisa menerbitkan kenikmatan tersendiri yang sulit dilukiskan dengan kata. Seperti yang kualami sore ini.

Tapi sore ini benar-benar beda. Mungkin lebih tepatnya, spesial. Entah mungkin suasana hati saya yang lagi senang, atau mungkin suasana sore ini yang berbeda dengan sore-sore yang lain.

Langit tiba-tiba lebih cerah, udara lebih sejuk, jalan raya di depan rumah lebih lengang. Pokoknya sore ini benar-benar beda...

Sembari meneguk susu coklat dan pisang goreng, tiba-tiba saya terkenang masa kecil dulu di labala, kampung halamanku. Satu persatu kenangan masa kecilku mulai terlintas.. Semakin lama semakin berseliwerang. Memenuhi ruang memori benak.

Ah ini barangkali lintasan kerinduan masa kanak yang ingin kuulang. Tapi bagaimana cara? Bukankah waktunya telah lewat, tak bisa diulang?

Pada ujungnya, Rindu tetaplah rindu. Dan kenangan tinggal kenangan. Nostalgia kadang menemui kendala untuk mengenangnya.

Saya meraih handphone yang dari tadi tergeletak di atas meja. Tanpa aba-aba tanganku sepertinya tahu apa yang saya butuhkan sore ini. Handphone kuraih, dan seperti ada printah gaib, jemari-jemariku mulai bergerilya, mengutak-atik file handphone.

Dan... Ah ini dia. Kubuka file kumpulan lagu-lagu daerah. Lebih tepatnya lagu-lagu bahasa daerah lamaholot. Ternyata, inilah salah satu obat kerinduan itu...

Sebenarnya saya sering menikmati lagu-lagu daerah lewotanah bila sedang rindu. Waktunya kapan saja. Kadang malam menjelang tidur, atau lagi mengetik dan mengedit berita di kantor sehabis meliput.

Tapi sore ini sepertinya beda. Sungguh...

Saya pun memutar sebuah lagu. Judulnya "Peten Doan". Liriknya lembut, syairnya puitis. Dan saya dibuat hanyut. Saya dibawa kembali ke masa lalu. Masa kanak-kanak dulu. Mengenang bagaimana kehidupan di labala dulu.

Rema tukan doan, nuba mehak hena.
Tobo peten doan, doan rae lewo.
Nuba hama lela, Nara ehan kuran.
Pai sudi lela, lela rae tanah.

Saya menyimaknya dengan khusuk. Mata kupejam dengan harapan bisa melampaui mesin waktu untuk kembali ke masa kanak-kanak dulu. Dan sepertinya itu cukup berhasil.

Saat itu Saya duduk di kelas IV SD Inpres Luki. Inak sedang pergi penetan (menjual) ikan ke Puor. Jarak labala-puor memang sangat jauh bila ditempu dengan jalan kaki. Waktu saya masih kecil dulu, belum ada sarana kendaraan seperti sekarang. Inak saya bersama inak-inak yang lain di labala, berangkat bersama-sama selepas subuh. Mereka menuju ke desa puor yang terletak di lereng gunung labalekang itu.

Sebelum berangkat, seperti biasa inak sudah menyiapkan seragam sekolah saya dan adik di atas tempat tidur. Di atas meja kecil sudah ada nasi yang baru dimasak dan ikan goreng sisa tadi malam.

Keadaan seperti Ini sering inak lakukan jika akan bepergian. Misalnya ke kebun, atau ada urusan penting seperti penetan, atau ada pesta adat di leworaja (kampung lama).. Inak selalu pergi sebelum saya dan adik-adik bangun.

Ekan nuan nolo nai.
Nuan rae lewotobo.
Susah tudak kabe kaan nani louk.

Ketika bangun, saya langsung mengajak adik yang saat itu masih tidur untuk mandi dan berpakaian. Adik saya ini masih duduk di kelas II SD Inpres Luki. Makanya suka membandel. Kalau bukan inak yang memandikan atau memakaikan pakaian, dia biasanya melawan. Pagi itu saya sempat kejar-kejaran keliling rumah dengan adik yang susah diatur ini.

Karena di rumah kami tak ada jam sebagai penanda waktu, saya biasa memanfaatkan radio tetangga sebagai penanda. Tetangga kami memang punya radio dan setiap pagi rutin mendengar siaran berita RRI dari Kota Kupang.

Sebagaimana pesan guru kelasku di sekolah, bagi yang tak punya jam di rumah, beliau menganjurkan kami untuk mendengar saja penanda di radio. Bila radio memperdengarkan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" hingga akhir, kemudian diikuti bunyi tut..tur..tut beberapa kali, itu artinya jam sudah menunjukkan pukul 07.00 Wita. Dan itu kami harus lekas ke sekolah. Jam masuk sekolah pukul 07.15. Berarti kami masih punya sela waktu 15 menit untuk berkemas ke sekolah.

Biasanya sebelum bepergian, inak juga punya catatan yang ditulisnya di selembar kertas dan menaruhnya di atas meja makan. Isinya mengingatkan kami agar sepulang sekolah jangan lupa cuci piring, menyapu, ambil air, dan jangan lupa masak.

Meski waktu itu saya masih kelas IV SD tapi sudah bisa memasak nasi atau masak sayur tumis. Bahkan saya sudah mahir melakukan ritual "petu wata" atau titi jagung karena caranya cukup muda bagi saya.

Petu wata atau titi jagung dilakukan sepulang sekolah jika di dapur tak ada nasi. Caranya: ambil bulir jagung di tempat peregasan, nyalakan api di tungku batu, periuk tanah dipasang di atas tungku. Selanjutnya Biji jagung dimasukkan ke periuk. Tunggu sampai jagungnya matang.

Selanjutnya biji jagung diangkat kemudian dititi diatas batu persegi. Jadilah keripik alias emping jagung nan gurih. Apa lagi ditambah kacang tanah goreng. Bukan main gurihnya. Emping jagung ini, Orang lamaholot menyebutnya, wata biti. Kalau orang labala menyebutnya, wata betu (jagung yang dititi/dipipih)

Kalau lagi tak ada lauk ikan, saya biasa memetik buah tomat dan lombok merah yang sudah matang di samping rumah untuk membuat sambal. Inak memang mengajarkan saya dan adik-adik untuk hidup mandiri.

Sudi elu niku doan
Elun rae tanah pae.
Paya taga kabe, kaan lesu loran.

Pulang sekolah, adik langsung kabur entah kemana. Dia biasa bermain bersama teman sebayanya di pantai wailolon. Baju seragam dan sepatunya diletakkan begitu saja di atas tempat tidur.

Sejak di sekolah tadi saya di ajak teman untuk ikut perahu orang ende yang sedang "betu bedi" (mengebom ikan). Istilah "betu bedi" merupakan istilah khas orang labala bagi orang ende yang punya kegemaran mengebom ikan. Secara harfiah, betu bedi artinya melempar bedil (bom) ke air laut. Barangkali istilah orang pintar, mengebom ikan dengan menggunakan bom molotov.

Saya buru-buru pulang untuk ganti pakaian. Siang itu tidak ada makan siang. Ini kebiasaan kami bila tidak ada inak di rumah. Pokoknya selepas sekolah kami langsung berhamburan. Anak-anak seperti kami, urusan terpenting bukan makan, tapi main. Bersenang-senang dengan teman.

Prinsipnya, mumpung inak lagi bepergian jauh. Soal makan bisa diatur. Kami anak-anak labala biasa punya acara sendiri. Bakar ikan dan ubi bersama teman di pantai. Kalau tidak ada nelayan yang bersandar untuk dibantu menarik perahu guna mendapat upah ikan, kami biasanya membawa ikan kering, pisang mentah, ubu kayu, atau buah-buahan dari rumah masing-masing untuk dibakar dan makan ramai-ramai.

Pesan inak yang tertera di kertas pagi tadi terlupakan. Sekarang saya dan teman sudah di atas sampan. Mendayung sampan ke laut teluk labala. Tujuannya, mengikuti perahu orang ende yang sedang betu bedi alias mengebom ikan di sekitar tanjung leworaja.

Waktu saya masih kanak-kanak dulu, Kawasan tanjung leworaja ini merupakan daerah terumbu karang yang indah dan banyak dihuni ikan aneka jenis dan warna. Namun sekarang, orang labala harus pergi jauh ke tengah laut untuk mencari ikan. Karang yang menjadi rumah ikan sudah hancur dibom. Kata para ahli kelautan, butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk memulihkan kembali terumbu karang yang rusak.

Mengebom ikan adalah hal yang sekarang baru saya sadari, merupakan tindakan tak terpuji. Dulu masyarakat labala memang kurang bahkan tidak ada perhatian dan kesadaran terhadap ekosistem lautnya. Meski lautnya berkali-kali dibom orang-orang ende dan ikan-ikannya di jarah, mereka tenang-tenang saja. Bahkan senang bila orang ende mengebom ikan.

Alasannya sederhana, mereka bisa ikut untuk mengumpulkan ikan dan berharap orang-orang ende itu berbaik hati memberikan mereka jatah ikan. Dan kami anak-anak ingusan ini juga punya paradigma yang sama kolotnya. Heheh...

Umumnya masyarakat labala sewaktu saya kecil dulu ,menangkap atau memancing ikan masih menggunakan cara tradisional. Menangkap ikan dengan menggunakan pukat plastik, atau memancing ikan dengan menggunakan mata kail dan tali tasi plastik yang digulung. Tali yang digulung pada kayu yang dibentuk seperti bantalan ini, Orang labala menyebutnya roda.

Leta neten ina ama
lera wulan tanah ekan.
Tedun dike babin sare
Tisusa ake tewan balik.

Sekarang Hari sudah senja. Matahari sudah di pundak gunung Labalekang. Saya bersama teman masih asyik mengukuti perahu orang ende itu. Kami harus menunggu sampai bom terakhir diledakkan. Setelah itu akan ada pembagian jatah ikan untuk kami.

Hasil tangkapan hari itu lumayan. Kami lihat di perahu orang ende itu penuh dengan ikan yang banyak. Ada kakap, baronang, kakap merah, tuna dan macam-macam ikan yang sebagian saya tak tahu namanya. Pokoknya banyak dan besar-besar.

Hari mulai gelap. Orang-orang ende menghidupkan mesin perahunya. Artinya mereka bersiap pulang. Kami pun sudah harus pulang. Kami dapat jatah empat ekor ikan kakap merah besar hasil ledakan bom orang-orang ende. Saya dan teman senang bukan main. Lumayan untuk modal buat inak ke pasar wulandoni hari sabtu nanti.

Setelah perahu orang ende pergi, kami pun pulang. Dengan dayung di tangan, sampan kami buat laju. Kami Mendayung harapan. Kembali ke pantai wailolon.

Dari jauh sayup-sayup suara azan dari mesjid As-shamad Luki (sekarang diganti namanya menjadi mesjid al-hijrah). Suara azan seakan menyambut kedatangan kami. Menyambut kedatangan anak-anak labala yang malang.

Yah, kamilah Anak-anak polos yang sama sekali tak tahu, kalau perbuatan orang-orang ende itu justru merusak habitat ikan yang menjadi sumber penghidupan masa depan kami. Ah Anak-anak ingusan yang dipaksa keadaan dan kehidupan yang melarat, untuk mencari nafkah menyambung hidup. Sungguh tragis bukan?

Ina.. tutu koda melan
ama.. marin kirin saren
Ti goe kete kaan pana laran
Ti goe pehen kaan gawe ewan
Lau sina, lali jawa.

Inilah salah satu kenangan masa kanak-kanak dulu. Bagi saya, kenangan masa kecil di labala adalah kenangan yang paling indah. Pengalaman tiada dua. Masih banyak sebenarnya pengalaman masa kanak di labala yang ingin kukisahkan. Tapi mungkin di lain hari kawan.

Meski kini saya merantau menuntut ilmu di tanah orang, tentu banyak juga kenangan indah di perantauan. Namun semua itu tak bisa melunturkan ingatanku akan kenangan masa kecilku.

Bagiku, Labala adalah museum kenangan masa kecilku bersama inak-amak, kaka-ari, opu-makin, teman, keluarga. Juga laut teluk labala yang tak pernah berhenti bergelorah, pantai wailolon yang indah, tanjung leworaja yang penuh pesona. Begitu juga sekolah SD Inpres Luki, pasar wulandoni dan segenap bentang alam labala. Semua Kurekam apik dalam pita ingatanku.

Dan semoga rekaman ini tetap kujaga, kemudian bisa kuputar ulang untuk kuperdengarkan kepada anak cucu, generasi labala yang akan datang. Amin.

Labala...
Lewo wutun tepelate
Tanah watan digelara. (**)

Selasa, 29 Januari 2013

Kesalahan: Kebenaran Yang Disalahtafsirkan


Kesalahan

Oleh : Muhammad Baran

Ketika ada yang bertanya kepadaku, apa itu kesalahan? Maka saya punya jawaban sendiri (tentu anda juga punya jawaban). Bagi saya, kesalahan adalah kebenaran yang disalahgunakan. Dia disalahartikan, bahkan disalahtafsirkan. Jika demikian maka dia akan salah diaplikasikan. Kesalahan juga berarti, katika kebenaraan yang tidak didukung oleh data dan fakta yang sahih (valid) . Kesalaahan yang terakhir ini barangkali disebut kesalahan akademik.

Tapi, apakah setiap kesalahan adalah pelanggaran, yang pelakunya harus dihukum? Untuk menjawab pertanyaan ini,  saya lebih memilih memungut (entah dimana) jawaban dari seorang bijak yang mengatakan, tak selamanya setiap kesalahan harus divonis sebagai dosa atau pelanggaran. Karena, kata Si Bijak ini, terkadang kesalahan yang kita perbuat merupakan cara kita belajar.

Yah dengan berbuat kesalahan, kita akan belajar menyadari bahwa inilah yang namanya kesalahan. Maka, alangkah tak waras kiranya  ketika kita sudah menyadari, bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan, namun tetap gagah dan pede  untuk mengulanginya lagi. Nah yang seperti ini barangkali namanya kurang ajar atau melampaui batas wajar.

Lalu, bagaimana dengan kesalahan yang tak disengaja? Tentu tak serta merta  kita kemudian berlindung di balik jargon klasik, "Tak ada manusia yang sempurna." Jargon ini menurut saya, sekedar pembenaran. hanya memberi ruang kepada kita untuk merasa,  sah-sah saja melakukan kesalahan dengan asumsi, toh tak ada manusia yang luput dari khilaf dan keliru.

Tapi inilah dunia kawan. Kita melewati setiap jengkal perjuangan, menjalani setiap hasta  hidup dengan semaksimal mungkin berupaya  meminimalisir kesalahan. Kesalahan yang kadang menjerumuskan, tapi kadang juga, sebagaimana kata si bijak di atas, kesalahan yang bisa menjadi cara kita belajar untuk tidak terperosok ke liang yang sama.

Akhirnya, kita hanya bisa menghitung surut hari perjalanan hidup kita. Sembari dalam hati menghitung-hitung, sudah berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat (disengaja atau tidak). Karena biar bagaimana pun, setiap laku perbuatan kita  mesti dipertanggungjawabkan secara moral, sebagai konsekuensi atas pilihan hidup kita.

Kita sama berharap, kesalahan yang kita perbuat adalah kesalahan yang masih dalam batas wajar. Yaitu,  kesalahan yang membuat kita belajar untuk tidak mengulanginya. sehingga besar kemungkinan,  Tuhan masih sudi berkompromi dengan kita. 

Tapi akan menjadi lain cerita bila kesalahan yang kita perbuat adalah kesalahan  yang di luar  batas wajar,  yang bahkan Tuhan sendiri pun tak punya alasan untuk  memaafkan kita.

Nah bila ini yang terjadi,  maka kita hanya bisa menanti berlakunya hukum Tuhan; siapa yang bersalah, akan dihukum, kecuali Tuhan sendiri berubah pikiran dan memutuskan lain. (**)

Rabu, 23 Januari 2013

Cerita Dari Surga

Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan.

Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

Tuhan: wahai anak muda, karena orang tua itu memiliki amal yang lebih banyak. hampir 70 tahun umurnya dihabiskannya untuk beribadah kepadaku. sedangkan kau, hanya 17 tahun umurmu kau gunakan untuk beribadah kepadaku.

Anak Muda: kalau begitu Tuhan,  kenapa Engkau tak memanjangkan saja umurku seperti orang tua itu agar aku juga bisa lebih banyak amal-ibadah kepada-Mu.

Tuhan: wahai anak muda, aku maha tahu. kalau aku memanjangkan umurmu,  kau akan banyak berbuat dosa kepadaku. makanya aku cepat-cepat  mencabut nyawamu sebelum sempat kau  berbuat dosa dan mati membawa dosa.

tiba-tiba,  terdengar suara teriakan dari dalam neraka, "Oh Tuhan, kalau begitu,  kenapa tak cepat-cepat  Engkau cabut saja nyawaku agar aku tak jadi penghuni neraka?."

******************

TUHAN adalah tekateki. Dia tak pernah tuntas dicari jawabnya. semakin DIA dicari, semakin penasaran para pencari dibuat-NYA. Dari DIA muasal kebenaran, kepada-NYA muara kesempurnaan. Kebenaran-NYA melampaui hukum sebab-akibat dunia. Kesempurnaan-NYA melampaui hukum grafitasi kehidupan.

teringat aku sebuah sajak;

sepanjang mencari selatanutara lagi utara lagisepanjang mencari timurbarat lagi barat lagisepanjang mencari adatiada lagi tiada lagi (Hasan Mustapa)

"Kebenaran itu dari Tuhanmu," kata-Nya dalam kitab suci. maka DIA mengingatkan, siapa yang PERCAYA, silahkan. Dan siapa yang INGKAR, juga silahkan. Tapi DIA mengingatkan,"Bagi yang ZALIM, tempat kembalinya adalah NERAKA." Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Tapi apakah kebenaran-NYA itu mutlak, sudah final dan selesai, sehingga tak boleh diganggu gugat?
Jika kebenaran telah selesai,jika kebenaran telah tamat,
jika kebenaran telah final,dan tak bisa lagi digugat,
Lalu untuk apa hidup ini,
lalu untuk apa dunia ini
lalu untuk apa semesta ini
lalu untuk apa perbedaan ini
lalu untuk apa kemajuan ini 

Kita memang hidup untuk mencari yang belum selesai itu...Karena tak ada yang kekal dan mutlak, termasuk kebenaran dari Tuhanyang sering diklaim sepihak itu. (*)

Keberagamaan di Negeri Syahdan

Keberagamaan di Negeri Syahdan

Candra Malik


Atas nama agama, bahkan atas nama Tuhan, mereka melempari pemeluk agama lain dengan telur busuk, air comberan, dan air kencing. Entah agama apa yang mereka anut, entah siapa rasul yang mengajarkan untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan seperti itu.

Inilah negeri syahdan. Nyaris segala sesuatu dibicarakan atas nama konon. Dari satu mulut ke satu telinga, berbisik-bisik, bicara di belakang punggung, demikian seterusnya, sampai jadilah sebuah pohon cerita yang akarnya sangat kuat, batangnya tangguh, cabang-cabangnya melebar ke mana-mana, dan jangan lagi bertanya bagaimana reranting kisah itu. Semakin jauh kabar ini diceritakan, semakin terperinci dia. Dan buah-buah dari pohon dongeng ini menjadi rebutan. Sebagian dipatuk oleh burung-burung dan diterbangkan semakin jauh lagi dan jadilah kabar burung berikutnya. Jadilah cerita-cerita baru yang semula tidak ada. 

Tapi tidak ada yang suka disebut menyebar rumor. Itu fitnah! Jika kau mulai menuduh mereka sebagai biang gosip, bersiap-siaplah dihujani dalil-dalil. Ya, negeri ini juga negeri dalil. Asalkan ada dalilnya, sesuatu dianggap sah, halal, berpahala, dan surgalah balasannya. Jika perilaku beragama diklasifikasikan menjadi tiga--yaitu beragama ala pencinta, beragama ala pedagang, dan beragama ala penagih--maka warga negeri ini lebih condong untuk beragama tidak dengan klasifikasi yang pertama. Cinta menjadi merek yang kurang menjual, sekaligus tidak bisa dipakai untuk menagih apa pun. Cinta cepat basi berhadapan dengan masyarakat negeri ini yang angin-anginan. Cinta tidak menarik untuk dilabeli halal. Justru jika dianggap melanggar aturan main. Penguasa negeri ini bisa-bisa akan mengadili cinta dan memfatwakan haram terhadapnya.

Beragama ala pedagang selalu berorientasi pada hitung-hitungan laba dan rugi. Jika berbuat ini, maka akan mendapat itu. Jika bersedekah, maka akan beroleh hadiah. Pemuka agama bersalin rupa menjadi makelar surga. Dalil-dalil tentang pahala disodorkan dalam setiap kesempatan. Entah mereka tidak paham, atau memang itulah yang mereka pahami, berlomba-lomba dalam kebaikan dipahami sebagai berlomba-lomba menumpuk pahala menjadi anak-anak tangga menembus langit sampai ke pintu surga. Semakin tinggi anak tangga yang mereka pijak, semakin kecil segala sesuatu yang tampak jika mereka menoleh ke belakang--dan ke bawah. Mereka semakin lupa diri dan lalai menginjak bumi.

Tuhan tidak pernah berdusta ketika Dia berfirman bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Kita saja yang tidak memahaminya secara jernih bahwa balasan kebaikan dari Tuhan itu adalah hadiah, imbalan, anugerah, karunia, atau apa pun namanya yang suka-suka Dia. Usia memang hanya berlaku untuk raga sehingga wajar saja jika banyak di antara kita yang berjiwa kekanak-kanakan meski raga sudah menua. Kita masih beragama dengan metode lolipop: mau disuruh ini-itu asalkan diberi permen atau uang jajan. Kita tidak mau menerima teori bahwa pada akhirnya bukan kebaikan dan pahala yang membawa kita sampai ke surga, melainkan keridhaan Tuhan.

Beragama ala penagih tidak lebih baik rasanya. Kita dipaksa-paksa untuk bersyukur atas apa yang kita terima, alami, rasakan, dan nikmati. Tidak cukup dengan bersyukur saja, kita juga dituntut untuk memberi lebih--padahal nyatanya tak ada dalil apa pun yang menyebut bahwa Tuhan meminta sesuatu dari hambanya, apalagi meminta balasan. Sedekah pun, bukankah untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan? Satu-satunya yang sampai kepada Tuhan, atau yang dihaturkan kepada-Nya, adalah ketakwaan. Bukan materi duniawi dalam bentuk apa pun. Karena itu, terasa janggal jika pemuka agama menunjukkan seribu wajah. Sangat nyaman dipandang ketika berurusan atas nama pahala dan surga, mendadak lebih bengis dari preman pasar ketika berganti topik menjadi soal dosa dan neraka.

Negeri ini semakin mengkhawatirkan ketika anak-anak di taman bermain dan sekolah dasar dididik untuk sekadar menghafal ayat-ayat. Apalagi ayat-ayat yang dihafalkan itu dikemas sedemikian rupa menjadi yel-yel yang menakutkan, semacam cinta mati pada agama tertentu. Cinta mati memang klise, nyaris selalu begitu dalam kisah-kisah asmara. Namun, apakah sudah waktunya anak-anak belajar memahami itu, apalagi jika cinta mati itu diajarkan dengan menghidupkan benci kepada pemeluk agama lain? Mencemaskan betapa anak-anak diajari untuk beranggapan bahwa perbedaan adalah suatu ancaman. Menyedihkan betapa anak-anak dicetak menjadi sosok-sosok fundamentalis justru oleh sekolah melalui ajaran tentang kekerasan dan ancaman kekerasan atas nama agama. Mereka seharusnya bermain secara alami dan tanpa prasangka kepada siapa pun temannya, bukan justru dipisah-pisahkan dalam penjara-penjara curiga dan dibeda-bedakan berdasarkan siapa Tuhannya.

Kita menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak dengan kasih dan sayang. Sebagian dari kita justru menyebut nama Tuhan dengan membawa-bawa pentungan dan memukul. Memecahi kaca, mendobrak pintu dan jendela, membakar, memaksakan kehendak, dan--semakin sering pula kita dengar--menyiksa, bahkan membunuh. Mereka meneriak-neriakkan Tuhan Maha Besar, namun justru amarah dan kemurkaan merekalah yang membesar sampai tak lagi terkendali. Atas nama agama, bahkan atas nama Tuhan, mereka melempari pemeluk agama lain dengan telur busuk, air comberan, dan air kencing. Entah agama apa yang mereka anut, entah siapa rasul yang mengajarkan untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan seperti itu. Ironisnya, istana negeri ini adalah istana yang sepi dan pendiam terhadap isu-isu seperti itu. Entah tuli, entah tidak peduli.

Tuhan sesungguhnya maha baik. Dia menciptakan manusia dengan anugerah akal dan hati. Akal untuk berpikir sehat, hati untuk berperasaan kuat. Jika sehat dan kuat menyatu, manusia bisa bermanfaat bagi kemanusiaan. Alangkah sangat baik Tuhan, yang tidak hanya mengkaruniai manusia dengan akal dan hati, namun juga menurunkan para rasul untuk menebarkan cinta kasih. Mereka membawa agama yang mengajarkan cinta kasih itu. Jika akal adalah pangkal pikiran sehat, hati adalah pangkal perasaan kuat, maka agama adalah pangkal perilaku baik. Jika pikiranmu sehat, perasaanmu kuat, dan perilakumu baik, orang lain tidak akan bertanya apa agama kita dan bagaimana kita beragama. Kita telah menjelma sebagai agama itu sendiri, yaitu pembawa cinta kasih bagi manusia dan kemanusiaan.

Tapi, bagaimanapun, negeri ini adalah negeri simbol. Masyarakat lebih mementingkan kerja lidah daripada kerja iman. Sampai-sampai, mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain pun menjadi pokok bahasan berhari-hari setiap tahun dan dikhawatirkan menggerus iman dalam tempo cepat. Sesiapa yang memakai simbol tertentu, ia segera dianggap sebagai perwujudan sejati dari karakter simbol itu. Tak mengherankan jika lambang palang merah pun harus diributkan untuk diganti, karena dianggap menonjolkan simbol agama tertentu sehingga menjadi ancaman bagi agama lain. Dikhawatirkan, jika lambangnya masih itu, aktivitas kemanusiaan di dalamnya akan disusupi penyebaran ajaran agama yang tampak dari simbol itu.

Negeri ini juga negeri rahasia umum. Hal-hal yang bersifat domestik dibawa ke ranah publik, dibicarakan secara tidak sopan dan sok tahu, seolah-olah setiap orang pernah mengalami dan merasakannya sehingga mengenal dan mengerti betul pangkal persoalannya dan berhak untuk ikut campur. Masyarakatnya latah: sahut-menyahut menjadi satu, itulah negeri ini. Kepulauan dan samudra yang memisahkan tidak lagi menjadi penghalang untuk membahas tema-tema hangat, mulai dari urusan rumah tangga orang lain sampai agama orang lain. Status kawin dalam kartu tanda penduduk seolah-olah harus diperjelas: kawin dengan siapa, istri nomor berapa, siri atau sah menurut negara? Status agama dalam kartu tanda penduduk pun harus dipertegas: liberal atau anti-liberal? Inilah negeri kita, dan kita menghabiskan sangat banyak energi untuk omong-kosong. *

http://koran.tempo.co/konten/2012/12/29/296186/Keberagamaan-di-Negeri-Syahdan