Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 08 Juni 2013

Perempuan Labala, Perempuan Lamaholot (4)

Inak Pile Amak Tada, Gereun Ata Nimun

Oleh Muhammad baran

Tena data…
Nuba pulo lein lau,
lugu dore laran lali…
laran lali doan-doan
doan sagu atu matan..
Nara lema weran rae,
Gere tapin tewa weli…
Tewa weli lela-lela,
Kotadon luewa..
Selanjutnya, laki-laki yang akan menjadi calon suami bagi perempuan lamaholot berasal dari klan ana makin.  Biasanya agar hubungan  keluarga  dari klan ibu dan keluarga bapak tidak putus, para kebarek (gadis) lamaholot yang berasal dari klan ibu yaitu anak perempuan dari saudara kandung laki-laki  atau saudara sepupu laki-laki ibu. Orang Labala menyebut atau memanggil saudara laki-laki ibu dengan opu lake. Anak gadis dari opu lake inilah yang bisa di kawini.

Kebanyakan sistem kawin mawin seperti ini dianggap paling ideal. Meski sebenarnya di antara laki-laki dan perempuan yang dijodohkan masih memiliki hubungan darah yang sangat dekat atau bisa katakana saudara  sepupu. Hubungan perjodohan antara sepupu ini dalam bahasa adat  orang labala disebut gereun nimun.

Mai tobo tena lali,
Mai pae laya weli
Ama… ama… ama…
Model atau sistem perkawinan seperti ini dalam ajaran agama islam yang di anut mayoritas orang labala ini sangat terlarang. Sebab antara si lelaki dan perempuan  masih memiliki hubungan darah yang sangat dekat. Hanya saja, sebagai mana yang telah saya jelaskan sebelumnya,  pengaruh adat masih sangat kuat pada hampir semua kehidupan orang lamaholot

Babak selanjutnya dari kehidupan rumah tangga dan social perempuan hanyalah  mengabdikan diri kepada keluarga suami bahkan keluarga besar suku atau klan suami.

Bua tukan lau mai,
Bua bogeliki tena…
Tebede…tuka lau mai
Dayon lolon haka mai,
Dayon bogemapak laya…
Tebede… lolon haka mai
Bila ada acara adat di labala yang melibatkan semua suku atau klan misalnya, maka perempuan sepenuhnya membantu bekerja melayani kepentingan keluarga besar suku atau klan suaminya. Mulai dari urusan adat dimana perempuan memiliki tupoksi urusan dapur . Perempuan lamaholot ini dituntut gelekat suku lamak (mengabdi) secara total hingga selesai urusan adat.

Perempuan Labala adalah representasi perempuan lamaholot yang berdedikasi tinggi terhadap suami dan dan keluarga dalam suku lamak. Mereka hanya bisa melakukan gelekat (pengabdian) kepada keluarga inak-amaknya (ayah-ibunya) atau naan (saudara laki-lakinya) bila mendapat restu atau izin dari keluarga suami. Dalam hal ini kapasitas mereka (perempuan) dalam suku atau klan keluarganya adalah sebagai ina bine yaitu saudari atau anak perempuan yang kembali mengabdi kepada keluarganya.

Ole lolon nen temedo
Wura walen nen tedata…
Ama… ama... ama…
Selanjutnya, dalam kehidupan rumah tangganya, perempuan lamaholot kemudian mengarungi lika-liku  kehidupan yang tidak mudah. Apa lagi dalam keluarga baru tersebut dikaruniai anak keturunan, sang suami kemudian  pergi merantau berpuluh-puluh tahun karena tuntutan ekonomi.

Ama kata orangtua,
Mata ewan gosu-gosu…
Kaka ata lekot gayo,
Bolak ewan labot-labot…
Ama… ama… ama… (**)

Perempuan Labala, Perempuan Lamaholot (3)

Jodoh Sampe Hala Hae…

Oleh Muhammad Baran

Nuba kame ata medon
Timedo-medo, ata mete hulen lile..
Nara kame ata susah
Tisusah-susah,  onek mete noi denga
Sebagaimana yang telah saya singgung pada tulisan sebelumnya, karakter dan watak perempuan lamaholot umumnya dibentuk oleh aturan adat yang menuntut para perempuan  untuk mengabdi kepada laki-laki (suami)

Kepatuhan yang nyaris total terhadap adat yang cenderung memarginalkan peran perempuan inilah sehingga dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan, perempuan lamaholot nyaris tak  punya andil. Perempuan hanya berperan di balik layar terutama mengurus  keluarga, merawat dan membesarkan  anak, serta mengatur urusan dapur bila  ada hajatan adat.

Sesuai aturan adat, setelah dipingit dan menikah, kehidupan perempuan lamaholot terlepas dari ikatan keluarganya. Maksud saya, segala hal yang menyangkut tanggung jawab kehidupan perempuan, pihak keluarga  tak lagi memiliki kuasa melakukan interfensi atau campur tangan.  Perempuan lamaholot kini sudah menjadi milik keluarga suami, dan masuk menjadi anggota  keluarga baru suku atau klan suaminya.

Gaku liman sedon, mete pana mai
tiwan leik tepelea….
Towa leik barek, mete gawe mai
Walen lima tewelekot…
Praktis keluarga perempuan berlepas tangan dan menyerahkan  sepenuhnya tanggung jawab anak perempuannya kepada suami dan keluarga suami. Keluarga perempuan  hanya boleh campur tangan mengurus anaknya bila terjadi pelanggaran janji adat atau kesepakatan adat oleh pihak laki-laki  mengenai belis/weli (maskawin)  atau bila terjadi kekerasan fisik kepada perempuan yang melampaui batas yang dilakukan suaminya.

Di sini, keluarga perempuan lamaholot melakukan tuntutan adat atau terpaksa turun tangan  menyelesaikan masalah anak perempuannya. Selain dari persoalan itu, praktis  tak lagi ada wewenang atau otoritas  bagi keluarga perempuan  mencampuri kehidupan keluarga putrinya.

Umumnya perempuan lamaholot kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Lebih tepatnya , perempuan lamaholot dijodohkan. Mereka nyaris tak punya pilihan sendiri untuk menentukan pilihan menikah dengan laki-laki mana yang disukainya.

Remaka dako ata suku bela
onek sena tegerenga….
Turu tali ata riansare
Aek geka teberewo…
Sesuai aturan adat, selama para perempuan lamaholot belum bersuami, mereka sepenuhnya berada dalam tanggung jawab orangtua. Maka orangtualah yang paling berwewenang penuh mengatur kehidupan anak perempuannya, termasuk dengan laki-laki mana yang pantas untuk dijodihkan dengan sang anak.

Ini kedengarannya seperti kisah cinta siti nurbaya, namun inilah kenyataan yang harus diterima perempuan lamaholot. Suka atau tidak. Bahkan nyaris dalam tata laksana adat,  perempuan hanya memiliki kapasitas sebagai pelayan atau pelaksana  kebijakan adat. Mereka tidak memiliki wewenang  memutuskan kebijakan adat yang memang menjadi monopoli kaum lelaki.

Peten hala, maan wure bura
Kiden rae tewerekot uma tukan
Sama wato miten lango tukan
Sudi hala. Maan bene-bene
Tudak lau teberenga lango onek
Helon wura bura watan lolon. (**)

Selasa, 04 Juni 2013

Kau Begitu Lama Sayangku

Kau Begitu Lama Sayangku
 
Oleh Hamba Moehammad

padamu, rinduku adalah rindu pungguk pada bulan. tak kenal kata sudah

dan penantianku adalah kesetiaan hujan malam ini. merintik dengan gelisah di sela atap rumah dan jatuh tik-tak ke tanah.

juga ingatanku adalah  kesabaran air yang mengalir senantiasa. rasah di antara ceruk bebatuan yang hijau lumutan.

kau begitu lama sayangku

sementara aku tetap di sini membilang detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun yang terus pergi. dan kuharap ketika kau kembali, janji yang pernah kita gores di batang pohon akasia itu tetap kau genggam.

kau begitu lama sayangku

dan kini rinduku tak lagi tangguh. baiknya kutitip saja pada angin malam ini. tunggulah di jendela kamarmu.

kau begitu lama sayangku

Jumat, 17 Mei 2013

Banyak Kegilaan di Republik Ini

Banyak Kegilaan di Republik Ini

Oleh Hamba Moehammad

banyak sekali kegilaan yang terjadi di negeri ini. kegilaan yang saya maksudkan di sini adalah perilaku yang mengabaikan nurani. perilaku yang mencampakan rasa malu ketika melakukan tindakan atau perbuatan amoral. sikap tega menjadi tren yang sedang populer dan menjadi bahan perbincangan hangat akhir-akhir ini di media.

setiap hari kita disuguhi berita maraknya kejahatan. di jalanan ada pemerasan, pencopetan dan pembunuhan. di rumah ada perampokan, pemerkosaan, dan kekerasan rumah tangga. di kantor ada sogok, suap dan korupsi meraja lela. bahkan di tempat ibadah dan instansi agama marak terjadi pencurian, penipuan dan manipulasi.

nyaris tak lagi tersisa ruang hijau di republik ini untuk menghasilkan oksigen kewarasan. ruang di mana setiap orang sejenak berkontempelasi, mengembalikan ingatan batin, pikiran dan kesadaran spiritualitas dari sifat feodalisme, dan watak lemah. semua ruang-ruang itu terjamah polusi kegilaan yang semakin pekat dan berada diambang batas pencemaran yang nyaris total.

mungkin benar adanya seperti yang pernah di katakan Mochtar Lubis, bahwa orang indonesia termasuk jenis manusia hipokrit, berjiwa feodal, dan berwatak lemah. inilah macam ragam kegilaan  yang menjamah hampir di segala sudut hidup dan kehidupan bangsa ini.

orang indonesia perlahan-lahan mulai meninggalkan karakter aslinya.  sopan santun tak lagi laku dalam pergaulannya. rasa malu sudah dianggap kolot dan ketinggalan zaman. tenggang rasa dianggap kampungan, gotong royong telah diganti dengan gaya hidup nafsi-nafsi. sifat terpuji yang di wariskan leluhur bangsa ini telah dirampok oleh ketamakan dan keserakahan dengan memiliki sebanyak mungkin modal, menguasai sebanyak mungkin kursi jabatan  dan pengaruh.

sifat-sifat luhur perlahan luntur, diganti dengan sifat rakus para politikus. sifat santun diganti laku angkuh para pemangku. sifat jujur kian tak mujur, kalah tergusur oleh sifat kemaruk. kita menjadi lebih tamak (loba) dan tak mengenal kata cukup. selalu ingin lebih lagi dan lagi hingga akhirnya menjadi gila. gila kuasa, gila harta, gila penghormatan, dan masih banyak rupa-rupa kegilaan lainnya.

bukankah gila orang-orang yang senang memamerkan kemewahan di tengah-tengah kesengsaraan rakyat yang kelaparan? bukankah gila juga orang yang masih bisa tersenyum bak pahlawan ketika dihujat dan dihukum karena korupsi?

dunia ini memang tak hanya diisi oleh mereka yang ingin hidup waras.  mereka yang gila pun ingin hidup dan menunjukan eksistensinya. maka mereka yang merasa masih memiliki cukup kewarasan, memikul amanat suci untuk mengembalikan kewarasan orang-orang yang tak lagi waras alias mereka yang nyaris tak waras itu. tapi ini bukan pekerjaan mudah. butuh komitmen dan konsistensi selain modal tenaga, pikiran dan waktu.

pada kadar tertentu, kegilaan juga kadang menjadikan mereka yang merasa masih waras lebih waspada dan punya persiapan menghadapi aneka kegilaan-kegilaan lain yang meraja.

di sini, hidup memang kadang menemukan kegilaanya sendiri. dari kegilaan inilah, hidup menjadi lebih dinamis, lebih riuh, lebih ramai dan penuh warna-warni. dengan demikian, mereka yang merasa masih waras, punya tanggung jawab untuk menyadarkan mereka yang tak lagi waras. berat memang. tapi ini amanat suci. terkadang memang kita butuh cara kerja dan tindakan gila untuk menghentikan kegilaan. ah serba gila memang. (HM)

Relatifitas Kebenaran

Relatifitas Kebenaran

Oleh Hamba Moehammad

kita sering  membincangkan kebenaran. bahkan kita kerap mengampanyekan penting dan perlunya kebenaran. karena sebagai jamaknya, kebenaran  yang dalam istilah agama dikenal dengan al-haq, dianggap memiliki nilai luhur atau kemuliaan.

lawan atau musuh dari kebenaran adalah kebatilan. di sini kita menganggap kebatilan mengandung nilai-nilai destruktif. daya yang merusak. dengan demikian  dia harus dijauhi, bila perlu dienyahkan.

tapi  apakah mungkin kebatilan bisa dienyahkan? lebih tepatnya, bisakah kebenaran diceraikan dari kebatilan?

untuk mengetahui atau mengenal sesuatu, apalagi  sesuatu  yang normatif, kita juga harus berlaku adil. maksudnya, kita juga sepantasnya memperlakukan dua hal yang kontradiksi untuk diperbandingkan. termasuk menjadikan kebatilan sebagai pembanding  sesuatu yang kita anggap benar. bukankah untuk mengetahui terang, kita juga harus mengenal gelap?

semua pahaman dan keyakinan kita akan kebenaran hanyalah upaya maksimal kita dalam menemukan kesempurnaan. termasuk pahaman dan keyakinan kita akan kebenaran yang bersumber dari  Tuhan sendiri.

kita hanya bisa menemukan kebenaran itu, manakala segenap kemampuan dan wawasan kita memenuhi standar kualifikasi kelayakan. itu pun tak menjamin pencarian kita  sampai pada tahap final menemukan kebenaran yang utuh, yang sejati.

upaya kita dalam memahami dan meyakini dalam mencari kesempurnaan barangkali tak sepenuhnya utuh dan tuntas. karena kebenaran  itu bersifat relatif. apa pun bentuk dan jenis kebenaran itu. termasuk, sekali lagi, kebenaran dari tuhan sendiri.

satu-satunya kebenaran sejati, kebenaran yang mutlak adalah tuhan. karena dia, sebagai mana bahasa kitab suci, adalah hakikat kebenaran. tapi bila kebenaran itu keluar dan terpisah dari hakikat tuhan, maka kebenaran menjadi relatif. dengan sendirinya kebenaran memiliki ruang untuk di perdebatkan.

akhirnya, meyakini kebenaran, berarti pula menyadari setiap jengkal kemungkinan kesalahan sebagai perbandingan.  ketika kita tak menjadikan kesalahan sebagai pembanding dari kebenaran, bohong belaka jika kita mengklaim mampu  menemukan hakikat kebenaran itu.

kita (manusia) memang selalu diperhadapkan dua hal yang paradoks untuk menemukan dan kemudian menentukan pilihan. termasuk menemukan dan menentukan kebenaran akan kebenaran itu sendiri. kebenaran yang relatif, kebenaran yang nisbih itu. (HM)

Rasa Peduli Telah Pergi

Ketika Rasa Peduli Telah Pergi

Oleh Hamba Moehammad

Kata Albert Enstein, dunia adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak peduli.

Enstein mungkin benar. bagaimana pun juga, maraknya kejahatan yang meraja lela di dunia ini karena kita kehilangan kepedulian. kepada sesama, kepada lingkungan, bahkan dengan Tuhan sekali pun kita tak lagi peduli dengan perintah dan larangannya.

kepedulian kita perlahan anjlok hingga ke titik yang teramat nadir. kesibukan berburu di medan persaingan membuat kita kehilangan rasa peduli. tak ada waktu untuk sekadar jedah, tak ada batas untuk selesai. kita berpacu bak roda gila. menggilas semua kesempatan kita untuk peduli.

Kesibukan inilah barang kali  yang menjadi salah satu pemicu betapa kita tak lagi saling peduli. yang ada di pikiran kita hanyalah bagaimana cara menyingkirkan, menghalau,  dan mengusir paksa orang-orang yang disinyalir berpotensi menjadi pesaing kita. di arena tikai dan seteru. lain tidak.

serta merta pikiran kita pun tersita. tenaga kita tersita.  bahkan cinta kita pun tersita. nyaris tak  ada lagi ruang kepedulian. habis hanya untuk memenuhi dan memuaskan keinginan dan ambisi. tapi apakah ambisi dan keinginan  bisa dipuaskan?

kepedulian kini menjadi barang langka. nyaris punah dari hati dan pikiran kita. kalau pun masih ada, keberadaannya disertai pamrih, mencari untung semata.

yang tulus, yang lurus, dan yang mulus, hanya menjadi hiasan kata kala berkhutbah. selebihnya menjadi catatan dalam kitab yang tertata apik daam arsip museum sejarah. tertutup debu zaman yang semakin kelabu. (HM)

Lupa Ingatan

Lupa Ingatan

Oleh Hamba Moehammad

ketika saya menyebut kata "lupa"  dan "ingat", apa yang terbayang dalam benak anda? 


lupa dan ingat; dua kata yang sering kita salah kapra ketika berusaha memahaminya. kita kesulitan menempatkannya dalam konteks. malah sering memelesetkannya.

pemelesetan yang paling terkenal dan sering kita dengar bahkan kita sebut adalah "lupa ingatan". apa sebenarnya makna dari kalimat ini? dua kata yang sebenarnya bertentangan nakna, namun dipaksakan bersanding mesra  untuk sebuah makna yang sama sekali berbeda.

jangan bilang kalau kita adalah orang-orang yang berbaik hati menciptakan perdamaian termasuk mendamaikan  kata "lupa dan ingat menjadi "lupa ingatan" itu. ah betapa absurdnya.

sampai hari ini saya masih kebingungan mencerna kalimat "lupa ingatan" ini. mungkin maksud awalnya adalah  terjadinya kepikunan yang disebabkan umur yang sudah sangat uzur atau penyakit tua.

tapi entah mengapa kalimat ini kemudian berkembang maknanya untuk menggambarkan seseorang yang tak lagi waras. jangan-jangan kita memang sudah tak lagi waras sebagaimana maksud kalimat itu. hanya Tuhan yang tahu.

ingat artinya berada dalam pikiran atau tidak lupa. ingat juga berarti timbul lagi dalam pikiran. ingat juga berarti sadar  dan memikirkan sesuatu.

sedangkan lupa artinya lepas dari ingatan atau tidak dalam pikiran. lupa juga berarti  tidak teringat atau tidak sadar, tidak sadar akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya. lupa juga berarti lalai.

pada intinya, ingat artinya tidak lupa, dan lupa artinya tidak ingat. luar biasa. begitu mudanya kita mempermainkan makna kata-kata dengan hanya membolak-baliknya, kita sudah mendapat pahaman terhadap kedua kata ini.

terlepas dari pengertian secara harfiah kedua kata di atas, ingat dan lupa tidak bisa diartikan atau ditafsirkan secara parsial. pengertian dan pemaknaannya harus sesuai konteks.

meski pada kenyataanya , kita sering memahami kata ingat selalu berhubungan dengan hal-hal yang positif. sedangkan kata lupa selalu dihubungkan dengan hal-hal yang negatif.

dalam konteks sosial, ingat artinya peduli. memikirkan atau punya kepekaan sosial yang tinggi kepada sesama. bentuk kepedulian ini bisa berupa memberikan pertolongan atau bantuan kepada sesama yang membutuhkan.

sedang lupa justru sebaliknya. kata ini sering diasosiasikan dengan perilaku  tak membalas budi atau jasa baik. orang mengenal istilah, kacang lupa kulit, artinya, perbuatan seseorang yang tidak tahu berterima kasih. dan masih banyak lagi ungkapan yang cenderung menganaktirikan kata lupa dalam kamus berbahasa kita.

di sini ada kebajikan yang di semai dari pemaknaan kedua kata ini; lupa dan ingat. dengan sendirinya ada kenangan dan nostalgia, buah dari ingat dan lupa dalam konteks manusia dan kemanusiaan . bukan malah memelesetkannya sehingga membuat kita menjadi orang yang "lupa ingatan" kepada segenap kebajikan kata; termasuk lupa dan ingat-yang dikaruniakan kepada kita. (HM)