Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 25 Juni 2013

Teluk Labala (Sebuah Cerpen)

Teluk Labala (Sebuah Cerpen)

Oleh Hamba Moehammad


Pantai Teluk Labala-Leworaja, Lembata-NTT
Masih banyak kenangan yang ingin kukisahkan darimu. Tapi aku ragu adakaah ribu-ratumu yang sudi menyimaknya?

Di pantai Wailolon-mu yang sepi aku berdiri. Sembari bersandar di bawah pohon ketapang. Dikitari  rimbun  pohon kelapa dengan daun yang menari gemulai dirayu angin.  Aku diam sejenak, tepekur  memandangi laut sawu-mu yang tak henti menggelorakan kegusaran. Apa yang hendak kau  katakan? Tak ada. Aku malah melihat serpihan hatiku yang melayaang di permukaan laut Wutun Leworaja-mu. serpihan yang menyisakan luka goresan memerah dan segaris darah.


Ini hari sabtu. Hari pasar bagi masyarakat di Kecamatan Wulandoni dan Kecamatan Atadei. Kulihat ribu-ratu-mu lalu lalang dari Kahatawa ke Wulandoni tanpa melirik sungai wailei yang malas beriak dan mesum. Penuh misteri dikala musim kemarau tiba.


Dulu kukenal kau begitu cantik memikat; Wutun Lusitobo-mu nan indah, pantai Watonama-mu  yang unik, pantai Baka-mu yang berombak garang dengan pasir pantai dimana nuba-sili ata Leworaja yang riang bermain bola, ada juga muda-mudi Atakera yang sibuk bermandi riang di Waitewo dengan airnya yang berwarna putih susu. Juga pantai Kemeru Wutun dengan Watotena yang konon menjadi bukti sejarah eksodus masyarakat Labala dari Lepan-Batan, juga pasar Wulandoni yang terkenal itu, hinggah di Wutun Lelakewate-Nuhalela.


Kau masih ingat? Ketika timu teka wara pasan,  debur ombakmu menggulung dan pecah di atas Benapa Lukiono.  Dan pada pagi hari ketika mentari memanjat  di balik punggung Wutun Atadei dengan cahaya pertama yang paling bening, ia memantulkan triliunan tembakan sinar sehingga berjuta-juta berlian berpendaran di permukaan laut Sawu-mu. Tapi sekarang apa? Bagai naga kelaparan yang minta sesajen, lautmu menggelorakan amarah.  Dia hanya meratap ketika pantaimu tak lagi landai dan tak terurus lagi, tergerus abrasi ketika pasang naik bulan Agustus.  Sementara kemajuan Lewotanah semakin membuatmu terpuruk dan menderita. Ribu-ratu-mu seenaknya mengeruk pasirmu untuk membangun rumah, gedung sekolah, kantor camat, kantor polisi,  markas tentara dan rupa-rupa bangunan lainnya. Ah mereka menyebutnya ini kemajuan? Tapi kemajuan justru membawa konsekuensi kerusakan pantaimu, sungai dan dan lautmu. Dan sepotong kenangan masa kecilku pun direnggut serta. Nyaris tak bersisa.


Dan sungaimu bernasib sama sialnya. Waibelehe kehilangan rumpun bambu yang kutanam bersama kawan-kawan waktu kecil dulu,  hutan lamantoro di sekitar tanjung Watobua pun kini habis dibabat untuk pakan ternak. Belum lagi pelebaran jalan yang melintas di punggung tanjung Leworajamu membuat pepohonan tua yang rindang peninggalan Belanda dan situs bersejarah peninggalan nenek moyang jadi korban gusuran buldozer proyek pemerinta. Katanya mau buat jalan. Tapi  sampai kapan?


Kau masih ingat? Sebagian kenaangan dan segenap kisah cinta masa kecilku terekam apik disini. mungkin dulu kau mengulum senyum maklum bila musim ombak tiba, kau tersenyum melihatku dan kawan-kawanku selepas jam sekolah, meski masih mengenakan seragam sekolah, dengaan sebilah papan kami berselancar di pantaai lukiono. tak peduli disemprot Inak dan Amak kami karena seragam sekolah sobek.


Kelakuan masa kecilku dulu memang kurang ajar . Tapi itulah kenangan masa kecil yang masi tersisa kini. Dan aku kadang termangu murung di bawah pohon ketapang ini, mengenal rasa kesepian untuk kesekian kali. Setelah itu, hanya bisa mengenang masa kecil yang kini telah menjadi lampau. Masa kanakku tergerus dengan  lekas oleh dunia nyata yang tak kenal ampun. Setamat sekolah di SD Inpres Luki, aku merantau menuntut ilmu di kota daeng. aku bahkan sempat lupa dengan sebuah teluk nan elok di pantai selatan Kabupaten Lembata yang pernah kuakrabi ini. Mungkin selama diperantauan meenuntut ilmu di kota,  aku hanya melihat kali atau kanal yang berlumpur dan berbu busuk.


Waktu kecil aku suka berlama-lama mandi bersama kawan-kawanku di lautmu sambil bermain dengan berlomba memilih batu karang berwarna putih untuk bermain benteng-bentengan, sedangkan amak-amak di kampung yang lagi duduk  santai sambil menjahit pukat di pantai mengingatkan kami agar jangan sampai lupa mengerjaakan PR sekolah.


"Ingat anak. Boleh main tapi jangan sampai lupa dengan tugas sekolah," kata salah seorang Amak mengingatkan kami dengan logat melayu malaysia suatu ketika. Terkadang karena keasyikan dan lupa waktu,  para amak-amak ini terpaksa  memksa kami untuk pulang ke rumah masing-masing bila magrib menjelang.


Kelembutan dan kasih sayang Inak dan Amak kami di kampung kemudiaan tergantikan  dengan ekspresi dingin sekaligus  tempramental kehidupan kota pada masa dewasaku hingga akhirnnya aku pulang  ke tepian pantaimu ini.


Waktu memiliki otoritas tak berbendung untuk mengubah segala hal termasuk kau, teluk kesukaanku. Ketika pertama memandangmu kembali, bermunculan potret-potret masa kecil dari laci ingtanku; wajah Inak dan Amak penuh amarah yang pernah kujahili bersama  kawan, pun wajah kawan-kawanku yang dulu saling berebut  tali pancing untuk memancing belut,  juga ukiran namaku dan nama kawan-kawanku di salah satu batang pohon asam yang kini tak lagi ada. Kata Inak-ku, pohon asam yang menjadi markas kami kecil dulu, kini telah tumbang jadi korban abrasi.


Pantaimu tampak asing sekarang. aku tak menuntut pasir putih, jejeran pohon kelapa,  dan pohon beringin seindah dulu, tapi bahkan bekasnya pun tidak. Semuanyaa sudah diseret gelombang pasang lautmu. Tak bisa lagi aku berteduh di bawahnya; menunggu para amak kami pulang melaut, memanjati batang dan dahannya, bermain perang-perengan di bawah pohonnya yang rindang.


Dengarlah wahai telukku. bukan hanya engkau. Barangkali aku pun telah berubah.  Setidaknya aku bukan lagi kanak-kanak yang pernah lau kenal. dan bukan pula seorang pejabat pemerintah yang peduli menyusun program pelestarian lingkungan untuk mengembalikaan keelokanmu.  Aku datang sebagai seseorang yang pernah menghabiskan masa kanak di pantaimu, di sungaimu, di tanjungmu, juga di lautmu. dengan harapan,  kalak memandangmu bisa menggugah kembali ingatan akan segenap kenangan masa kecilku, menjadi pelipur lara, dan obat kereinduanku padamu.


Wahai telukku, inilah aku.  Kutengok masa kanakku. sungguh aku tak terkejut mendapai Waibelehe-mu merana,  pantai Lukiono-mu nestapa,  tanjung Leworaja-mu tercampakan, tanjung Watobua-mu kesepian, juga ribu-ratumu yang tak lagi peduli dengan nasibmu kini. Bukan hanya mereka yang diacuhkan,  bahkan kenangan masa kanakku pun tak sempat kuselamatkan, tak sanggup kututurkan kepada Nuba-Nara-mu kelak.


Wahai telukku, inilah aku. Masih ingatkaah kau pada si Hajon, si Dulah, si Kadir, si Tuen,  dan si Musa? Mereka semua adalah kawan kawan masa kanakku yang hampir tiap hari berenang di Laut Sawu-mu, berlari mengejar kepiting di pantai Wailolon-mu,  pergi mencari kerang di tanjung Lewworaja-mu, berpiknik ria di tanjung Watobua-mu. Kamilah anak-anak kecil yang nakal itu. kamilah bocah-bocah ingusan  waktu itu yang  gemar mengikuti perahu orang Ende mengebom ikan-ikanmu.


Dulu aku pergi tanpa pamit, kini aku datang menuntut penyambutan. Maafkaan aku. Bisakah kita bersahabat kembali seperti masa kanakku dulu?


Mungkin persahabatan kita tak semesraa dulu. Tak bisa lagi aku berlari meengejar kepiting di pantaimu, berteduh di bawah pohon asammu,  atau mencari siput di tanjungmu. aku sendiri  tak setangkas dan tak seceria dulu. Siapa engkau, siapa aku: satu sama lain telah menjadi asing.


Wahai telukku, naibmu kini seperti rumah Inak-ku di tobilangun. Tak bisa lagi berkutik.  Terjepit di antara rumah-rumah yang semakin rapat dan mendesak memaksa.  Lorong-lorong yang disemen beton pun menyempit. Tiada lagi tanah lapang di tobilangun yang dulu aku dan kawan-kawanku bisa sepuasnya bermain:  bato kote, patuk lele, botipehupasa karethoro maku loa selepas teraweh di mesjid.


Masih lekat dalam ingatanku, bila bulan purnama terang,  di tobilangun aku dan kawan-kawanku ramai bermain tarian tradisional: lili, liang, oha, sole, dolo-dolo dan rupa-rupa tarian lainnya. sayangnya semua keriangan masa kanak itu kini tinggal kenangan.

Begitu juga dengan rumah Amak-ku di pinggir Pantai Wailolon-mu. Tiada lagi tanah lapang dan rumpun bambu di bantaran  Waibelehe yang selalu mendesis jika angin Laut Sawu membelai dedaunnya yang rimbun.


Disinilah aku berdiri. masih di bawah pohon ketapang di Pantai Wailolon-mu yang kikuk ini. coba menanggapi perubahan zaman. Kurenungi raut wajah pantaimu yang kini lesu pada saat gerimis akhir bulan desember menciumnya tanpa suara.



Disini ingin kuhabisi sisa usia sebab  disini ada sahabat setia yang kupercaya untuk menitipkan cerita masa kanakku.  Seperti juga aku, dia juga sudah berubah tak segemilang dulu. Tak terlihat lagi jejern pohon asam, ketapang dan beringin berjejer apik di pinggir pantainya, juga tak tampak lagi burung bangau  yang sibuk menncari kepiting dan bangkai ikan. Sementara suara elang dan camar laut  yang biasa berburu ikan, tak lagi tersimak. Kemajuan Lewotanah  yang tak dibarengi dengan kepedulian yang sungguh-sungguh dari ribu-ratu-nya, melengkapi derita telukku, teluk yang kini dirundung murung. (**)

Senin, 24 Juni 2013

Puisi Semesta

Puisi Semesta

Semesta Lalu

Oleh Hamba Moehammad

lalu aku lalu kau. 
lalu kami lalu dia.
lalu kita lalu mereka. 
lalu apa lalu siapa. 
lalu kapan lalu dimana. 
lalu mengapa lalu bagaimana.

lalu aku naik turun menghela napas hendak memburu tatapanmu. 
lalu kau keluar masuk mencari bekas ciuman yang alpa kuhapus. 
lalu dia mencoba memberi isyarat kedatangan purnama malam ini. 
lalu kita terkulai setelah tahu tatapan dan bekas ciuman  tak lagi ada. 
lalu mereka menduga kita tak pernah becus saling menjaga dan mengasuh. 
Lalu kami hanya jadi penonton memelototi setiap episode yang mendebarkan.

lalu apa yang terjadi. 
lalu siapa jadi biang keladi . 
lalu dimana harus sembunyi. 
lalu kapan  bisa berhenti. 
lalu mengapa semua terjadi. 
lalu bagaimana lakhir segenap kebebalan ini. 

lalu aku lalu kau. 
lalu kami lalu dia, 
lalu kita lalu mereka. 
lalu apa lalu siapa. 
lalu dimana lalu kemana. 
lalu mengapa lalu bagaimana.
=============================
Semesta Mana

oleh Hamba Moehammad

aku.....

seperti arus sungai tak tahu ke samudra mana ia akan mengalir
seperti angin ia tak tahu ke penjuru mana ia akan  berembus
seperti ombak ia tak tahu ke pantai mana ia akan  memecah
seperti awan ia tak tahu ke cakrawala mana dia akan berarak
seperti hidup ia tak tahu  ke detik yang mana ia akan menemui kematian.
seperti aliran sungai, hembusan angin, pecahan ombak, arakan awan,  kematian hidup
apakah mereka tak tahu ke hariban mana harus kembali?
=======================
Semesta Pada

Oleh Hamba Moehammad

pada rembulan malam kukirim selalu tangkai-tangkai kerinduan. 
tak perlu aku minta balasan setimpal

pada seorang perempuan kualamatkan segenap deritaku. 
tak perlu aku sebut namanya.

dan pada sebuah catatan harian kutulis serpihan kenangan. 
tak tentang rembulan malam dan seorang perempuan
=====================

Jumat, 14 Juni 2013

Tak Peduli


Tak Peduli

Oleh Hamba Moehammad



"najis kau!" katamu padaku

tak peduli aku

tahu kau kan?

mutiara tetap mutiara

meski dimulut anjing ia tersangkut

tak jadi hina ia

tak jadi najis ia

jangan-jangan yang najis itu

kata "najis" yang kau ucap itu.

Sudah Merdekakah Kita?



Sudah Merdekakah Kita?

Oleh Hamba Moehammad


"Sudahkah anda merdeka?" tanya temanku.

Saya jawab,"Saya tidak tahu apakah saya sudah merdeka di republik yang telah berusia lanjut ini? Saya juga tak tahu apakah negeri ini benar-benar merdeka dari penjajahan yang sesungguhnya?"


mungkin lebih jelasnya, silahkan kau tanyakan langsung kepada bapak-bapak kita yang lagi duduk di atas singgasana republik ini. Apakah mereka juga tahu bahwa mereka adalah orang merdeka sejak republik ini diproklamirkan oleh Soekano-Hatta?


Anda yang lain silahkan tanyakan kemerdekaan Anda. Supaya kalau Anda ditanya oleh teman saya di atas, paling tidak Anda sudah punya jawaban mendekati pasti. Selamat bertanya.Selamat HUT Republik ini bagi anda yang sudah merasa merdeka untuk merayakannya. (HM)

Banyak Nama, Banyak Wajah



Banyak Nama, Banyak Wajah

Oleh Hamba Moehammad


Menurutmu, kebajikan itu memiliki banyak nama. Dan itu bisa saya, kau, dia, mereka, kalian, kami, dan atau kita. Dan aku hanya bisa tersenyum menyimak penjelasanmu.


"Lalu, bagaimana dengan keburukan?," aku coba melempar tanya padamu.

"Begitu pula keburukan," kau memulai lagi wejanganmu. Ia memiliki banyak wajah. Bisa saja wajahku, wajahmu, wajahnya, wajah mereka, wajah kalian, dan atau wajah kita."


Kali ini aku hanya diam. Coba meresapi kata-katamu. Untuk saat ini aku belum punya kesimpulan. Mungkin aku butuh tidur lebih cepat malam ini. Siapa tahu, dalam mimpi aku bisa punya kesimpilan itu......(HM)

Minggu, 09 Juni 2013

Pernahkah Kita Ada?


Pernahkah Kita Ada?
Oleh Hamba Moehammad

Orde melesat dengan roket-roket teknologi. dan kita hanya sayik memuji kejeniusan mereka. Kita kerepotan berpikir untuk menemukan bagaimana cara untuk berdiri tegak dan setara.

Zaman berubah dengan aneka kecanggihan. Dan kita tak ubahnya  manusia-manusia primitif yang menyangka kecanggihan bisa menelan otak kita yang kerdil bulat-bulat.

Abad pun berganti kini. Dan coba sejenak kau lihat! Dengan  segenap perangkat kemudahan yang dihasilkan dari iktiar kreatif, semakin membuat kita tenggelam dalam kubangan keterbelakangan. Kita hanya menerima nasib menjadi penonton dengan hanya menyoraki aneka kemajuan.  Hingga pada titik tertentu, kita dengan sukarela menyerahkan diri untuk menjadi kelinci percobaan dari aneka perangkat kecanggihan.

Kita seakan tertakdir sebagai penonton dan pengagum setia dari aneka sihir kemajuan yang menurut pemikiran dangkal kita, semua itu adalah mukjizat. Dan kita hanya membiarkan diri kita tersesat di antara rimba belantara moderenitas yang semakin lebat. Kita membiarkan diri kita terseret arus limbah kemajuan dan pada kali yang lain, dengan ikhlas menyerahkan jiwa dan semangat kita digilas roda kecanggihan.

Ketika zaman terus berubah, sementara kita hanya asyik berkubang dengan impian semu, barangkali kita benar-benar ditakdirkan sebagai sapi perah, atau kerbau bajak, atau apalah namanya yang kira-kira pas dilekatkan kepada kita.  Dan pada akhirnya kita tak lain hanya sekadar kumpulan manusia terbuang, terempas dari gelanggang percaturan dunia.

Yah. Kita manusia-manusia yang mengabaikan kecerdasan dan lebih memilih menjadi pokrol bambu. Kita mencampakkan integritas dan lebih menyambut sogokan dan suapan. Kita hanya mau menjadi antek-antek kepentingan ketimbang menjadi penggerak kemandirian.

Kitalah manusia yang bermental pemakai bukan pencipta. Kita hanya bisa merusak tanpa tahu cara memperbaiki.  Kita hanya gampang mengotori tanpa pernah belajar membersihkan. Kitalah spesies manusia yang terkadang gemar berbelanja melebihi batas mampu dan sanggup kita hanya mengejar pengakuan, hanya karena gengsi. Kita dianggap makhluk unik lantaran perilaku kita masih mempertahankan laku primitif dalam menyelesaikan sengketa dan tikai. Kita hanya mementingkan kepentingan sesaat. Pikiran dan nafsu kita berjangka pendek, bahkan sangat pendek.

Yah. Pada akhirnya, kita hanya diperlukan bila zaman telah kelelahan dan membutuhkan hiburan tambahan. Kita hanya dibutuhkan bila orde kehabisan bahan lelucon. Dan kita dengan suka rela menewarkan diri menjadi pelawak guna menghibur mereka dengan mencela dan merendahkan diri sendiri. Kita, pada zaman yang serbah cepat dan terburu-buru ini, menjelma menjadi spesies unik yang perlu tetap dilestarikan dan diberdayakan dari ancaman kepunahannya sepanjang putaran periode zaman.

Kitalah spesies manusia yang pelan tapi pasti terkubur oleh waktu. Tertimbun bersama jejak-jejak yang kabur. Dan pada suatu masa, kita tak lagi tercatat dalam lembaran sejarah kebudayaan manusia yang beradab. Kita bahkan kalah bersaing dalam rupa-rupa hal karena kita memang tak perna berani bersaing. Kerap kita mundur tanpa pernah mencoba berani untuk bersaing.

Kalau ada yang pantas dikenang dari makhluk menyedihkan seperti kita ini,  kita hanya dikenang  selintas saja dalam sisa ingatan mereka.  Selebihnya kita hanyalah mitos. Itupun bila kita sedikit beruntung.

Kita, spsies unik yang pernah ada, tapi kemudian terkubur debu zaman. Kita tak bisa lagi ditelusuri karena tak pernah meninggalkan jejak sebagai bukti bahwa kita pernah ada. Atau barangkali,   ketika kita tak lagi ada,  orang akan lupa mengingat bahwa kita memang pernah ada. Atau jangan-jangan mereka berkeyakinan,  kita memang benar-benar tak pernah ada meski mungkin kita pernah benar-benar ada. 

Oh cilaka. Jika kita benar-benar tak pernah dikenang, tamatlah riwayat kita. Bahkan zaman pun tak sudi membeberkan keberadaan kita. Atau keberadaan kita terlalu kecil mutunya, terlalu sedikit untungnya untuk pantas diberi harga. Dengan demikian, kita tak patut dicatat dalam kitab peradaban dunia karena kita dianggap nokta yang hanya mengotori lembar sejarah umat manusia yang gilang gemilang. (**)

Sabtu, 08 Juni 2013

Antara kau-aku

Antara Kau-Aku
Oleh Hamba Moehammad

ingin kuceritakan kisah ini. kau mau menyimak? ini cerita antara kau-aku.

ingin kubingkai semua kenangan. meski sekadar mozaik lusuh yang nanti kupajang di sudut rindu. biar ada yang bisa kukenang sebagai bagian sejarah di anta pisah kita. tak peduli kau memilih untuk lupa.

tapi, bukankah melupakan adalah menyingkirkan dari sebutan, juga ingatan? ah bila itu yang kau lakukan, betapa tragisnya...

meski sejarah kerap hanya lekat di sisa ingatan. kuharap sejarah kau-aku tak bernasib sama tragisnya. aku tak ingin, hanya karena sejarah kau-aku bukan bagian dari kisah kehidupan pembaca atau pemerhati sejarah, dia kemudian serta merta terlupakan.

aku peduli. tentang sejarah itu. karena semua mengandung kenangan. maka aku mau berkorban. membingkainya. tak peduli kau acuh. atau mungkin kau mencibir dan dengan nada mengejek mengatakan, "betapa bodohmu."

tapi sekali lagi aku  tak peduli. siapa pun tak berhak melarangku. termasuk kau.

kuanggap, semua yang pernah kita jalani seiring waktu adalah takdir hidupku. itu juga adalah bagian dari sejarah hidupku. semua yang pernah kita lewati adalah kenangan terindah. aku berhak mengenangnya. meski kini sekadar nostalgia masa lalu.

waktu mungkin telah menggerus ingatanmu. dan waktu pula yang membawa serta pergi ingatanmu. tentang kita.

tanpa sisa? ah aku ragu kau benar-benar melupakanku...

aku tak menyalahkan waktu. aku juga tak menyalahkan sebab kita pisah. aku juga tak menyalahkanmu. aku bahkan tak menyalahkan apapun dan sesiapapun.

bagiku, menyalahkan hanyalah alasan untuk lari dari kenyataan, bahwa kita memang tak teguh menjaga simpul ikatan.

aku hanya menyesali. yah menyesali kenapa kita pernah sua, pernah jumpa. tapi apa guna penyesalan ini. toh semuanya sudah terlanjur. inilah pengalaman. dan semoga menjadi guru.

aku sadar, setiap jumpa pasti ada pisah...

aku berharap, meski tak lagi mengingatku, juga mengenang semua yang pernah kita lewati, semoga kau bahagia dengan pilihan jalanmu.

hidup memang sekumpulan pilihan. dan kita memang harus memilih. termasuk memilih tetap bersama atau harus berpisah. memilih untuk tetap mengenang, atau sebaiknya melupakan. (**)