Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 05 April 2013

Kau Bukan Tuhan Kan?

Kau Bukan Tuhan Kan?

Aku kata kau hina. tapi kau acuh. aku sebut kau perempuan laknat. malah kau tak peduli . aku anggap kau najis. pun kau tak ambil pusing.

sama sekali kau tak hirau . kau anggap itu sekadar suara sumbang yang merasa diri paling suci.

"kau bukan tuhan kan? Kau bukan tuhan yang berhak menjatuhkan vonis. lebih tahu tuhan siapa aku," katamu.

dan ini malam minggu. kulihat kau begitu rapi . siap dengan dandanan menor. tapi bukan ke pesta kawin atau acara sukuran.

katamu malam ini kau ada janji. ketemu seorang  pelanggan di hotel berbintang . dengan bayaran yang pantas.

"inilah hidupku bung. inilah duniaku. dunia malam. sibuk dengan hiruk pikuk. tugasku melayani dan aku dibayar," katamu padaku

"tapi ini kerja dosa. agama melarang itu . apalagi kau perempuan . tak patut,"aku coba beri kau pahaman.

dosa? apa itu dosa? siapa yang dosa? suami yang mencampakan istri, apa itu bukan dosa? ayah yang  menelantarkan anak, apa itu bukan dosa? pemimpin yang membuat rakyatnya menganggur, apa itu bukan dosa? lalu pejabat yang korup, apa itu juga bukan dosa? lalu dimana bapa imam dan pendeta? mereka hanya gemar berkhotbah tanpa solusi," kau berondong aku dengan amunisi pertanyaanmu.

kau bantah aku dengan sengit. dan mulutku rapat terkatup. kau menikam ulu hatiku dengan pisau  argumentasimu. ah tak bisa kutangkis.

kau robohkan dinding kokoh imanku, yang selama ini merasa yang paling benar, yang paling suci . aku seperti petinju amatir yang kalah tarung. terkapar tak berdaya.

melihatku hanya membisu, kau pun berlalu dengan senyum sinis. penuh kemenangan tentunya. (HM)

Kamis, 21 Maret 2013

Bagaimanakah Rasanya Kehilangan?


Bagaimanakah Rasanya Kehilangan?

Oleh : Muhammad Baran

Saya tak perlu menjelaskan seperti apa rasanya kehilangan. Anda tentu tahu seperti apa rasanya. Tergantung seberapa besar peluang kehilangan. Semua orang akan sepakat, kalau kehilangan itu rasanya tak seperti permen. Apa lagi rasanya seperti  ice cream atau biscuit coklat.

Lalu, apa itu kehilangan? Saya punya definisi sendiri tentang kata kehilangan. Kata yang paling saya hindari ini. Kehilangan adalah perpisahan selamanya. Perpisahan yang tak diinginkan. Kemungkinan besar, tak lagi kembali.

Ada banyak macam kehilangan. Kehilangan kesempatan,  kehilangan harga diri, kehilangan jabatan, ada juga kehilangan kepercayaan. Nah  yang terakhir ini terjadi  pada hampir setiap kita yang merasa  memiliki kuasa tanpa batas, akses tanpa halangan dan kemudahan tanpa rintangan.

Intinya, kehilangan berarti, kita berpisah dengan  apa yang ingin kita miliki selama mungkin atau kalau perlu, selamanya. Pada tataran yang gawat darurat, kita menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Persetan dengan aturan atau norma, tak peduli dengan omongan orang.

Betapa banyak kita telah kehilangan dalam hidup yang serba cepat dan tergesa ini. Barangkali kehidupan yang serba terburu-buru inilah  menjadi salah satu pemicu, orang cepat kehilangan.  Kita lebih cepat memperoleh, dan secepat itu pula kita kehilangan.

Kalau kita kehilangan kehormatan, artinya martabat  kemanusiaan telah kita gadaikan. Begitu juga dengan kehilangan kesempatan. Kata orang, kesempatan itu hanya datang sekali.  Bila kita tidak pandai menangkap kesempatan itu,  dia akan cepat berlalu. Secepat kedipan mata.

Ada lagi satu jenis kehilangan yaitu kehilangan kepercayaan. Apa yang bisa kita perbuat bila kita kehilangan kepercayaan  dari pihak yang selama ini menaruh harap kepada kita? Mana kala kita kehilangan kepercayaan, akibatnya akan sangat fatal.

Dalam rumah  tangga, banyak suami-istri yang kehilangan kepercayaan pasangannya. Maka yang terjadi adalah jatuhnya talak tiga. Banyak anak yang kehilangan kepercayaan orangtuanya . Sebaliknya, banyak orangtua  yang kehilangan kepercayaan anaknya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, banyak  pemimpin kehilangan kepercayaan  rakyatnya. Coba lihat realita  betapa banyak pejabat dan wakil rakyat  justru kehilangan  kepercayaan konstituennya . Setelah menjadi pejabat Negara, mereka lupa dengan janji-janjinya.

Bila dalam ranah kehidupan yang lebih besar seperti itu kita kehilangan,  maka tunggulah saatnya  kehancuran itu. Bahkan kita sendiri pun terheran-heran, tak menyangka mampu membuat kerusakan sedahsyat ini.

Saya tak perlu mengurai akibat dari  kerusakan ini. Bacalah Koran, tontonlah televisi,  atau berselancarlah di internet. Anda  akan disuguhi  berita ; pemimpin Negara yang kehilangan  kepercayaan rakyatnya.  Maka revolusi, peperangan dan kudeta terjadi di mana-mana.

Bahkan mungkin pada titik kulminasinya, kita barangkali telah kehilangan kepercayaan dari Tuhan. Bila ini terjadi, kita hanya menanti surut sumbu bom waktu datangnya hukuman. Atau mungkin tak kita sadari, Tuhan telah menjatuhkan hukuman kepada kita saat ini.

Maaf, saya tak menakut-nakuti anda. Tapi kita (saya dan anda) saling mengingatkan. Secepatnya kembali ke jalan yang semestinya. Maka prinsip “lebih cepat lebih baik” menemukan konteksnya di sini. Meski untuk itu, kita membayarnya dengan ongkos yang tak sedikit

Hidup  kita memang selalu diperhadapkan pada sekumpulan pilihan. Dan setiap pilihan selalu ada konsekuensi logisnya. Termasuk konsekuensi bakal kehilangan . Apa pun nama, jenis , dan bentuk kehilangan itu. (**)

Perempuan Labala, perempuan lamaholot (2)



Sayang Go Binek e….

Oleh: Muhammad Baran

Sayang go binek e…
Lodo pan adore mai
Welin bala rua, rae raan rokae

pada kesempatan ini, meski sangat terbatas,  izinkan saya  sedikit mengulas tentang peran perempuan lamaholot, khususnya perempuan labala, kampung halaman saya. Peran yang saya maksudkan di sini adalah peran dalam kultur social budaya dan adat sebagai masyarakat lamaholot.

Di sini saya hanya membahas eksistensi dan peran  perempuan lamaholot saat menjelang  dan  dan setelah pernikahannya dengan laki-laki yang kelak menjadi suaminya, dan mengemban tugas sebagai ibu dari anak-anaknya.

Umumnya perempuan lamaholot, termasuk perempuan labala, sebelum berkeluarga, setiap keluarga sudah membekali anak perempuannya dengan keterampilan sebagai seorang perempuan. Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal ketika kelak anak perempuan menjadi ibu rumah tangga dalam keluarga suami.

Pai tite hama-hama
soka sele mura rame
Nawo bine tite, maso suku wuun nae


Sebagai mana adat orang lamaholot pada umumnya anak perempuan yang masih kebarek (gadis) diajarkan keterampilan biho behi (memasak), tane tenane (menenun), ola belo atau mula belo (berkebun), hewi atau hewing (menganyam) dan beberapa keterampilan yang menjadi kewajiban seorang perempuan lamaholot sebelum memasuki jenjang perkawinan.

Pekerjaan dapur yang paling utama yang diajarkan inak (ibu) kepada anaknya adalah petu wata (titi jagung). Ritual petu wata ini merupakan ritual wajib yang harus dipelajari seorang anak gadis orang lamaholot. 

Selain petu wata, keterampilan  wajib lainnya yang dibekalkan inak kepada anak perempuannya adalah keterampilan tane tenane (menenun/tenun ikat). Hasil dari keterampilan menenun adalah kewatek (sarung adat perempuan) dan Nowing (sarung adat laki-laki). Kedua keterampilan utama  yaitu petu wata dan tane tenane ini merupakan syarat mutlak  dikuasai sebelum seorang anak perempuan memasuki tahap atau jenjang kehidupan berkeluarga.

Sayang, sayang go bimek e... sayang go binek e.
gelekat suku wuun moe.
Gelekat maan sare-sare, ake maan onem kuran.


Anak perempuan orang lamaholot juga sejak dini diajarkan untuk pintar ola belo atau mula belo duli-pali (bercocok tanam) di kebun. Keterampilan bercocok tanam ini sangat penting mengingat ini merupakan salah satu pekerjaan pokok perempuan lamaholot yang umumnya di tinggal pergi kelake (suami) ketika merantau.

Begitu juga, anak perempuan lamaholot juga harus bisa hewi atau hewing (menganyam). Umumnya keterampilan menganyam ini akan menghasilkan keterampilan menganyam oho (tikar) sebagai alas tidur, Pelira atau kesali (penampih) untuk menampih beras padi atau beras jagung, dan aneka mawa (baskom) atau tempat yang digunakan untuk menyimpan hasil panen atau benih dalam jangka waktu yang panjang. Semua kerajinan anyaman ini menggunakan bahan dasar koli lolon (daun lontar) yang sudah dikeringkan.

Demikianlah beberapa keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh perempuan lamaholot sebelum mengarungi bahtera kehidupan bersama suami dan keluarga besar suku atau klan suami. Bila keterempilan dasar ini tidak dikuasai maka kemungkinan perempuan akan kewalahan dalam mengurus kehidupan rumah tangganya.

Pana gawe maan sare
Hukut kame naam ia…
Tobo napun bala, binek goe retero kae.. (**)

Senin, 18 Maret 2013

Negeri Para Maniak Gosip (2)



Negeri Para Maniak Gosip (2)

Oleh: Muhammad Baran


di negeri ini (silahkan anda menghitung) jumlah maniak gosip  barangkali jauh lebih banyak dari pada maniak narkoba, atau maniak seks. artinya, prospek masa depan  maniak gosip sangat cerah. anda mungkin bisa mempertimbangkan  untuk beralih profesi menjadi tukang gosip.

berbeda dengan para maniak narkoba atau maniak seks  yang cenderung mendapat stigma negatif dari masyarakat yang sok suci di negeri ini, maniak gosip  praktis tak menuai kecaman berarti. bahkan fatwa MUI yang mengharamkan tayangan gosip dan sejenisnya, kalah telak. fatwa ini ditentang habis-habisan oleh para maniak gosip. siapa yang bisa  mengalahkan dan mampu membungkam  kekuasaan uang dan media?

persoalan gosip, selain  soal life stile atau gaya hidup,  gosip juga menyangkut bisnis. ketika berbicara bisnis, erat kaitannya dengan kebutuhan hidup. dengan gencarnya bisnis gosip, nilai komersialisasi dari gosip bahkan menyamai (kalau enggan mengatakan melampaui) kebutuhan sandang, pangan dan papan.

kadang kita rela atap rumah dibiarkan bocor atau baju sekolah anak dibiarkan sobek asal tidak ketinggalan gosip. uang deposito di bank  nyaris terkuras habis demi mengikuti perkembangan gosip terkini.

anda tidak percaya? itu urusan anda. tapi ini beritanya: ada ibu rumah tangga yang kedapatan selingkuh  oleh suaminya setelah menonton gosip selebriti yang lagi kawin cerai.  ada seorang pemudi yang rela lari rumah orangtuanya setelah mendapat ole-ole gosip dari kekasihnya.  ada pemuda di kampung yang rela merantau ke kota tanpa bekal skill memadai, setelah menerima kiriman paket gosip dari kenalannya.

cukup? ternyata tidak. ada juga pejabat pemerintah yang kepicut menilep anggaran negara hanya untuk mencari sensasi biar menjadi objek gosip, katanya, untuk menaikkan popularitasnya. 

ah jadi maniak gosip  memang punya sensasi rasa tersendiri. masih banyak fakta lain yang membuktikan, gosip merupakan menu pokok setiap pagi masyarakat di negeri ini.

bagi anda yang merasa bukan maniak gosip (saya ragu kalau ada yang mengaku bukan maniak gosip), jangan protes dulu. saya hanya mau menunjukkan fakta supaya anda tidak asal menuduh, saya atau para maniak gosip ini sudah gila atau rada-rada aneh dan nyeleneh.

ketika anda yang merasa bukan maniak gosip menemukan terlalu banyak  penganan gosip yang dijajakan di warung atau pasar-pasar  di dusun dan kampung, atau yang berseliwerang di super market di kota-kota besar, anda tak perlu berteriak, apa lagi  marah-marah. nanti anda dikira stres atau gila.

cukuplah kalau tak suka gosip dan tak mau jadi objek gosip, anda cukup melarang keluarga, agar  tidak berlangganan  menu gosip  setiap pagi. atau jangan memberikan  anak anda  uang, untuk jajan gosip di sekolah atau di kampus. begitu juga  ingatkan istri anda, untuk tidak  menghambur uang hanya untuk berbelanja gosip.

tapi bila anda tak sanggup melarang keluarga anda, mungkin sebaiknya anda harus legawa dengan keadaan. jalan kompromi barangkali menjadi pilihan yang lebih bijak untuk melihat realita bahwa, gosip telahmenjadi bagian penting bagi masyarakat di negeri ini. hidup memeng tak nikmat rasanya tanpa bumbu-bumbu gosip. 

kita juga harus menerima kenyataan,  bahwa hidup kita sudah digempur dengan aneka jajanan gosip yang memikat mata dan mengundang selera rasa. harganya pun sudah semakin terjangkau. tak perlu anda capek-capek mencarinya. dia akan datang menawarkan diri.  langsung ke rumah anda, ke kantor, atau dimanapun tempat anda singgah.

Ah mungkin kita memang harus  lebih keras berteriak. Atau barangkali diam  mungkin  menjadi pilihan yang lebih realistis, ketika sudah tak lagi ada kewarasan. tapi antara teriak dan diam, terkadang terselip juga  banyak ketakwarasan yang samar. apa lagi hanya memilih untuk berteriak atau sebaliknya hanya diam. seperti buah simalakama. serba dilematis memang. (**)

Negeri Para Maniak Gosip (1)


Negeri Para Maniak Gosip (1)

Oleh: Muhammad Baran

anda pernah menggosip, atau paling tidak anda pernah menonton tayangan gosip di tv-tv itu kan?  ah anda jangan coba-coba mengatakan tidak. anda akan dianggap manusia primitif alias manusia prasejarah yang nyasar dzaman kini. Anda bahkan akan ditertawai karena dianggap manusia  yang tidak up to date dengan perkembangan gosip terkini di republik ini.

yah kita adalah makhluk unik di negeri yang diperintah oleh pemimpin-pemimpin yang juga unik. di negeri yang dihuni spesies  manusia langka yang nyaris punah. Manusia penggosip dan penikmat gosip yang andal.  lebih tepatnya maniak gosip.

tidak usa malu-malu. akui sajalah. dari pejabat negara, sampai  rakyat yang paling miskin di pelosok dusun, hampir semuanya punya kebiasaan dan kelihaian  menggosip. untuk yang satu ini sepertinya kita memang dikaruniai  bakat alami oleh Tuhan.

"hari gini, tidak kenal apa itu gosip? tidak tahu perkembangan gosip terkini? apa kata nenek?"  begitulah barangkali nada meremehkan  spesies manusia unik di negeri yang terlanjur  menjadikan acara gosip  sebagai menu favorit sarapan pagi dan mengidolakan  para pelaku gosip sebagai panutan hidupnya ini.

tapi biar bagai manapun gosip tetaplah gosip.  terkadang meski tanpa menggunakan menu bumbu dan resep andalan, dia selalu punya penggemar sendiri. memang selalu ada  segmentasi penikmat  terhadap apa-apa yang bisa dinikmati . misalnya, ada penikmat olahraga ada penikmat film. ada juga penikmat rokok,  penikmat narkoba, atau penikmat seks.

Anda  tidak perlu malu-malu bila termasuk salah satu diantara  kategori maniak. apa lagi sampai  marah-marah, berunjuk rasa ke kantor DPR atau lapor polisi dengan alasan pencemaran nama baik. Lagian di negeri ini masikah tersisa nama baik?

Begitu juga dengan para maniak gosip.  ada yang menyukai  rasa yang pedas bombastis.  ada jugarasa melankoli dengan drama  isak tangis. ada juga yang menyukai aneka rasa; manis, asam, asin. yang terakhir ini mungkin terpengaruh iklan permen di tv. katanya, biar lebih rame rasanya.

Ada rupa-rupa merek gosip.  ada gosip politik. gosip kehidupan  selebriti yang katanya lagi musim  kawin-cerai. ada juga gosip  rumah tangga dan masih banyak lagi ragam gosip

mereka yang punya tv dan punya uang, membuat acara sarapan gosip. kita hanyalah penonton. menonton geratis di layar tv. itu pun kalau kita punya tv. tapi dengan bakat alami yang dikaruniai Tuhan,  kita bisa meniru  mereka membuat acara gosip. Kadang  rasa gosip kita bahkan bisa bersaing dengan para pemilik acara gosip di tv itu.

tapi apakah  menjadi maniak gosip alias  pehobi gosip itu hal yang tercela? untuk menjawab "ya" atau "tidak", mari kita harus kompromi dulu kawan. kita harus duduk bersama  untuk berembuk guna  menyepakati jawabannya. (**)

Kenapa Rumah Tuhan Tak Satu Saja


Kenapa Rumah Tuhan Tak Satu Saja?*

Oleh: Muhammad Baran

Kita adalah pemilik jiwa yang hangat….

Rasa cinta kepada sesame seharusnya telah terbungkus dengan rapat. Rasa ikhlas kita, tanpa cela bernama pamrih yang bisa mendesak dan merobeknya.

Kitalah manusia  yang pernah mengecap  bahagia bagi diri sendiri dan merasa puas. Kini bahagia itu telah sampai  pada tingkat sempurna. Merasa tanpa merasa. Dimana kita juga merasa, kebahagiaan orang lain adalah juga milik kita,  begitu pula kesedihan dan kesakitan mereka.

Marilah kita bertandang ke rumah tetangga, kenalan atau siapa saja  anak manusia yang terkena musibah. Karena tuhan selalu berada di sana, dekat pada yang sakit. Si sanalah rumahnya.

Kau tahu? Ada hikmat yang harus kita persiapkan sejak kita bertolak untuk melakukan ini…

Sebuah keheningan yang maha itu, dimulai dari hati ita. Itulah sebutan lain dari doa. Setiap jengkal jarak yang kita tempuh akan dikumpulkan oleh malaikat untuk ditabur di ranjang si sakit. Memberikan mereka kekuatan.

Sakit seseorang  juga merupakan sebuah peringtan Tuhan agar kita semakin dekat kepadanya. Bukankah kita beruntung?

Mungkin kita pernah menggerutu;  kenapa rumah Tuhan tak satu saja? Ah sungguh lancing. Tak malukah kita kalau tuhan mendengarkan perkataan dan malaikat mencatatnya? Sebagai ganjaran, mungkin kelak bila waktunya tiba, kita akan tertunda di gerbang surga.  Menunggu kepastian-Nya. Kepanasan dan sendirian.
Tapi mungkin kita bisa berkilah; bekalku sudah lah cukup banyak.  Sambil menunggu gerbang di bukakan, akan kuhabiskan bekalku itu.

Tapi sudah seberapa banyak bekal kita? Apakah sebanyak yang kita pikirkan  dan perbuat? Kalai begitu, pastilah belum cukup.

Kenapa rumah Tuhan tak satu saja? Ah pertanyaan bodoh itu lagi...

Ketahuilah,  dimana si sakit berbaring, di situlah rumah-Nya. Jika Dia hanya berumah satu, tentu kau hapal jalan menuju rumah itu lalu kau akan menjadi sombong dan jauh lebih bisan dari sekarang.

Lalau bagaimana jika si sakit adalah orang yang pernah menyakiti atau mencampakan kita? Apakah kita juga mencampakannya sembari berharap; semoga Tuhan tak ada di sana?

Ah tapi bukankah dengan mengunjunginya, kita meninggikan  derajatnya pula? Bukankah dia sama saja dengan siapa pun yang tengah menderita sakit?

Maka bergegaslah ke rumahnya! Mari berdoalah untuknya. Dan ketika engkau sampai ke rumahnya  dan bertemu dengannya, pasanglah senyum  termanismu. Maka lihatlah…! Seketika rumah Tuhan terbuka. (**)

Tulisan ini Terinspirasi  dari cerpen “Rumah Tuhan” karya AK Basuki. Terbit di harian Kompas (Minggu, 10 Maret 2013)

Puisi (Ibu)


Ibu, aku anakmu

oleh: muh. baran

Dengan apa budi-jasamu kubalas tunai,
Sedang seribu bakti pun tak cukup kuhunjukkan?

Ibu, dengan apa air matamu  kusapu lunas,
sedang berjuta derma pun tak sanggup kutebus?

Ibu, bagaimana mungkin tega kau aku durhakai,
Sedang di setiap doa sujudmu namaku kau sebut selalu?

Ibu, maafkan bila ada salahku
Aku anakmu… aku anakmu.