Cerita Dari Surga
di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Senin, 07 Oktober 2013
Selasa, 01 Oktober 2013
Majnun Namaku..
perkenalkan Majnun namaku. berjejak di negeri tanpa hukum tanpa perbendaharaan hidup. hidupku berlaut kematian. sebagai makhluk aku berkhalik. sebagai rakyat aku ber-raja. sebagai pejuang aku syahid. sebagai saudara aku ditelikung.
kau tak mengerti ucapanku? apa aku seperti sedang berdoa atau mengigau belaka? memang negeri ini hanya bisa ditumbuhi ilalang doa dan rerumput igauan belaka. sesekali menahan tawa dan lihat, pohonnya berbuah sakit kepala.
"hai Majnun! pilih mana, merdeka atau tidur?" itu satu pertanyaanmu.
"ah untuk hidup di negeri ini, aku memilih merdeka dalam tidur. maka jangan bangunkan aku," jawabku sekenanya.
"mau kemana lagi Majnun? Shalat jugakah?" kau tanya lagi.
dan aku hanya diam. bosan dengan pertanyaanmu. memangnya shalat diwajibkan bagi perantau abadi? bagi si Majnun yang tidak genap akal ini?
"suka menjelajah malam?" kau mengoceh lagi dengan pertanyaan yang seakan tak pernah selesai.
bagiku malan tak bertuan. tapi gelapnya lebih abadi dari pada terang.
"satu lagi Majnun. boleh tahu dari mana berasal? dari kampung mana maksudku" suara cemprengmu itu berkicau lagi di sampingku sore tadi.
"ketahuilah aku berasal dari kampung beku waktu, rumah kepedihan dan keterasingan. itulah peta kampungku.
"dan kau seorang pangeran jugakah?"
"hahaha... beristana barak mewah, betahta mahaduka dan bermahkota majnun pula. apa arti darah biru. apa makna sarjana dan ilmu pengetahuan. semuanya menguap bagai embun pagi yang semilir tadi.."
"berkuliah dimana dulu? tak rindu sama kawan-kawan lama untuk mengunjungi kenangan lalu?"
aku terperanjat oleh kata 'rindu'. kata itu sejenis anggur yang bikin mabuk, serupa gadis pualam tak retak-retak dari masa silam.
sejurus aku membisu. menghadap wajahku ke arah batu-batu. dan kenangan yang berlalu? bergerak merambat menjalar dalam nadi-nadi memori yang mulai hidup kembali.
aku berlari menghempas bagai angin topan merindu cakrawala. cakrawalaku, prosa kematian yang puitik. dan sejarah berulang di negeri ini, aku mati lagi dan mengungsi lagi. (**)
makassar, 29092013
Senin, 30 September 2013
Banyak Kegilaan di Republik Ini
banyak sekali kegilaan yang terjadi di negeri ini. kegilaan yang saya maksudkan di sini adalah perilaku yang mengabaikan nurani. perilaku yang mencampakan rasa malu ketika melakukan tindakan atau perbuatan amoral. sikap tega menjadi tren yang sedang populer dan menjadi bahan perbincangan hangat akhir-akhir ini di media.
setiap hari kita disuguhi berita maraknya kejahatan. di jalanan ada pemerasan, pencopetan dan pembunuhan. di rumah ada perampokan, pemerkosaan, dan kekerasan rumah tangga. di kantor ada sogok, suap dan korupsi meraja lela. bahkan di tempat ibadah dan instansi agama marak terjadi pencurian, penipuan dan manipulasi.
nyaris tak lagi tersisa ruang hijau di republik ini untuk menghasilkan oksigen kewarasan. ruang di mana setiap orang sejenak berkontempelasi, mengembalikan ingatan batin, pikiran dan kesadaran spiritualitas dari sifat feodalisme, hipokratis, dan watak lemah. semua ruang-ruang itu terjamah polusi kegilaan yang semakin pekat dan berada diambang batas pencemaran yang nyaris total.
mungkin benar adanya seperti yang pernah di katakan Mochtar Lubis, bahwa orang indonesia termasuk jenis manusia hipokrit, berjiwa feodal, dan berwatak lemah. inilah macam ragam kegilaan yang menjamah hampir di segala sudut hidup dan kehidupan bangsa ini.
orang indonesia perlahan-lahan mulai meninggalkan karakter aslinya. sopan santun tak lagi laku dalam pergaulannya. rasa malu sudah dianggap kolot dan ketinggalan zaman. tenggang rasa dianggap kampungan, gotong royong telah diganti dengan gaya hidup nafsi-nafsi. sifat terpuji yang di wariskan leluhur bangsa ini telah dirampok oleh ketamakan dan keserakahan dengan sahwat memiliki sebanyak mungkin modal, nafsu menguasai sebanyak mungkin kursi jabatan dan pengaruh.
sifat-sifat luhur perlahan luntur, diganti dengan sifat rakus para politikus. sifat santun diganti laku angkuh para pemangku. sifat jujur kian tak mujur, kalah tergusur oleh sifat kemaruk. kita menjadi lebih tamak (loba) dan tak mengenal kata cukup. selalu ingin lebih lagi dan lagi hingga akhirnya menjadi gila. gila kuasa, gila harta, gila penghormatan, dan masih banyak rupa-rupa kegilaan lainnya.
bukankah gila orang-orang yang senang memamerkan kemewahan di tengah-tengah kesengsaraan rakyat yang kelaparan? bukankah gila juga orang yang masih bisa tersenyum bak pahlawan ketika dihujat dan dihukum karena korupsi?
dunia ini memang tak hanya diisi oleh mereka yang ingin hidup waras. mereka yang gila pun ingin hidup dan menunjukan eksistensinya. maka mereka yang merasa masih memiliki cukup kewarasan, memikul amanat suci untuk mengembalikan kewarasan orang-orang yang tak lagi waras alias gila itu. tapi ini bukan pekerjaan mudah. butuh komitmen dan konsistensi selain modal tenaga, pikiran dan waktu.
pada kadar tertentu, kegilaan juga kadang menjadikan mereka yang merasa masih waras lebih waspada dan punya persiapan menghadapi aneka kegilaan-kegilaan lain yang meraja.
di sini, hidup memang kadang menemukan kegilaanya sendiri. dari kegilaan inilah, hidup menjadi lebih dinamis, lebih riuh, lebih ramai dan penuh warna-warni. dengan demikian, mereka yang merasa masih waras, punya tanggung jawab untuk menyadarkan mereka yang tak lagi waras. berat memang. tapi ini amanat suci.
terkadang memang kita butuh cara kerja dan tindakan gila untuk menghentikan kegilaan. ah serba gila memang. (HM)
Ketika Rasa Peduli Telah Pergi
Kata Albert Enstein, dunia adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak peduli.
Enstein mungkin benar. bagaimana pun juga, maraknya kejahatan yang meraja lela di dunia ini karena kita kehilangan kepedulian. kepada sesama, kepada lingkungan, bahkan dengan Tuhan sekali pun kita tak lagi peduli dengan perintah dan larangannya.
kepedulian kita perlahan anjlok hingga ke titik yang teramat nadir. kesibukan berburu di medan persaingan membuat kita kehilangan rasa peduli. tak ada waktu untuk sekadar jedah, tak ada batas untuk selesai. kita berpacu bak roda gila. menggilas semua kesempatan kita untuk peduli.
Kesibukan inilah barang kali yang menjadi salah satu pemicu betapa kita tak lagi saling peduli. yang ada di pikiran kita hanyalah bagaimana cara menyingkirkan, menghalau, dan mengusir paksa orang-orang yang disinyalir berpotensi menjadi pesaing kita. di arena tikai dan seteru. lain tidak.
serta merta pikiran kita pun tersita. tenaga kita tersita. bahkan cinta kita pun tersita. nyaris tak ada lagi ruang kepedulian. habis hanya untuk memenuhi dan memuaskan keinginan dan ambisi. tapi apakah ambisi dan keinginan bisa dipuaskan?
kepedulian kini menjadi barang langka. nyaris punah dari hati dan pikiran kita. kalau pun masih ada, keberadaannya disertai pamrih, mencari untung semata.
yang tulus, yang lurus, dan yang mulus, hanya menjadi hiasan kata kala berkhutbah. selebihnya menjadi catatan dalam kitab yang tertata apik daam arsip museum sejarah. tertutup debu zaman yang semakin kelabu. (HM)
Senin, 05 Agustus 2013
Embun di Pagi Idul Fitri
Menuju Kejernihan Embun di Pagi Idul Fitri*
Korupsi , berdebat dengan kata-kata keras, menghina-termasuk melakukan aksi atau serangan fisik-entah itu dengan mengejek kondisi tubuh lawan debat, melempar benda atau minuman-semua itu dilakukan di muka umum- apalagi itu dalam sebuah siaran televisi nasional adalah hal lumrah di negeri ini. Kita seperti sedang memamerkan kekuatan yang kita anggap sebagai kekuasaan. Tentu saja apa yang diilakukan itu adalah sebuah bentuk penghinaan kepada kecerdasan, pikiran sehat, atau intelektualitas, bahkan agama jika kita mengidentikkan diri dengan lembaga atau gelar keagamaan.
Bila ada seorang anak yang cukup umur membunuh ibu kandungnya sendiri hanya karena tidak dibelikan telepon genggam, bila ada seorang ayah yang menyetubuhi anak kandungnya sendiri hingga hamil, bila ada seorang ibu membuang bayinya sendiri dengan tas plastiknya di kebun hingga ia dirubung begitu banyak semut, bila ada koruptor bangga dan dihormati tetangga karena sering menyumbang mesjid dan kegiatan sosial. Sebenarnya semua laku itu hanyalah sebentuk penghinaan secara sengaja pada semua tertib, adat-tradisi, agama, dan akhirnya diri kita sendiri.
Di tingkat mental dan spiritual apa, di tingkat kecerdasan intelektual mana sebenarnya kita, bangsa ini, berada? atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini, yang belum lagi genap satu abad usianya? Masih begitu pendek umurnya dari pada bangsa-bangsa besar lain, tetapi begitu degil perbuatannya, juga ketidakpedulian yang akut bahkan terhadap harkat dan martabat dirinya kita sendiri. Yah, mengapa? Tentu ini sebuah pertanyaan yang sangat besar.
Apa yang terjadi di negeri ini dalam tiga dekade terakhir, sekurangnya, seperti dapat kita lihat dan rasakan, adalah diserangnya pertahanan kulturan (agama, adat, etika, dan hukum) oleh sebuah tsunami kebudayaan yang membonceng atau diboncengkan pada arus besar globalisasi berupa tsunami logika yang dirumuskan oleh pemikir-pemikir oksidental, sebagai cara/mekanisme berpikir yang positivis progresif, materialistis, dan pragmatis. Hal ini kemudian berkembang biak menjadi produk-produk logosentrisme ala Renaisans dan Aufklarung, dalam bentuk yang kemudian sistemik seperti demokrasi, kapitalisme, dan pasar bebas, hingga berujung pada terjadinya tsunami psikologis bahkan spiritual, dimana kita didesak, dipaksa (tanpa kita sadari) dan menerima dengan ikhlas sebagai sesuatu yang take for granted, kondisi mental yang akomodatif, permisif, bahkan konsumtif pada produk akhir dari sistem-sistem di atas.
Demokrasi dan kapitalisme, juga Hak Asasi Manusia (HAM) yang digembar-gemborkan itu, bukan lagi sebuah ketelanjuran yang kita terima, melainkan telah menjadi (atau kita anggap) prakondisi bagi tegaknya kemanusiaan atau eksistensi kita. Kita adalah pemamah biak yang baik dan penurut dari semua sistem global saat ini. Tiap hari kita mengonsumsinya di meja makan, di jalan, di restoran cepat saji, di ruang kantor, istana, hingga tepi sawah dan hutan-hutan desa. Kita menerima semua itu tanpa keluh dan kesah, wajar seperti kita berkeringat dan buang angin. Keringat dan angin, bahkan darah yang kita kucurkan untuk semua sistem di atas, hanya untuk imbalan yang kemudian kita tukar dengan tawaran produk yang berganti jenis dan tipe setiap bulan bahkan tiap minggu itu.
Maka apa yang terjadi pada paparan pendek di atas, terjadilah. Dengan semua kenyataan itu, kita telah menyerahkan diri bulat-bulat pada sebuah permainan, pada sebuat realita ilusi yang tidak kita kuasai, bahkan tidak kita pahami. Jangankan pedagang kaki lima yang berjuang menyisihkan labanya untuk membeli blackberry atau TV layar datar, bahkan seorang presiden pun mungkin tidak mengerti mengapa sebuah kampung Sunni mengusir sesama warganya hanya karena mereka Syiah.
Mungkin presiden pun tak mengerti kenapa ia memperoleh penghargaan internasional untuk toleransi; tidak mengerti mengapa negara yang serba salah urus ini masih bisa tumbuh lebih dari 6 persen; bahkan mungkin tidak mengerti mengapa harga cabai hingga jengkol melonjak luar biasa. Ia pun ternyata tidak mengerti mengapa kabar bencana lebih cepat ia terima dari media massa/sosial ketimbang aparatus yang ratusan ribu itu.
Air mata Tobat
Apa yang terjadi saat ini, tampaknya bangsa kita tidak sedang mengijuti zaman, tapi kita terseret arus zaman. Seperti pesakitan atau jagoan yang seluruh kekuatan dan kekebalannya berhasil dilumpuhkan . Semua itu terjadi ketika seorang manusia Indonesia memasuki wilayah psikis dan fisik bernama remaja. Tepatnya setelah ia mengalami sejumlah pendidikan dan mendapat pengaruh moderenitas sedemikian rupa dari pergaulan lingkungan yang katanya maju dan moderen itu.
Saat dia memasuki dunia riil, nyata-nyata, sontak-sadar atau atau tidak-ia mendapatkan dirinya sudah kecemplung dalam sebuah sistem: semacam sarang laba-laba yang tak memberinya peluang melepaskan diri. Sebagai anak muda, ia tak dapat berbuat, bahkan tak berkata apa-apa, kecuali mengikuti logika dan cara kerja sistem yang kapitalis itu, hanya agar survive. Lalu berfoya-foya menggadaikan nafsunya jika ia ingin dikenal dan dipandang. Menjadi budak nafsunya untuk memperoleh apa yang disebutnya dengan "sukses".
Kita: saya, anda, dan yang lainnya harus tersenyum, karena-tentu-sebagian dari kita menolak konstatasi itu. Namun coba tengoklah kedalam cermin, dan jujurlah seluruh indra, pikiran, dan hati kita: apa yang terlihat? Air mata! Kita akan menangis melihat diri kita sendiri yang sudah kita zalimi ini, yang sudah kita hina sepanjang usia ini.
Sampai bilakah air mata itu bergulir, hingga menjadi arus dan sungai ke samudra air mata-Nya? Dalam bulan suci ini, jadikanlah air mata itu sebagai bekal tobat. Memerangi nafsu adalah memerangi diri sendiri. Itulah jihad terbesar yang kita lakukan dalam puasa, terlebih dalam Ramadhan ini. Dan, berubahlah, mulai dari cara berpikir kita dengan kembali kepada kearifan, perangkat lunak dalam adat, agama, hukum dan segenap kearifan lokal yang kita miliki sebagai bangsa indonesia. Perubahan itulah yang akan menghapus air mata kita. Sekaligus mengangkat harkat yang telah kita hina, menuju kejernihan embun di pagi Idul Fitri nanti. (**)
============================
*Tulisan ini terinspirasi dari tulisan seorang Budayawan, Radhadar Panca Dahana yang berjudul "Menipu Diri Sendiri
Sabtu, 03 Agustus 2013
Mengenal Adat-istiadat Orang Labala
Oleh Hamba Moehammad
Sebagai orang labala, ketika membaca judul tulisan goen di atas, atau ketika mendengar kedua kata (Berkah-Keramah) di atas disebutkan, apa yang terlintas di benak kita?
Sebagai orang labala, yang lahir dan menghabiskan hampir separuh hidup saya (masa kanak-kanak) di lewotanah, maka saya tidak asing dengan istilah "Berkah-Keramah".
Kedua kata tersebut lebih dikenal oleh orang labala sebagai istilah adat. Berkah-keramah menjadi idiom sakral dalam tata laksana adat istiadat orang labala yang memegang teguh tradisi/kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun dari nenek-moyang.
Secara umum, dalam pahaman adat orang labala, berkah-keramah adalah sebutan lain dari nuba-nara (altar persembahan) yang memiliki makna simbolik yang mendalam dan memiliki rangkaian hubungan historis tradisi sebagai orang lamaholot pra islam yang memiliki keyakinan akan kuasa Ina-ama lera-wulan tanah ekan (Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi). Dengan adanya sinkretisme antara adat dan agama islam yang menjadi keyakinan baru orang labala, istilah nuba-nara perlahan digantikan dengan istilah yang populer sekarang yaitu berkah-keramah.
Dalam perspektif yang lebih lokal terkhusus orang labala, berkah-keramah bukan sekadar kepercayaan tradisionil, tapi lebih kepada simbol yang dikonkritkan melalui benda-benda pusaka yang dianggap keramat dan mewakili kekukatan penghubng antara kuasa langit dan bumi yang diyakini bisa menaungi lewotanah dari bala bencana, penyakit, dan nalan (dosa).
Selain dalam bentuk atau wujud benda, berkah-keramah juga berwujud keyakinan akan adanya ruh makhluk yang dikeramatkan. Dari semua klan/suku yang ada di labala hampir semuanya memiliki berkah-keramah entah dalam bentuk benda-benda pusaka peninggalan leluhur lewotanah atau keyakinan adanya kekuatan di luar kasat mata. Berkah-kerama dalam bentuk simbol benda pusaka, biasanya disimpan di rumah adat dan boleh dikeluarkan atau diperlihatkan ketika ada upacara adat seperti trasidisi makan jagung masing-masing kepala suku atau acara tolak-bala.
Sebagaimana lazimnya, berkah-keramah di labala memiliki nama atau julukan yang memiliki makna khusus bagi masing-masing suku. Sebagai contoh, disini saya menyebut beberapa nama berkah-kerama yang dimiliki suku/klan yang ada di labala di antaranya; Nuba laga doni-Wato peni dan Demon gede-Srikati (Suku Labala), Ata jawa gadak (suku Mayeli atulolon), dan Jotena arakian-lima letu naragawa (Suku Mayeli atulangun), serta masih banyak lagi nama berkah-kerama yang dimiliki masing-masing suku di labala.
Meski berkah-kerama merupakan produk tradisi dan budaya orang labala (dan mungkin juga masyarakat lamaholot lainnya), namun dalam perjalanan sejarahnya berkah-keramah mengalami degradasi pemaknaan. Degradasi pemaknaan ini berjalan seiring dengan semakin berkembangnya pengaruh agama islam di labala.
Dengan sendiriya pemaknaan akan makna kata berkah-keramah menjadi lebih netral dimana masyarakat labala kemudian memadukan tradisi dengan agama atau lebih dikenal dengan; adat yang disesuaikan dengan agama, dan agama yang disesuaikan dengan adat dan kearifan lokal . Tujuannya adalah agar antara adat dan agama bisa berjalan berbarengan dan bisa menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat labala.
Asal kata berkah-keramah
Bila ditelisik lebih dalam, kedua kata (berkah-keramah) tersebut merupakan istilah agama islam yang terambil dari kata "Barakah" dan "Karamah". Barakah yang artinya "Karunia/nikmat Tuhan" dan Karamah artinya "Martabat /kehormatan/gengsi".
Pemilihan kata dari istilah adat nuba-nara menjadi berkah-kerama untuk orang labala menurut goe adala pemilihan yang sangat kompromistis dan sangat tepat. Mengingat penyebaran agama islam di labala memang di lakukan denga pendekatan persuasif (kekeluargaan) dan damai, bukan dengan cara infasi atau penaklukan. Sebagaimana jamaknya, penyebaran agama dengan pendekatan persuasif dan damai cenderung berusaha mengakomodir (merangkul) kearifan lokal yang sudah menjadi tradisi yang mapan dan mendarah daging.
Seiring berjalannya waktu, pemaknaan akan makna kata berkah-keramah mengalami transformasi atau bentuk penyempurnaan dalam laku kehidupan orang labala. Orang labala tidak hanya memaknai berkah-kerama sebagai warisan kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan dalam perspektif adat guna menjaga persatuan dan keutuhan sebagai ana-opu ata labala, tapi juga sebagai manifestasi paradigma pikir dalam membangun kehidupan yang lebih beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan sebagai ata watan, nilai-nilai martabat sebagai masyarakat muslim yang religius, juga nilai-nilai gengsi (dalam perspektif positif) sebagai komunitas sebuah Kerajaan Islam solor watan lema di kabupaten lembata.
Nilai-nilai positif dari pemaknaan kata berkah (karunia/anugerah Tuhan), dan keramah (kehormatan/martabat/gengsi) menjadikan orang labala dikenal sebagai manusia yang berwatak keras dan memiliki ego yang tinggi dalam mempertahankan nama besar lewotanahnya. Bahkan untuk nama besar lewotanahnya, orang labala akan sangat tersinggung harga dirinya bila nama labala dan segenap atribut ke-labala-annya dilecehkan. Bagi mereka, Labala adalah harga diri dan kehormatannya.
Meski tak bisa dipungkiri nilai-nilai berkah-keramah terkadang dimaknai secara '"over dosis" alias melampaui batas oleh orang labala ,sehingga terkadang pemaknaan yang melampaui batas ini, kerap menimbulkan pergesekan kepentingan di antara orang labala sendiri. Hal inilah yang membuat orang labala secara internal sulit bersepakat, tidak hanya dalam hal-hal prinsip, tapi merembes pada hal-hal yang menyangkut maslahat umum, baik di bidang kemasyarakatan, politik dan pemerintahan, dan meluber ke bidang-bidang lainnya.
Satu-satunya yang bisa membuat orang labala tetap bersatu hingga kini adalah masih kuatnya pengaruh adat yang dijunjung tinggi, meski berbeda bendera partai, baju politik dan kepentingan sektarian. Dengan adat, sebenarnya orang labala masih mau saling menghargai karena merasa sebagai opu-maki, kaka-ari, naan-bine, dan sebagai ana-opu labala. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur berkah-keramah kiranya tetap dilestarikan sepanjang memberi manfaat untuk mengikat dan menyatukan orang labala dalam bingkai kebersamaan sebagai sesama orang labala.(**)
=================
*Tulisan ini adalah persepsi saya sendiri sebagai orang labala
Sabtu, 13 Juli 2013
Ayat-ayat Sakral
Maka………..
Mereka yang berotak cerdas atau berotak rombengan menjadikan lembaga-lembaga negara menjadi sasaran permainan. sementara yang menjadi pahlawan adalah para pelaku kriminal. Yang menjadi politisi adalah para bintang-bintang panggung dan televisi. Para koruptor dihukum setara dengan maling pisang, dan diseluruh negeri para pengacara kian menjamur menjadi pembela para bandit kerah putuh…
apakah sebagaimana yang dikatakan filsuf politik Hanna Arendt, dimana-mana politik memang tak bisa lagi dipisahkan dari kebohongan, sampai-sampai kebenaran sulit menjadi kriteria politik lantaran politik memang tak berkenan dengan kebenaran, tapi naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan, atau politik bergerak sedemikian rupasehingga mendepak kebenaran, atau politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung menjadi permainan?
atau apakah seperti yang dikatakan oleh Machiavelli, bahwa kekuasaan terkait dengan kodrat manusia yang suka berbohong, dimana tak ada larangan yang begitu sering dilanggar seperti larangan berbohong sehingga ada anggapan, di dunia ini ada manusia yang tak membunuh, tak mencuri, tak berselingkuh, tapi tak pernah ada manusia yang tak berdusta atau bohong?
ah jangan-jangan kebohongan, sebagaimana yang dikatakan novelis dan esais Jean Paul, sebagai penyakit kanker ganas di bibir hati terdalam manusia, atau sebagaimana kata penyair Heinrich Heine, kebohongan bahkan bisa menyelip kedalam ciuman dan kepura-puraan, membuat kepura-puraan dan penipuan menjadi nikmat dan manis?
atau jangan-jangan seperti yang dikatakan oleh Sutradara teater dan esais, Benjamin Korn, bahwa politik bagaikan mesin yang olinya adalah kebohongan. Sekali pelumas kebohongan berhenti, maka mesin politik akan macet?
dan lama-kelamaan kita dininabobokan oleh kebohongan itu sampai-sampai seakan kita kita tak bisa keluar lagi. kita mungkin jengkel, namu tak tahu dimana jalan keluarnya. Inilah barangkali maksud Henrich Heine ketika ia mengatakan, “Penipuan itu manis, tetapi ketertipuan lebih manis lagi rasanya.
“Ibu segala dosa kebohongan memang sulit diberantas. filsuf immanuel Kant mengibaratkan kebohongan bagai kayu bengkok, tak mungkin ditukangi untuk diluruskan.” Masih menurut Kant, jika terjadi dengan maksud baik, kebohongan akan mengakibatkan ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dengan jatuhnya ketakpercayaan, maka roboh pula sendi-sendi hukum. Kemanusiaan menderita karenanya.
Wah cilaka duabelas. Bukankah ada dikatakan, harga diri manusia ada dalam bibirnya, nilai raga ada dalam busananya? Jika demikian kondisi perpolitikan di negeri ini, bagaimana bisa kita-yang katanya manusia yang religius, tahu sopan santun dan tatakrama pergaulan-sampai tersesat dalam kondisi yang gawat darurat seperti ini? Setan apakah gerangan yang begitu gilang gemilang menggelincirkan kita dari jalan kebenaran? Atau jangan-jangan tanpa kita sadari kita adalah pengikut setia setan-setan itu, atau jangan-jangan kita sendiri adalah setan-setan itu. (**)











