Cerita Dari Surga

di dalam surga, seorang anak muda protes kepada Tuhan. Anak Muda: ya Tuhan kenapa aku kau tempatkan di surga paling rendah, sementara orang tua itu Engkau tempatkan di surga yang paling tinggi?

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 05 Agustus 2013

Embun di Pagi Idul Fitri

Menuju Kejernihan Embun di Pagi Idul Fitri*

Oleh Hamba Moehammad


Korupsi , berdebat dengan kata-kata keras, menghina-termasuk melakukan aksi atau serangan fisik-entah itu dengan mengejek kondisi tubuh lawan debat, melempar benda atau minuman-semua itu dilakukan di muka umum- apalagi itu dalam sebuah siaran televisi nasional adalah hal lumrah di negeri ini. Kita seperti sedang memamerkan kekuatan yang kita anggap sebagai kekuasaan. Tentu saja apa yang diilakukan itu adalah sebuah bentuk penghinaan kepada kecerdasan,  pikiran sehat,  atau intelektualitas, bahkan agama jika kita mengidentikkan diri dengan lembaga atau gelar keagamaan.

Bila ada seorang anak yang cukup umur membunuh ibu kandungnya sendiri hanya karena tidak dibelikan telepon genggam,  bila ada seorang ayah yang menyetubuhi anak kandungnya sendiri hingga hamil, bila ada seorang ibu membuang bayinya sendiri dengan tas plastiknya di kebun hingga ia dirubung  begitu banyak semut,  bila ada koruptor bangga dan dihormati tetangga karena sering menyumbang mesjid dan kegiatan sosial. Sebenarnya semua laku itu hanyalah sebentuk penghinaan secara sengaja pada semua tertib, adat-tradisi, agama, dan akhirnya diri kita sendiri.

Di tingkat mental dan spiritual apa, di tingkat kecerdasan intelektual mana sebenarnya kita, bangsa ini, berada? atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini, yang belum lagi genap satu abad usianya? Masih begitu pendek umurnya dari pada bangsa-bangsa besar lain, tetapi begitu degil perbuatannya, juga ketidakpedulian yang akut bahkan terhadap harkat dan martabat dirinya kita sendiri. Yah, mengapa? Tentu ini sebuah pertanyaan yang sangat besar.

Apa yang terjadi di negeri ini dalam tiga dekade  terakhir, sekurangnya, seperti dapat kita lihat dan rasakan, adalah diserangnya pertahanan kulturan (agama, adat, etika, dan hukum) oleh sebuah tsunami kebudayaan  yang membonceng atau diboncengkan  pada arus besar globalisasi berupa tsunami  logika yang dirumuskan oleh pemikir-pemikir oksidental, sebagai cara/mekanisme berpikir yang positivis progresif, materialistis, dan pragmatis. Hal ini kemudian berkembang biak menjadi produk-produk logosentrisme ala Renaisans dan Aufklarung, dalam bentuk yang kemudian sistemik seperti demokrasi, kapitalisme, dan pasar bebas, hingga berujung pada terjadinya tsunami psikologis bahkan spiritual, dimana kita didesak, dipaksa (tanpa kita sadari) dan menerima dengan ikhlas sebagai sesuatu yang take for granted, kondisi mental yang akomodatif, permisif, bahkan konsumtif pada produk akhir dari sistem-sistem di atas.

Demokrasi dan kapitalisme, juga Hak Asasi Manusia (HAM) yang digembar-gemborkan itu, bukan lagi sebuah ketelanjuran yang kita terima, melainkan telah menjadi (atau kita anggap) prakondisi bagi tegaknya kemanusiaan atau eksistensi kita. Kita adalah pemamah biak yang baik dan penurut  dari semua sistem global saat ini. Tiap hari kita mengonsumsinya di meja makan, di jalan,  di restoran cepat saji, di ruang kantor, istana,  hingga tepi sawah dan hutan-hutan desa. Kita menerima semua itu tanpa keluh dan kesah, wajar seperti kita berkeringat dan buang angin. Keringat dan angin, bahkan darah  yang kita kucurkan  untuk semua sistem di atas, hanya untuk imbalan yang kemudian kita tukar dengan tawaran produk yang berganti jenis dan tipe setiap bulan bahkan tiap minggu itu.

Maka apa yang terjadi pada paparan pendek di atas, terjadilah. Dengan semua kenyataan itu, kita telah menyerahkan diri bulat-bulat pada sebuah permainan, pada sebuat realita ilusi yang tidak kita kuasai, bahkan tidak kita pahami. Jangankan pedagang kaki lima yang berjuang menyisihkan labanya untuk membeli blackberry atau TV layar datar, bahkan seorang presiden pun mungkin tidak mengerti mengapa sebuah kampung Sunni mengusir sesama warganya hanya karena mereka Syiah.

Mungkin presiden pun tak mengerti kenapa ia memperoleh penghargaan internasional untuk toleransi; tidak mengerti mengapa negara yang serba salah urus ini masih bisa tumbuh  lebih dari 6 persen; bahkan mungkin tidak mengerti mengapa harga cabai hingga jengkol melonjak luar biasa. Ia pun ternyata tidak mengerti  mengapa kabar bencana lebih cepat ia terima dari media massa/sosial ketimbang aparatus yang ratusan ribu itu.

Air mata Tobat

Apa yang terjadi saat ini, tampaknya bangsa kita  tidak sedang mengijuti zaman, tapi kita terseret arus zaman. Seperti pesakitan atau jagoan yang seluruh kekuatan dan kekebalannya berhasil dilumpuhkan . Semua itu terjadi ketika seorang manusia Indonesia memasuki wilayah psikis dan fisik bernama remaja.  Tepatnya setelah ia  mengalami sejumlah pendidikan dan mendapat pengaruh moderenitas sedemikian rupa dari pergaulan lingkungan yang katanya maju dan moderen itu.

Saat dia memasuki dunia riil, nyata-nyata, sontak-sadar atau atau tidak-ia mendapatkan dirinya sudah kecemplung dalam sebuah sistem: semacam sarang laba-laba yang tak  memberinya peluang melepaskan diri. Sebagai anak muda, ia tak dapat berbuat, bahkan tak berkata apa-apa, kecuali mengikuti logika dan cara kerja sistem yang kapitalis itu, hanya agar survive. Lalu berfoya-foya menggadaikan nafsunya jika ia ingin dikenal dan dipandang. Menjadi budak nafsunya untuk memperoleh apa yang disebutnya dengan "sukses".

Kita: saya, anda, dan yang lainnya harus tersenyum, karena-tentu-sebagian  dari kita menolak konstatasi itu. Namun coba tengoklah kedalam cermin, dan jujurlah seluruh indra, pikiran,  dan hati kita: apa yang terlihat? Air mata! Kita akan menangis melihat diri kita sendiri yang sudah kita zalimi ini, yang sudah kita hina sepanjang usia ini.

Sampai bilakah air mata itu bergulir,  hingga menjadi arus dan sungai ke samudra air mata-Nya? Dalam bulan suci ini, jadikanlah air mata itu sebagai bekal tobat. Memerangi nafsu adalah memerangi diri sendiri. Itulah jihad terbesar yang kita lakukan dalam  puasa,  terlebih dalam Ramadhan ini. Dan, berubahlah, mulai dari cara berpikir kita dengan kembali kepada kearifan, perangkat lunak dalam adat, agama, hukum dan segenap kearifan lokal yang kita miliki sebagai bangsa indonesia. Perubahan itulah yang akan menghapus air mata kita. Sekaligus mengangkat harkat yang telah kita hina, menuju kejernihan embun di pagi Idul Fitri nanti. (**)
============================
*
Tulisan ini terinspirasi dari tulisan seorang Budayawan, Radhadar Panca Dahana yang berjudul "Menipu Diri Sendiri

Sabtu, 03 Agustus 2013

Mengenal Adat-istiadat Orang Labala

Berkah-Keramah*

Oleh Hamba Moehammad

Sebagai orang labala, ketika membaca judul tulisan goen di atas, atau ketika mendengar kedua kata (Berkah-Keramah) di atas disebutkan, apa yang terlintas di benak kita?

Sebagai orang labala, yang lahir dan menghabiskan hampir separuh hidup saya (masa kanak-kanak) di lewotanah, maka saya tidak asing dengan istilah "Berkah-Keramah".

Kedua kata tersebut lebih dikenal oleh orang labala sebagai istilah adat. Berkah-keramah menjadi idiom sakral dalam tata laksana adat istiadat orang labala yang memegang teguh tradisi/kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun dari nenek-moyang.

Secara umum, dalam pahaman adat orang labala, berkah-keramah adalah sebutan lain dari nuba-nara (altar persembahan) yang memiliki makna simbolik yang mendalam dan memiliki rangkaian hubungan historis tradisi sebagai orang lamaholot pra islam yang memiliki keyakinan akan kuasa Ina-ama lera-wulan tanah ekan (Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi). Dengan adanya sinkretisme antara adat dan agama islam yang menjadi keyakinan baru orang labala, istilah nuba-nara perlahan digantikan dengan istilah yang populer sekarang yaitu berkah-keramah.

Dalam perspektif yang lebih lokal terkhusus orang labala, berkah-keramah bukan sekadar kepercayaan tradisionil,  tapi lebih kepada simbol yang dikonkritkan melalui benda-benda pusaka yang dianggap keramat dan mewakili kekukatan penghubng antara kuasa langit dan bumi yang diyakini bisa menaungi lewotanah dari bala bencana, penyakit, dan nalan (dosa).

Selain dalam bentuk atau wujud benda, berkah-keramah juga berwujud keyakinan akan adanya ruh makhluk yang dikeramatkan. Dari semua klan/suku yang ada di labala hampir semuanya memiliki berkah-keramah entah dalam bentuk benda-benda pusaka peninggalan leluhur lewotanah atau keyakinan adanya kekuatan di luar kasat mata. Berkah-kerama dalam bentuk simbol benda pusaka, biasanya disimpan di rumah adat dan boleh dikeluarkan atau diperlihatkan ketika ada upacara adat seperti trasidisi makan jagung masing-masing kepala suku atau acara tolak-bala.

Sebagaimana lazimnya, berkah-keramah di labala memiliki nama atau julukan yang memiliki makna khusus bagi masing-masing suku. Sebagai contoh, disini saya menyebut beberapa nama berkah-kerama yang dimiliki suku/klan yang ada di labala di antaranya; Nuba laga doni-Wato peni dan Demon gede-Srikati (Suku Labala), Ata jawa gadak (suku Mayeli atulolon), dan Jotena arakian-lima letu naragawa (Suku Mayeli atulangun), serta masih banyak lagi nama berkah-kerama yang dimiliki masing-masing suku di labala.

Meski berkah-kerama merupakan produk tradisi dan budaya orang labala (dan mungkin juga masyarakat lamaholot lainnya), namun dalam perjalanan sejarahnya berkah-keramah mengalami degradasi pemaknaan. Degradasi pemaknaan ini berjalan seiring dengan semakin berkembangnya pengaruh agama islam di labala.

Dengan sendiriya pemaknaan akan makna kata berkah-keramah menjadi lebih netral dimana masyarakat labala kemudian memadukan tradisi dengan agama atau lebih dikenal dengan; adat yang disesuaikan dengan agama, dan agama yang disesuaikan dengan adat dan kearifan lokal . Tujuannya adalah agar antara adat dan agama bisa berjalan berbarengan dan bisa menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat labala.

Asal kata berkah-keramah

Bila ditelisik lebih dalam, kedua kata (berkah-keramah) tersebut merupakan istilah agama islam yang terambil dari kata "Barakah" dan "Karamah". Barakah yang artinya "Karunia/nikmat Tuhan" dan  Karamah artinya "Martabat /kehormatan/gengsi".

Pemilihan kata dari istilah adat nuba-nara menjadi berkah-kerama untuk orang labala menurut goe adala pemilihan yang sangat kompromistis dan sangat tepat. Mengingat penyebaran agama islam di labala memang di lakukan denga pendekatan persuasif (kekeluargaan) dan damai, bukan dengan cara infasi atau penaklukan. Sebagaimana jamaknya, penyebaran agama dengan pendekatan persuasif dan damai cenderung berusaha mengakomodir (merangkul) kearifan lokal yang  sudah menjadi tradisi yang mapan dan mendarah daging.

Seiring berjalannya waktu, pemaknaan akan makna kata berkah-keramah mengalami transformasi atau bentuk penyempurnaan dalam laku kehidupan orang labala. Orang labala tidak hanya memaknai berkah-kerama sebagai warisan kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan dalam perspektif adat guna menjaga persatuan dan keutuhan sebagai ana-opu ata labala, tapi juga sebagai manifestasi paradigma pikir dalam membangun kehidupan yang lebih beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan sebagai ata watan, nilai-nilai martabat sebagai masyarakat muslim yang religius, juga nilai-nilai gengsi (dalam perspektif positif) sebagai komunitas sebuah Kerajaan Islam solor watan lema di kabupaten lembata.

Nilai-nilai positif dari pemaknaan kata berkah (karunia/anugerah Tuhan), dan  keramah (kehormatan/martabat/gengsi) menjadikan orang labala dikenal sebagai manusia yang berwatak keras dan memiliki ego yang tinggi dalam mempertahankan nama besar lewotanahnya. Bahkan untuk nama besar lewotanahnya, orang labala akan sangat tersinggung harga dirinya bila nama labala dan segenap atribut ke-labala-annya dilecehkan. Bagi mereka, Labala adalah harga diri dan kehormatannya.

Meski tak bisa dipungkiri nilai-nilai  berkah-keramah terkadang dimaknai secara '"over dosis" alias melampaui batas oleh orang labala ,sehingga  terkadang pemaknaan yang melampaui batas ini, kerap menimbulkan pergesekan kepentingan di antara orang labala sendiri. Hal inilah yang membuat orang labala secara internal sulit bersepakat, tidak hanya dalam hal-hal prinsip, tapi merembes pada hal-hal yang menyangkut maslahat umum, baik di bidang kemasyarakatan, politik dan pemerintahan, dan meluber ke bidang-bidang lainnya.

Satu-satunya yang bisa membuat orang labala tetap bersatu hingga kini adalah masih kuatnya pengaruh adat yang dijunjung tinggi, meski berbeda bendera partai, baju politik dan kepentingan sektarian. Dengan adat, sebenarnya orang labala masih mau saling menghargai karena merasa sebagai opu-maki, kaka-ari, naan-bine, dan sebagai ana-opu labala. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur berkah-keramah kiranya tetap dilestarikan sepanjang memberi manfaat untuk mengikat dan menyatukan orang labala dalam bingkai kebersamaan sebagai sesama orang labala.(**)
=================

*Tulisan ini adalah persepsi saya sendiri sebagai orang labala

Sabtu, 13 Juli 2013

Ayat-ayat Sakral

Apakah kita ini hidup di negara mainan? ketika semakin merosot wibawa negara. ketika kita yang mengaku sebagai warga yaang beradab justru berani menentang lembaga  negara dengan senjata hukum. Ketika bunyi pasal-demi pasal bergaung di udara saban hari. dan ketika pasal-pasal bikinan manusia yang tak sempurna itu menjelma menjadi ayat-ayat sakral…
Maka………..

Mereka yang berotak cerdas atau berotak rombengan menjadikan lembaga-lembaga negara menjadi sasaran permainan.  sementara yang menjadi pahlawan adalah para pelaku kriminal. Yang menjadi politisi adalah para bintang-bintang panggung dan televisi. Para koruptor dihukum setara dengan maling pisang, dan diseluruh negeri para pengacara  kian menjamur menjadi pembela para bandit kerah putuh…

apakah sebagaimana yang dikatakan filsuf politik Hanna Arendt, dimana-mana politik memang tak bisa lagi dipisahkan dari kebohongan, sampai-sampai kebenaran sulit menjadi kriteria politik lantaran politik memang tak berkenan dengan kebenaran, tapi naluri  mempertahankan  dan memperbesar kekuasaan, atau politik bergerak sedemikian rupasehingga mendepak kebenaran, atau politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung menjadi permainan?

atau apakah seperti yang dikatakan oleh Machiavelli, bahwa kekuasaan terkait dengan kodrat manusia yang suka berbohong, dimana tak ada larangan yang begitu sering dilanggar  seperti larangan berbohong sehingga ada anggapan, di dunia ini ada manusia yang tak membunuh,  tak mencuri, tak berselingkuh, tapi tak pernah ada manusia yang tak berdusta atau bohong?

ah jangan-jangan kebohongan, sebagaimana yang dikatakan novelis dan esais Jean Paul, sebagai penyakit kanker ganas di bibir hati terdalam manusia, atau sebagaimana kata penyair  Heinrich Heine, kebohongan  bahkan bisa menyelip kedalam ciuman dan kepura-puraan, membuat kepura-puraan dan penipuan menjadi nikmat dan manis?

atau jangan-jangan seperti yang dikatakan oleh Sutradara teater dan esais, Benjamin Korn, bahwa politik bagaikan mesin yang olinya adalah kebohongan. Sekali pelumas kebohongan berhenti,  maka mesin politik akan macet?

dan lama-kelamaan kita dininabobokan oleh kebohongan itu sampai-sampai seakan kita kita tak bisa keluar lagi. kita mungkin jengkel, namu tak tahu dimana jalan keluarnya. Inilah barangkali maksud Henrich Heine ketika ia mengatakan, “Penipuan itu manis, tetapi  ketertipuan lebih manis lagi rasanya.

“Ibu segala dosa kebohongan memang sulit diberantas. filsuf immanuel Kant mengibaratkan kebohongan bagai kayu bengkok, tak mungkin  ditukangi  untuk diluruskan.” Masih menurut Kant, jika terjadi dengan maksud baik, kebohongan akan mengakibatkan ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dengan jatuhnya ketakpercayaan, maka roboh pula sendi-sendi hukum.  Kemanusiaan menderita karenanya.

Wah cilaka duabelas. Bukankah ada dikatakan, harga diri manusia ada dalam bibirnya, nilai raga ada dalam busananya? Jika demikian kondisi perpolitikan di negeri ini, bagaimana bisa kita-yang katanya manusia yang religius, tahu sopan santun dan tatakrama pergaulan-sampai tersesat dalam kondisi yang gawat darurat seperti ini? Setan apakah gerangan yang begitu gilang gemilang menggelincirkan kita dari jalan kebenaran? Atau jangan-jangan tanpa kita sadari kita adalah pengikut setia setan-setan itu, atau jangan-jangan kita sendiri adalah setan-setan itu. (**)

Gus Dur Pemimpin Pemberani

Pembaca yang budiman. pada keseempatan ini, izinkan saya menulis sesuatu tentang seoraang Abdulrahman Wahid  yang akrab dispa Gus Dur. Saya bukanlah salah seorang pengagum fanatik sang Guru Bangsa ini. Sebagaimana kebanyakan orang indonesi yang cenderung “anti’ dengan pemikiran Gus Dur, saya pun termasuk orang yang kurang respek dengan pemikirannya yang saya anggap terlalu liberal. Ini mungkin penyakit kebanyakan orang indonesia yang belum mengenal baik tokoh yang sering melontarkan pernyataan yang kontroversial ini.

Tapi sebagai bagian dari masyarakat bangsa yang merasa beruntung pernah memiliki seorang presiden yang berani melawan arus ini, saya merasa perlu menullis tetntaang Gus Dur, pemimpin orde  reformasi yang berani mengambil resiko dihina dan dicaci sebagai tokoh perubahan.

Bagi saya, pemimin yang hebat tidak sekedar melakukan perubaahan. Pemimpin yang hebat adalah dia yang mampu mengelola dengan baik setiap perubahan yang dilakukannya. Dari semua pemimpin indonesia, hanya Gus Dur yang paling menonjol dalam hala berani mengubah.

Sepengetahuan saya (Maaf kalau keliru), satu-satunya pemimpin indonesia yang berani mlakukan perubahan adalaah Gus Dur. Teerlepas dari berbagaai kontroversi yang mengiringinya selama menjadi Presiden indonesia ke-4 yang berujung pada upaya pelengseran dirinya dari tahta kkuasaan orang nomor satu di indonesia.

Menurut Guru besar FEUI, Rhenald Kassali, hanya dalam kurung 2 tahun berkuasa ( 1999-2001), Gus Dur telah melakukan 10 perubahan mendasar yang mengubaah cara dan kebiasaan masyarakat bangsa indonesia yang saat itu masih dalam masa transisi pasca lengsernya  pemerintah orde baru. Gus Dur dengan berani membubarkan dua kementerian yatu Deparrtemen Penerangan dan Departemen sosial,  menghapus larangan menjalankan  tradisi  budaya tiongkok, mengganti nama irian menjadi papua. Gus Dur membangun kementerian HAM, mereformasi TNI, menggilir jabatan Panglima TNI, menjadikan Imlek  sebagai hari libur resmi, mengusulkan hubungan  diplomatik denganisrael, menghapus tap MPRS No. XXIX/MPRS/1966 yng melarang segala bentuk ajaran marxisme-leninisme.

Seperti layaknya sebuah perubahan, era Gus Dur ditandai dengan berbagai kegaduhan, perlawanan, bahkanpemberontakan. Belum lagi keributan di beberapa daerah, pengunduran diri dan pemecatan menteri secara mendadak, harga-harga yang tak terkendali. Namun perubahaan besar memang memerlukan tahapan pencarian karena mereka yang selama ini merasa nyaman dalaam tumpuk pemerintahan ingin mempertahankan staatus quo.
Hal ini serta merta  memunculkan ledakan-ledakan. namun terlepas dari semua kekagetan itu Gus Dur adalah sosok pemimpin perubahan yang pemberani, baahkan terlaalu berani  kaala itu. Memang, tanpa keberanian sulit membangun sesuatu yang baru.

Tak bisa dipungkiri perubahan selalu menimbulkan kegaduhan dan kritikan. Tapi selalu adaa dilema yang dihadapi dalam roses perubahan: betapa kita ingin berubah, tapi tidak mau diubah. Sebagian orang mengeritik memperbiki, sementara banyak yang justru menjadi pihak yang terdepan menolak perubahan karena pesimis bahwa toh perubahan itu pasti  akhirnya gagal.

Saat berada dalam pusaran perubahan, betapa kitaa justru  merasa menjadi pahlawan, jadi penantang perubahan ketimbang jaddi kawan. kita merasa berkata “tidak” pada penguasa jaauh leebih terhormat dari pada berkata “Ya”.

Dan fenomena perubahan  barangkali tengah dihaapi oleh Presiden SBY. Bedanya, gaya kepemimpinan SBY yang cederung hati-hati, kompromistis, dan tidak berani melawan arus sehingga cita-cita perubahan tidak berjaalan sebagaimana yaang dijanjikannya pada masa awal pemerintahannya. Selaain itu SBY juga menghadapi dilema kepemimpinan, dimana sikap masyarakat indonesia pasca reformasi yaang cederung pragmaatis. Mereka kerap mengangga pemimpin yang terlalu tegas melakukan perubaahan dianggap kaku dan otoriter, naamun seblknya bila pendekatan persuasif yang dilakukan, masyarakat menilainya terlalu loyo dan kompromistis. Serba salah memang ketika seseorang yang ingin menjadi presiden dizaman reformasi ini. (**)

Berita Miris Pagi Ini

pukul 05.00

seorang ibu renta menjadi tulang punggung  untuk keempat anaknya. bersama anak-anaknya pagi-pagi buta turun kepearapatan jalan menjajakan koran. suaminya meniggal setahgun lalu setelah lapak jualannya dirubuhkan oleh petugas

pukul 07.30

seorang bocah laki-laki berumur 12 tahun menjadi “orangtua” bagi ketiga adiknya. bekerja sebagai  buruh tani. ibu mereka diseret longsor batu saat menambang pasir. bapak mereka merantau ke kalimantan bekerja sebagai buruh pabrik kayu.

pukul 10.00

seorang anak remaja perempuan dan kedua adiknya. sejak lima tahun lalu, sambil sekolah, ketiga bocah itu harus bekerja bikin idep 9bulu mata palsu) untuk hidup sehari-hari. karena tekanan ekonomi. ibu mereka menderita gangguan mental sejak kelahiran anak bungsunya.

pukul 12.00

sekompulan mahasiswa berjibaku di bawah terik matahari. di bawah pengawasan ketat aparat keamanan mereka melakukan aksi protes atas rencana pemerintah menaikan harga BBM. beberapa rekan mahasiswanya terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena kena sundul popor aparat keamanan.

pukul 17.00

Warga turun ke jalan melakukan aksi menentang detik-detik penetapan kenaikan harga  BBM dengan menutup jalan dan membakar ban. jalanan macet, antrian kendaraan mengekor berkilo-kilo meter.

pukul 21.00

di gedung DPR para anggota dewan saling berdebat pantas tidaknya rencana kenaikan tarif BBM. lobi-lobi politik berjalan alot. sementara di luar gedung DPR para mahasiswa dan buruh adu jotos dengan aparat keamanan.

pukul 00.00

rapat paripurna DPR, melalui voting menyetujui rencana kenaikan tarif BBM. tercatat 388 anggota mendukung, 181 menilak. katanya ini suara rakyat?
dan nurani kita tak pernah tersadar. berita miris hari ini hanya sekadar gosip murahan. cukup dinikmati seperti tontonan sinetron sembari menyeruput  kopi hangat di pagi hari. dan setelah itu kita kembali tertawa terbahak. seolah tak pernah terjadi apa-apa hari ini.

Mendadak BBM

Kita tiba-tiba mendadak indonesia ketika harga BBM akan dinaikkan oleh pemerintah. Meski belum pasti, aksi penolakan begitu keras sampai-sampai para mahasiswa yang (katanya) memperjuangkan nasib rakyat harus berjibaku dengan hadangan aparat dan penolakan masyarakat.

atau jangan-jangan, seperti halnya para artis yang tiba-tiba mendadak jadi politisi, kita salah menggunakan momen ini untuk mendadak menjadi indonesia. Atau jangan-jangan kita mengidap penyakit bingung bernegara, meraba-raba dalam pekat. lalu kita mencoba main-main dadu dengan mengangkat para wakil rakyat yang bertingkah seperti selebriti itu menjadi pemimpin, menjadi negarawan yang konyol. Dan kita dengan rela menyerahkan nasib di tangan mereka.

atau jangan-jangan kita barangkali belum pernah mengenal baik siapa diri kita, dan tanah air yang juga kita punya. jangan-jangan pahaman realitas bangsa kita masih  berupa bayang-bayang kabur, dan kita masih saja terus membuat sejarah eksperimen bernegara dan tak pernah selesai.

atau jangan-jangan saya dan anda telah terjangkit penyakit purbasangka yang over dosis. Atau jangan-jangan kita memang hanya punya bakat bersandiwara dengan menjadikan negara ini sebagai panggung untuk memainkan skenario politik busuk. atau jangan-jangan kita memang tak pernah serius memikirkan negara dan para pemimpin negeri ini tak pernah serius mengurus negara. atau jangan-jangan...

ah… saya jadi pusing memikirkan semua ini. bahkan tak cukup sanggup untuk menghayalkan sebuah negara yang bernama indonesia ini yang rakyat dan pimpinannya tidak saling menipu,  tidak saling memusuhi dan tidak saling membunuh. (**)

Kolak-Jagung Titi

Menyambut bulan suci Ramadhan, umat islam di indonesia dengan suka cita menyambut bulan penuh berkah dengan aneka persiapan. salah satu persiapan yang tak ketinggalan adalah menyiapkan penganan atau menu khas untuk berbuka puasa bersama keluarga.
Untuk urusan menu khas, masing-masing daerah di indonesia tentu memiliki menu khas yang akan disajikan saat berbuka puasa. dalam urusan sajian menu khas untuk buka puasa selama bulan ramadhan, umat muslim di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya muslim lamaholot di kabupaten Flores Timur (Flotim) dan Kabupaten Lembata memiliki menu khas untuk disajikan saat akan berbuka puasa. salah satu menu khas muslim lamaholot adalah Kolak dan Jagung Titi. Kedua jenis penganan ini merupakan menu wajib yang selalu menjadi hidangan utama saat bernuka puasa bersama, baik di rumah maupun di mesjid atau langgar.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat muslim lamaholot, kolak dan jagung titi tak bisa dihilangkan dari kebiasaan. oleh karena itu, meski tahapan pembuatan menu khas ini tak membutuhkan waktu yang lama, namunbiasanya jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan suci ramadhan, inak-inak (ibu-ibu) muslimah lamaholot biasanya sudah menyiapkan penganan jagung titi yang disimpan dalam belik (kaleng biskuit) untuk persediaan  selama bulan ramadhan. Sedangkan penganan kolak, biasanya dimasak dan kemudian disajikan  jelang waktu berbuka puasa tiba.beberapa jam

Biasanya di luar bulan ramadhan penganan jagung titi disajikan bersama kacang tanah yang telah disangrai untuk sarapan pagi  sebagai pelengkap teh atau kopi hangat. namun di bulan ramadhan penganan jagung titi disajikan bersama penganan kolak manis yang masih hangat.
proses penyajian jagung titi dan kolak ini juga cukup unik. saat berbuka puasa, jagung titi dan kolak disajikan terpisah. namun ketika disantap, kedua menui ini dicampur. caranya, kolak manis yang masih hangat dalam piring, dicampur dengan jagung titi yang gurih.

Untuk mendapatkan sensasi percampuran rasa yang nikmat, jagung titi yang dicampurkan dsengan kolak kemudian diaduk dengan sendok makan sampai rata. setelah adukan sudah rata, menu langsung bisa disantap. cara menyantap menu khas ini cukup praktis sehingga sama sekali tidak terkesan ribet.

Buat anda yang mungkin ingin menjelajah guna mencicipi kuliner khas nusantara, ada baiknya momen bulan suci ramadhan ini bisa dimanfaatkan untuk menikmati kolak dan dan jagung titi yang merupakan menu khas muslim lamaholot dikala berbuka puasa.
masih banyak menu khas muslim lamaholot yang bisa dinikmati saat sajian berbuka puasa seperti aneka penganan berupa kue. penganan kue-kue khas muslim lamaholot yang bisa dinikmati di antaranya; kue bapen, kue juada, kue senole, dan kue putu. Semua jajanan kue ini menggunakan bahan dasar berupa tepung singkong dan tepung jagung. (**)